Model pelatihan nilai menawarkan kesematan bagi setiap individu untuk bekembang sesuai dengan kapasitasnya sendiri, usaha dan jenis pembelajaran yang diinginkan dimana setiap dimensi dan jalan pengetahuan diberikan nilai yang sama dan bobot yang sama untuk setiap teruji dan juga penghubung. (Diane Tillman, 2004:36).
Mengajarkan sesuatu pada seseorang tujuannya jelas adalah agar ia dapat mengetahui, kemudian memahami dan akhirnya dapat dijadikan bagian dari kehidupannya. Melatihkan satu keterampilan pada seseorang tujuannya nyata dan dapat diukur yakni dia dapat melakukannya kemudian menjadi keahlian dan ujung-ujungnya menjadi bekal untuk mendapatkan keberuntungan.
Namun ada hal yang lebih utama mencontohkan sesuatu dengan diri sendiri sebagai model pada seseorang tujuannya lebih lebih mulia yakni agar dari mereka kita dapat meneruskan satu amalan yang baik, dan berkelanjutan.
Hal apa saja yang kita ajarkan, atau kita latihkan diharapkan menjadi bagian dari kehidupan seseorang dan secara terus menerus diamalkan. Namun bagaimana ini dapat terjadi tentu harus direncanakan dengan saksama, sesuai dengan hukum pendidikan, pelatihan bahkan contoh teladan.
Menurut Diane Tilman sedikitnya da tiga bagian penting yang menjadi prinsip dalam pengembangan pengetahuan seseorang yakni sebagai berikut:
1.Logika otak dan pembelajaran linier serta usaha individu sama banyaknya dengan pembelajaran kreativitas, imajinasi, gagasan, dan holistik.
Ketika kita mengajarkan sesuatu maka harus dipahami apakah hal ini terkait dengan pengetahuan, keterampilan, atau nilai yang menjadi sikap dan kepribadian. Logika otak memang sarat dengan kognitif, tetapi akan menjadi sia-sia bila tidak diterapkan ketika kita belajar, kemudian menganalisis apalagi membuat keputusan. Jadi tidak hanya sekedar belajar berfikir dengan logika tetapi beri kebebasan untuk melakukan yang lebih baik menurut dirinya, disana akan lahir kreativitas, bahkan imajinasi, atau gagasan yang original. Inilah yang mungkin menjangkau apa yang sedang dialami, bahkan apa yang akan terjadi.
2.Suatu pengetahuan dan penghargaan akan subjektivitas keberadaan manusia sama seperti pengukuran objektif.
Kumpulan pendapat itu akan menjadi pendapat yang banyak, dan akhirnya kebanyakan menjadi kecenderungan dari sinilah kita akan menemukan trend atau peluang bahkan kemungkinan yang lebih besar. Jadi pendapat seseorang boleh jadi subyektif pada tahap awal, namun ketika disampaikan dengan alasan yang lebih umum, maka akan menjadi obyektif. Bagaimana pendapat subyektif menjadi penting, maka berani mengemukakan, kemudian dukungan angka, data dan fakta, akhirnya disana obyektifitas lahir sebagai kebenaran.
3.Nilai akan pembelajaran emosi dalam individu sama banyaknya dengan pembelajaran kognitif.
Keahlian seseorang awalnya dari kemampuan mengetahui, memahami dan menganalisa, namun akhirnya adalah menemukan makna dari apa yang dipelajari. Emosi selalu mengiringi dari apa yang kita putuskan, apakah terkait dengan alam semesta, dengan kehidupan, bahkan dengan diri sendiri.
Jadi belajar kognitif itu penting, namun akhir dari pembelajaran itu yang lebih utama yakni mengasah agar emosi menjadi terkendali, begitu juga sebaliknya.
Intinya apapun yang kita pelajari, bagaimanapun cara mendapatkannya semuanya akan bermuara pada makna yang akan dirasakan untuk kehidupan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















