Bagi kaum tarekat, inti beragama adalah pengalaman ketuhanan, pendekatan diri kepada Allah dipandang sebagai usaha terpenting dalam hidup. Bagi mereka, zikir merupakan amaliah utama, tak seorang pengikut tarekat boleh meninggalkannya, dan bahkan harus dilakukan secara rutin dan terstruktur. Zikir juga dipandang sebagai sarana memperoleh maqam tinggi yang harus dilakukan secara sistematis, intens, dan terstruktur, baik oleh murid pemula maupun mereka yang sudah lama menjadi pengikut.(Ahmad Amin Aziz, 2020:166).
Semua kita ingin bahagia, bahkan bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, tidak ada yang membantah, sampai-sampai definisi bahagia pun tidak perlu didiskusikan karena sudah final. Yang belum final adalah bagaimana cara mencapai kebahagiaan tersebut?
Tentu lewat ibadah sebagai bukti kita menjadi orang terdepan dalam menciptakan kebahagiaan diri, kebahagiaan di hadapan Tuhan, tetapi ini disanggah oleh kaum materialistis, bahagia itu adalah adanya kecukupan dalam menjalani hidup, tersedianya seluruh sarana dan fasilitas.
Tidak ada yang berhenti semua ingin mencari pengaruh, tentang jalan kebahagiaan ini. Pada titik tertentu seseorang yang ingin bahagia kembali pada dirinya sendiri, apakah ia telah mendapatkan lewat perenungan, atau harus berbagi pada orang lain.
Dalam kajian spritual khususnya jalan tarekat, maka pendekatan diri kepada Allah juga dilakukan dengan cara menyucikan, mendidik, dan mengembangkan nafs di bawah bimbingan mursyid.
Mursyid itu sendiri mereka pandang sebagai waliyullah, yang mengetahui wilayah batin para muridnya, dan yang selalu terkoneksi secara aktif melalui rabitah dengan para guru dalam silsilah tarekat di atasnya. Menjadi hal yang sangat menonjol hubungan antara tarikat dengan mursyid, bahkan kedudukan mursyid itu sendiri adalah bagian dari maqam tarikat.
Tawaran mencapai kebahagiaan lewat tarikat tidak pernah berhenti bahkan secara laten terus mendapat tempat di kalangan masyarakat. Mereka memandang bahwa tentang ketuhanan dan kedudukan mursyid dapat dikatakan seragam, tidak ada perbedaan pemikiran yang mengemuka secara signifikan.
Persamaan pandangan itu dipengaruhi oleh teks keagamaan, ajaran tarekat, dan pemikiran mursyid. Dalam konteks ini latar belakang sosial dan kehidupan pengikut tarekat tidak membuat pandangannya dalam soal itu berseberangan satu dengan lainnya.
Pandangan teologis yang mereka konstruksikan memiliki basis ideologis mendalam yang terbungkus dalam subsistem kelembagaan tarekat yang kuat, bahkan hingga sang mursyid sudah wafat.
Di sinilah kadang terjadi mengkultuskan terhadap manusia ciptaan Tuhan, demi mursyid jamaah merelakan material untuk dikorbankan. Bahkan demi mursyid hampir tertutup dialog tentang jalan menuju kebahagiaan lainnya.
Walaupun tidak mau disebut taklid, tetapi pengaruh mursyid sangat berarti karena inilah kekuatan tarikat dari guru, murid dan penerusnya sampai sekarang. Di atas kekuarangan ini paling tidak inilah salah satu jalan menuju kebahagiaan yang terbukti menjadi pilihan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















