Ilmu tasawuf di Nusantara tidak dapat dipisahkan dengan sosok hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al Ghazali. Ia dikenal sebagai mujaddid Islam abad ke-5 Hijriah. Ia mendirikan tarekat Ghazaliyah, hanya saja tarekat ini kurang begitu populer di Nusantara, meskipun ajaran al Ghazali itu sangat melekat bagi umat Islam di Nusantara. (Amirul Ulum,2023:1).
Perbedaan harta dan ilmu adalah, harta manusia yang menjaganya, sementara ilmu ia yang menjaga pemiliknya. Jadi bila kita punya ilmu tentang harta, maka kita akan diarahkan bagaimana menjaga harta sesuai dengan ilmu yang kita miliki.
Begitu pula bila kita memanfaatkan harta untuk mendapatkan ilmu maka akan terjaga dengan baik dan mungkin saja tidak akan kehilangan harta tersebut. Sungguh harta dan ilmu keduanya selalu terkait dalam kehidupan siapapun di antara kita.
Memelihara ilmu dapat diartikan menjaganya, dan juga memelihara untuk mendapatkan berkah. Lahirnya seorang ilmuwan dapat diawali dari belajarnya seseorang, tuntutan keadaan, atau situasi yang membutuhkan seorang penyelamat bangsa.
Teori pertama seorang yang belajar dengan tekun maka ia akan mendapatkan hasil yang baik yakni ilmu yang berkah. Teori berikutnya adapula saudara kita belajar karena untuk mendapatkan gelar, yang akan dipergunakan untuk jabatan. Teori-teori belajar kemudian muncul menjadi satu orang untuk mendapatkan tujuan yang lain.
Seorang ilmuwan yang pikirannya melampaui zaman salah satunya adalah Muhammad Al Ghazali. Boleh jadi beliau tidak terkenal pada masanya, tetapi disisi belahan dunia lain, atau diwaktu setelahnya justru Al Ghazali menjadi penting.
Mengapa ini terjadi, mungkin saja karena ilmu yang dipelajari, dikembangkan dan diwariskan oleh Al Ghazali memang dibutuhkan oleh manusia pada masanya. Al Ghazali dan ilmu Tarekat memang sebagian tidak mengenalnya, tetapi justru ini yang menjadi bagian penting dari ilmuan dan menjaga keberkahan.
Menurut catatan bahwa; diantara dasar-dasar tarekat Ghazaliyah adalah sebagai berikut:
1. Niat yang sungguh-sungguh
2. Beramal karena Allah swt, tanpa menyekutukan-Nya.
3. Selaras, sesuai dengan kebenaran secara lahir batin, tidak menuruti dorongan nafsu, menjauhkan nafsur dari kesenangannya.
4. Beramal dengan mengikuti nabi Muhammad saw.
5. Tidak menunda-nunda keinginan yang luhur
6. Salik harus merasa lemah dan nina.
7. Khauf dan raja secara maknawi.
8. Terus memiliki hak-hak baik hak Allah swt, atau hak bahma.
9. Melanggengkan muraqabah kepada Allah swt.
10. Salik harus mengetahui sesuatu yang wajib bagi dirinya.
Jasa dan peran Imam al Ghazali dalam menyebarkan ajaran Madzhab Syafi`i dengan model ilmu tasawuf melalui beberapa karyanya yang diamini oleh mayoritas ulama dari belahan dunia, khususnya Indonesia yang ajarannya sudah mendarah daging.
Ilmuan Amirul Ulum mencoba memberikan catatan bahwa; berkah al-Ghazali maka fiqih Syafi`i dapat mendarah daging membumi di daratan nusantara. Akarnya sangat kokoh sekali.
Oleh karena itu, maka tidak mengherankan jika ada ulama yang menguasai keilmuan tasawuf dan fiqih dengan mumpuni yang bersumber dari kitab-kitab al-Ghazali, maka mereka sering disebut dengan alGhazali al-Shaghir (Imam Ghazali Kecil), di antara ulama Nusantara yang mendapatkan gelar tersebut adalah Kiai Sholeh Darat al-Samarani, Syaikh Ihsan al-Jampesi, dan Syaikh Abdullah ibn Nuh.
Sungguh antara ilmuwan, ajaran, dan keberkahan selalu menjadi indikator bagaimana seseorang mendalami Al Qur`an, menelaah dan mengajarkannya sampai menuliskannya dalam buku. Semua yang dilakukan tercatat dalam sejarah, bahkan geneologinya terus terpelihara sebagai bagian dari memelihara keberkahan tadi.
Akhirnya mari kita menjadikan ilmu sebagai bagian dari kegiatan untuk mencari keberkahan, karena dengan ilmu kita akan terpelihara khususnya terpelihara dari tingkah laku yang tidak baik.
Marilah kita jadikan diri kita sebagai harta yang dapat mendorong untuk beramal, karena tidak ada harta yang paling baik kecuali anak didik yang kita ajarkan dengan ilmu yang berkah.
Semoga ilmuwan seperti Al Ghazali, Imam Syafi`i dan Amirul Ulum dapat kita pelihara sebagai bagian dari kekayaan khazanah ilmu pengetahuan yang penuh berkah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















