Penilaian hasil belajar mengajar merupakan sebuah proses yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Oleh sebab itu, penilaian hasil belajar mengajar itu berkaitan satu dengan lainnya karena hasil merupakan akibat dari proses. (Beni S.Ambarjaya, 2009:15).
Ketika seorang pendidik pertama kali jumpa dengan peserta didik di awal semester, biasanya dilakukan dengan perkenalan salah satu tujuannya untuk mengetahui lebih jauh latar belakang pendidikan, keadaan keluarga, kondisi lingkungan dan lainnya.
Bukan tidak banyak juga mengidentifikasi bakat dan kemampuan yang dimiliki sampai pada minat bahkan hobi serta komunitas apa yang sedang dialami.
Semua ditujukan untuk mengenal lebih dalam apakah peserta didik siap mengikuti pembelajaran yang akan dilaksanakan selama empat bulan lebih dengan berbagai strategi dan lingkungan.
Identifikasi awal dalam pembelajaran itu penting, karena dengan ini kita akan mengetahui dimana titik start untuk memulai pembelajaran, sekaligus penetapan tujuan permanen.
Seorang pendidik harus menyadari bahwa sebaik apapun pembelajaran yang dikembangkan semua harus tertuju pada adanya perubahan akibat perlakuan yang disengaja. Dengan kesengajaan inilah maka akan dapat diukur, diprediksi dan akhirnya dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Beni S. Ambarjaya ada empat hal penting terkait dengan penilaian sebagai sebuah proses dalam kegiatan pembelajaran yakni sebagai berikut:
Pertama, penilaian hasil belajar mengajar itu berkaitan satu dengan lainnya karena hasil merupakan akibat dari proses. Hal ini harus disadari sejak awal oleh pendidik, dimana ia telah menyiapkan form atau portofolio penilaian dari mulai pembelajaran dilakukan, dengan cara itu akan memudahkan mengetahui pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
Kedua, tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembagian tiga ranah di atas adalah pilihan yang dapat membantu bagaimana memilah bidang-bidang yang tumbuh dan berkembang sebagai sebuah perubahan akibat pembelajaran. Sesungguhnya lebih dari itu perubahan dapat terjadi, namun untuk memudahkan taksonomi ketiga ranah di atas dapat membantu pendidik khususnya untuk perubahan akademik.
Ketiga, hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Sepintar apapun pengetahuan yang diperoleh kadang tidak dapat digunakan dalam bergaul, walaupun keahlian tertentu dimiliki sebagai hasil dari belajar keterampilan belum tentu dapat dimanfaatkan untuk semua kondisi, bahkan kebaikan yang didapatkan dalam berinteraksi belum tentu bermanfaat untuk semua orang. Maknanya ketiga hal diatas harus disatukan dalam sebuah keadaan pada peserta didik yakni perubahan yang terukur, berlanjut dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, penilaian hasil belajar mengajar merupakan sebuah proses yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar. Bila pembelajaran dilakukan dengan sengaja, maka pengukuran dapat dilakukan secara tepat apakah perubahan terjadi atau tidak, sedikit atau banyak bahkan bermanfaat atau justru membahayakan. Semua hal yang disengaja dapat dicatat dan kemudian menjadi bagian penting untuk melihat langkah berikutnya.
Jadi jelas penilaian itu adalah memberi informasi apakah pembelajaran telah berjalan sesuai dengan kaidah seperti menggunakan strategi yang efektif, penggunaan media yang efisien, atau pemanfaatan waktu dan ruang yang fleksibel dan lain sebagainya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















