Konon kabarnya hidup ini adalah proses dari kelahiran kemudian kehidupan lalu akan menjalani kematian. Di antara itulah kita memiliki pengalaman yang satu dengan lainnya berbeda, padahal pada bumi yang sama, dengan matahari yang sama. Sama-sama berkendaraan di jalan raya namun ada yang beda salah satunya adalah berhenti mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) ada yang meneruskan perjalanan tanpa hambatan.
Antri itulah kata yang akhir-akhir ini sangat akrab di dengar, selama ini antre cukup dua atau tiga kendaraan di depan lalu dapat giliran. Tetapi fenomena hari ini justru antre dua puluh atau tigapuluh mobil didepan malah jadi pandangan yang biasa. Antrean akhirnya menjadi masalah karena terkuras waktu, bahkan tenaga.
Pak Marmuj kali ini mengantre mengisi BBM bio solar hampir dua kilometer, menurut perhitungan boleh jadi dua jam atau lebih. Itu pun bersyukur kalau masih dapat BBM. Tidak ada yang tahu persis sampaikan antrean ini ada di negeri yang konon kabarnya kaya bahan sumber daya alam, negara yang berumur sudah tua.
Didalam mobil Pak Marmuj mencoba menghilangkan kejenuhan, maka diskusi tentang topik Antre datang begitu saja.
Pak Marmuj; Hem…..antre-antre lagi.
Sebenarnya antre itu memang melelahkan, tetapi bisa diatasi, bila dinikmati waktu dengan kegiatan yang menyenangkan.
Pak Marse; kegiatan apa pak contohnya.
Ya kalau di mobil begini kita antre bisa cerita, atau mendengar musik.
Pak Marse; pak ada anter yang lebih lama lagi.
Pak Marmuj; ada ini kita mendengar ada sekolah favorit katanya untuk mendaftar di sekolah tersebut harus antre 2-3 tahun. Artinya tiga tahun lagi sudah didaftarkan anaknya untuk mendapatkan no.induk atau bangku. Hem.. luar biasa. Di sudut desa ada sekolah yang ingin mendapatkan murid baru, di tengah kota justru masyarakat yang antre ingin mendapatkan bangku baru. Memang luar biasa antre daftar sekolah ya.
Sesekali Pak Marmuj menginjak gas, beberapa mobil bergerak menunggu giliran dilayani SPBU, ya mungkin masih jauh lagi, tak mengapalah.
Pak Marse; pak ada lagi rupanya yang lebih lama?
Pak Marmuj; ada itulah antre untuk berangkat haji, bahkan konon sampai 20 bahkan 30 tahun.
Mak Marse; maksudnya pak?
Pak Marmuj; ya maksudnya kalau kita mendafatar hari ini untuk berangkat Haji, maka kita antre masih banyak saudara kita yang sudah daftar duluan tetapi mereka belum bisa diberangkatkan. Karena ada sistem yang mengatur boleh jadi kita menunggu antre 20 sampai 30 tahun ke depan baru bisa berangkat.
Pak Marse; ha……yang benar pak? Tetapikan ibadah Haji bagi yang sanggup dan mampu saja ya pak.
Pak Marmuj; ya maksudnya sanggup dan mampu antre.
Pak Marse dan Pak Marmuj merasakan walau sudah cerita, namun belum juga sampai ke areal SPBU, jelas karena memang dua sampai tiga kilometer boleh jadi setelah hampir dua jam baru mulai mendekat antrean. Kepalang tanggung lapar sedikit ditahankan masih bisa, haus terasa karena panas diluar juga dapat ditahan, namun yang mau keluar ini sulit diajak kompromi.
Pak Marmuj; sebenarnya soal antre ini memang bukan hanya masalah pendaftaran, bukan hanya persoalan kesediaan barang, ada juga masalah lain.
Pak Marse; masalah apa contohnya pak.
Pak Marmuj; nah ini dia….saya pernah baca katanya antre harus mendahulukan siapa yang lebih awal mendaftar, tetapi kalau yang satu ini siapa lebih dari yang lain.
Pak Marse; wah ini baru tepat pak, saya mau yang ini bayar pun mau yang penting duluan dilayani.
Pak Marmuj; ya yang satu ini walaupun banyak yang antre, bahkan mau pejabat, atau rakyat biasa, bahkan guru atau muridnya, kita bisa saja dulu dilayani walaupun paling akhir mendaftar.
Pak Marse semakin penasaran.
Pak Marse; ia pak….antre apa itu ya?
Pak Marmuj; sabar…….
Hampir dua jam, akhirnya mobil Pak Marmuj pun sampai di SPBU untuk dilayani mendapatkan giliran pengisian BBM Bio Solar. Tepat di dua mobil di belakang mereka petugas SPBU menyilangkan tangannya kepada sopir truk, sebagai isyarat bahwa BBM telah habis stok.
Setelah keluar dari area SPBU, pak Marmuj dan pak Marse bersyukur dan juga bersedih campur aduklah….kasihan kepada rekan lain yang masih antre tetapi tidak mendapatkan BBM hari ini.
Tetapi apa yang tertinggal tadi, adalah pak Marse tetap penasaran.
Pak Marse; ingat pak…..tadi ada yang nggantung antre yang dapat layanan khusus bisa didulukan itu antre apa pak, saya pingin juga ini.
Pak Marmuj; itulah antre siapa paling darurat sakit untuk dilayani di ruang ICU.
Pak Marse; (_*H){J<:LI&_Y^*T &(“G{LV?B>
oalah…..Pak Marmuj…..Pak Marmuj….memanglah.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; hidup ini adalah sebuah perjalanan semua pasti mendapat giliran, boleh jadi saudara kita hari ini yang dapat giliran duluan, satu saat kit yang dapat kesempatan.
Kedua; antre itu adalah cara kita menertibkan untuk mendapatkan kesempatan, bila sendiri antre itu memang masalah maka sebaiknya bersama antre sesuai pendaftaran. Maka antre bukan persoalan mental diri, tetapi budaya masyarakat.
Ketiga; bersyukurlah kita masih diberi waktu untuk antre, karena dengan waktu tersebut kita dapat melakukan hal yang bermanfaat, bayangkan kita semua hari ini sedang antre dipanggil oleh Tuhan, sepertinya tidak ada yang mau duluan.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















