Enam tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu, Bapak telah menjadi lebih dari sekadar seorang Duta Besar. Bapak adalah sosok pemimpin, sahabat, sekaligus keluarga bagi kami semua di KBRI Rabat dan masyarakat Indonesia di Maroko serta Mauritania.
Selama kepemimpinan Bapak, kami telah belajar banyak dan berusaha bersama dalam mempererat hubungan diplomatik antara Indonesia, Maroko dan Mauritania. Bimbingan dan arahan Pak Dubes kepada kami dalam menjalankan misi diplomatik, telah membuka banyak peluang kerja sama dan persahabatan antarbangsa.
Terima kasih atas segala dedikasi, kebijaksanaan, dan keberkahan di setiap langkah ke depan. Kami akan selalu mengenang segala kebaikan dan kepemimpinan Bapak.
Rangkaian kata di atas merupakan ungkapan tulus para pegawai dan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rabat Maroko, saat Drs H Hasrul Azwar MM mengakhiri pengabdiannya sebagai Duta Besar pada Februari 2026 yang lalu.
Sangat wajar para staf dan pegawai di Kedutaan RI di Maroko tersebut merasakan kehilangan sosok pemimpin yang smart, humble dan multitalent seperti Hasrul Azwar, yang sudah lebih enam tahun menjadi figur ayah, atasan sekaligus panutan bagi mereka.
Istimewa
Seperti diketahui, masa tugas Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia di luar negeri umumnya berkisar antara 3 hingga 5 tahun. Sesuai peraturan, penugasan luar negeri pertama maksimal 3,5 tahun, dan penugasan berikutnya maksimal 4 tahun, namun dapat berakhir lebih cepat atau diperpanjang berdasarkan kepentingan negara dan hak prerogatif Presiden.
Dari sejumlah data perjalanan masa tugas para Dubes Indonesia di luar negeri, rata-rata hanya sekitar tiga hingga lima tahun, bahkan ada juga yang di bawah itu. Tetapi Hasrul Azwar memang sebuah pengecualian, he’s one and only.
Dipercaya mengemban tugas sebagai Duta Besar lebih dari enam tahun, tentu bukan hal yang mudah dilakoni. Itu dimungkinkan terjadi, karena sang Dubes memiliki kompetensi dan value added yang membuatnya menjadi sosok istimewa, special one bak Jose Mourinho.
Kesuksesan transformasi Hasrul Azwar dari salah satu bintang di Senayan menjadi legendary ambassador memang jauh dari ekspektasi banyak kalangan. Sama halnya ketika banyak pihak meragukan kelayakannya menjadi politisi handal, karena latar belakang pendidikannya (Fakultas Syariah IAIN Sumut).
Tanpa bekal pendidikan di bidang ilmu politik serta pengalaman bekerja di institusi pemerintahan, Hasrul justru mampu menjalankan tugasnya sebagai Duta Besar dengan sangat baik, melebih ekspektasi banyak pihak, dan karenanya pula tidak terlalu berlebihan pula jika suami Sri Wahyuni ini, layak disebut sebagai legendary ambassador.
Ya, memang itulah nilai plus Hasrul, yang tidak dimiliki orang lain. Di manapun berada, dia selalu memberi warna dan pengaruh cukup dominan. Saat melakoni karier panjang sebagai politisi PPP, dia tidak sekadar hadir, melainkan tampil menjadi sosok leader yang mumpuni.
Terbukti di masa kepemimpinannyalah DPW PPP Sumut paling sukses dan disegani, yang menghantarkannya menduduki kursi wakil ketua DPRD Sumut. DPP PPP juga diperhitungkan di pentas politik nasional, saat Hasrul menjabat wakil ketua umum dan ketua fraksi di DPR RI.
Legacy
Ketika mantan aktivis HMI, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris ini tak lagi aktif di DPP PPP, partai berlambang Ka’bah pun tergusur dari Senayan dan DPW PPP Sumut yang dulu dibesarkannya, kini terpuruk dan remuk redam.
Kondisi terkini partai yang pernah dibesarkan dan membesarkan namanya itu, pastilah memunculkan rasa keprihatinan dan kegalauan mendalam bagi Hasrul.
Tapi, hampir bisa dipastikan pula, hal itu bukan menjadi faktor utama, jika sosok yang hobi bermain sepakbola ini, selanjutnya bertransformasi menjadi pendidik, mengisi hari-harinya dengan mengelola institusi pendidikan, Yayasan Pendidikan Khairul Imam, yang dulu didirikannya bersama istri tercinta, Hj Nani Muliani (almh).
Hasrul memang sudah memasuki fase akhir perjalanan kariernya yang panjang, penuh liku dan bervariasi. Tapi satu hal yang pasti, dia juga telah mewariskan legacy positif, baik sebagai politisi, diplomat maupun pendidik.
Syukran katsir. Thank you Mr Hasrul Azwar, your legacy always be remembered.


















