Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Pantun, peribahasa, gurindam, pepatah merupakan tradisi yang sangat mendukung termotivasinya para orang tua untuk menyekolahkan anak.(Mahmud Azis Siregar, 1996).
Menyampaikan pesan tidak mesti dengan ucapan, menanamkan nilai tidak harus dengan teladan, mendidik anak tidak mesti dengan kurikulum atau persekolahan. Lalu dengan apa?
Dengan apa saja yang ada di tengah masyarakat, di mana media penyampaian telah menyatu dalam sistem kehidupan mereka. Seperti pantun, peribahasa, gurindam atau pepatah. Media seperti ini terkesan tradisional, terkesan kuno, akan tetapi justru itu yang memiliki kekuatan pada masyarakat tertentu karena melekat pada kebudayaan.
Pendidikan akan kaya bila dibantu oleh media media rakyat yang beragam. Apa pun pesan disampaikan, bila media dikembangkan sesuai dengan keadaan masyarakat, maka itu akan lebih mudah diterima dari pada media yang sulit, rumit bahkan terkesan eksklusif.
Seperti halnya media pantun, yang tak memerlukan arus listrik, sehingga dalam keadaan apa pun dapat disampaikan.
Pendidik inspiratif memandang, penyampaian ide atau pesan pesan pendidikan harus diperkaya dengan berbagai media, apakah itu media yang dibuat (by design) maupun media yang dimanfaatkan (by utilization).
Media-media tertentu seperti pepatah di tanah melayu sangat efektif untuk menyampaikan pesan tentang hubungan bermasyarakat, tentang hidup berkeluarga. Begitu juga mendidik, bila ceramah dan terbelenggu di balik dinding kelas saja, maka pendidikan akan semakin kecil dan terbatas.
Pendidik inspiratif adalah mereka yang kreatif terhadap media media lain dalam mengembangkan pembelajarannya, tetapi dengan cara bertanggungjawab.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















