Tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja, serta memiliki makna perwujudan kesadaran akan kewajiban melaksanakannya. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Dalam perspektif pendidikan Islam, tanggung jawab pendidikan Islam dilaksanakan oleh kedua orang tua, guru, sekolah, lingkungan sekitar, pemerintah dan pihak lain yang berkepentingan dalam dunia pendidikan. Beberapa aspek tanggung jawab pendidikan Islam yang sangat diperhatikan adalah pendidikan tauhid (iman), akhlak, fisik, akal, kalbu (psikis), sosial dan pendidikan seksual. (Fathkurrohman, 2020).
Kita lahir di muka bumi kemudian hidup tidak sendirian, paling tidak kita memiliki orang tua, dan kemudian kita punya teman, lantas kita punya anak dan keturunan.
Boleh saja kita menjadi tanggung jawab orang tua sampai dewasa, mungkin saja kita belajar bertanggungjawab bersama teman sebaya, dan yang pasti kita wajib bertanggungjawab terhadap anak dan keturunan kita.
Hidup itu pasti, bertanggungjawab itu adalah pilihan, tetapi memilih secara pasti itu adalah bagian dari kehidupan kita inilah yang penting.
Oleh Fathkur Rohman memberi pengantar bahwa; tanggung jawab merupakan kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja, serta memiliki makna perwujudan kesadaran akan kewajiban melaksanakannya.
Bagaimana kita mengerti apa yang dilakukan orang tua terhadap kita, semuanya baik-baik saja karena otoritas kompetensi ada pada mereka.
Tentang perbuatan rekan atau saudara kita selama berhari-hari kita bersama belum tentu karena kita sama-sama memiliki kompetensi, akhirnya bagaimana pula kita memberikan ukuran kebaikan pada anak kita perlu dipertanyakan.
Semua yang kita lakukan, baik pada sikap maupun tindakan akan memiliki konsekuensi, paling tidak ada dampak yang terjadi.
Untuk itu sekali lagi ditegaskan bahwa; manusia merasa bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya.
Kita diajarkan untuk mempunyai tanggungjawab utamanya untuk diri sendiri, apakah itu diberi orang tua atau tidak, apakah itu dipentingkan oleh teman atau tidak, atau dibutuhkan oleh anak atau tidak sekalipun.
Dalam perspektif pendidikan Islam, tanggung jawab pendidikan Islam dilaksanakan oleh kedua orang tua, guru, sekolah, lingkungan sekitar, pemerintah dan pihak lain yang berkepentingan dalam dunia pendidikan.
Jadi sekali lagi Islam memberi rambu-rambu bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendidikan, hanya peran yang membedakan ketika individu memiliki status atau jabatan.
Agar individu bertahan dan memiliki kekuatan untuk menerima warisan kebaikan dari orang tua, kemudian ia siap menghadapi pergaulan yang boleh jadi banyak hal bertentangan, maka ada beberapa materi dan keterampilan penting tentang pendidikan.
Menurut Fathkur Rohman beberapa aspek tanggung jawab pendidikan Islam yang sangat diperhatikan adalah pendidikan tauhid (iman), akhlak, fisik, akal, kalbu (psikis), sosial dan pendidikan seksual. Ini menjadi terasa penting, apalagi ketika kita berperan sebagai orang tua yang akan memberikan warisan kebaikan kepada anak dan keturunan kita.
Sampai di sini jelas, ingin hidup dan bermakna, maka iringi dengan tanggung jawab lewat belajar hidup. Belajar hidup menerima kebaikan dari orang tua dengan cara bersyukur apapun yang diberikannya.
Belajar menerima perbedaan orang lain apakah itu pendapat, sikap dan kepribadiannya dengan cara beri kesempatan mereka memerankan diri untuk mengabdi. Belajar menjadi orang tua terhadap anak melalui keteladanan serta menikmati hidup adalah siklus yang terus berlanjut.
Apakah saya siap untuk belajar tentang hidup? Kehidupan tidak bertanya tentang hal itu, tetapi setiap saat justru jawaban selalu diberikan saat kita sadar bahwa ternyata kita masih perlu kehidupan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















