Panas terik mengudara di atas sekolah, bahkan kegerahan menembus dinding kelas, semua warga sekolah seakan tak sanggup melawan hawa. Walaupun AC, kipas angin sampai kipas tangan semua dihidupkan, tetapi tak ada yang mampu memberi kenyamanan di siang itu. Ditambah riuh kegembiraan, sorak dan tepuk tangan seakan bersahut-sahutan itulah suasana perpisahan kelas 6 tempat Pak Marmuj mengajar selama ini.
Mendadak ramai acara perpisahan melebur menjadi tumpah dalam keramaian ada senang bercampur haru, ada canda bersanding tawa, bahkan sedih mengiringi setiap sapa.
Murid kelas 6 sudah enam tahun belajar di sekolah, banyak rasa dididik, diajar dibina kadang dimarah seakan tak ada beda. Inilah belajar di sekolah dasar, beberapa guru punya pengalaman haru pada murid tertentu, beberapa murid justru punya pengalaman sama kesal dengan guru yang kelasnya.
Oh….inilah sekolah terasa masih ada di depan mata bagaimana takutnya masuk sekolah di awal kelas satu, kini gembira dan sedih meninggalkan sekolah setelah menamatkan satu jenjang pendidikan.
Acara perpisahan dimulai, Pak Marmuj mewakili guru memberikan sambutan menyampaikan pengalaman dan pesan. Awal pembicaraan biasa saja, bahkan sambutan kalimat tahun lalu diulang masih sama rasanya. Namun ketika ia menyampaikan pantun semua jadi serius hening dan….
Pak Marmuj;
Tanam kebun indah berjajar
Empat sisi lima searah
Enam tahun kita belajar
Saatnya kini kita berpisah
Murid; cakeeeep.
Pak Marmuj;
Halaman sekolah berhias warna
Karangan bunga pengganti doa
Harapan sudah dibayar kata
Doa guru tak ada guna
Murid; diam…………….
Tanpa basa-basi lain, Pak Marmuj mengakhiri pantun dan langsung duduk di antara para guru. Dari riuhnya suasana seakan terhenyak mendadak diam, kata-kata terakhir dari pantun “Doa guru tak ada guna” seakan memberi sinyal guru sudah tidak dibutuhkan lagi.
Bisikan dari tempat duduk belakang seorang murid terdengar; mungkin Pak Marmuj sudah mau pensiun…..
Murid; hus……….
Tak lama kemudian kepala sekolah menyampaikan sambutan perpisahan.
Kepala sekolah;
Anak-anak kami, para guru dan orang tua sekalian.
Kami ucapkan selamat karena semua dapat menyelesaikan studi di sekolah kita selama enam tahun.
Kami atas nama guru minta maaf bila selama enam tahun terdapat kekhilafan dan itu pasti.
Kami mendoakan semoga anak-anak semua dapat melanjutkan belajar ke SMP atau Madrasah Tsanawiyah. Benar kata Pak Marmuj, bila karangan bunga sudah menjadi pengganti, mungkin doa kami sudah tidak perlu lagi.
Terima kasih.
Semua murid, guru dan orang tua semakin hening, ada apa dengan karangan bunga mengapa doa ucapan selamat dan berpisah menjadi masalah.
Salaman kepada para pendidik yang dihormati setelah guru berbaris di depan, semua murid satu persatu bersalaman, berpelukan bahkan air mata mengiringi rintih suara keduanya.
Setelah duduk seorang guru bertanya pada Pak Marmuj.
Guru: ada apa pak dengan karangan bunga.
Pak Marmuj; kamu tahu apa itu karangan bunga yang berjajar di halaman sekolah itu.
Dalam wikipedia; karangan bunga adalah salah satu kesenian berupa menyusun bunga-bunga segar menjadi suatu kesatuan yang indah. Karangan bunga biasanya digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu, seperti perayaan, pernikahan, hingga suasana duka. https://id.wikipedia.org/wiki/Karangan_bunga
Guru: lho….memang apa ada yang salah pak?
Pak Marmuj; ya….kita ini perayaan tidak, pernikahan tidak, apakah kita ini memang suasana duka.
Guru; oh….ya…..sudahlah pak mungkin ada yang berduka dengan perpisahan ini.
Pak Marmuj; bukan itu saja…ayo lihat.
Sambil berdiri Pak Marmuj menarik tangan guru untuk membaca satu karangan bunga yang ada di depan gerbang sekolah.
“Kami ucapkan turut berduka atas perpisahan kelas 6 SD”
Ya Tuhan……ini dari siapa.
Guru; sungguh kita tidak tahu pak sabar-sabar..
Pak Marmuj; ya sabar……. saya guru kelas 6.
Hem…Pak Marmuj……Pak Marmuj…..sabar ya pak.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; hidup bersama, belajar bersama pasti memiliki pengalaman dan kenangan untuk tidak dilupakan, maknailah semua itu bagian dari perjalanan hidup yang bernilai bagi masa depan.
Kedua; berpisah dengan teman satu saat kita akan jumpa lagi, berpisah dengan guru kita tetap satu dalam hati dan utamanya doa yang kita minta.
Ketiga; tidak ada bekas guru yang ada adalah murid akan selamanya membutuhkan bimbingan dan pengarahan kapanpun dan kemanapun kita melangkah. Semakin banyak guru kita semakin berkah bila kita juga mendoakan mereka.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita mencari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber



















