Masyarakat sebagai sebuah sistem kehidupan yang kompleks memiliki masalah–masalah yang kompleks pula. Sosiologi melihat segi orientasi masalah, maka sebagiannya dapat dipaparkan sebagai berikut: (1) Organisasi sosial; (2) Relasi antar kelompok. (3) Disorganisasi sosial, dan (4) Perubahan sosial.(M.Amin Nurdin dkk, 2015:9).
Sebuah keluarga akan terbentuk dari adanya pimpinan atau orang tua, kemudian ibu sebagai pengelola, dan anak sebagai anggota, dan di sanalah lahir apa yang disebut dengan rumah tangga.
Tetapi keluarga tidak akan berhenti sampai pada interaksi antar anggotanya, sebagian bahkan keseluruhan mereka akan berinteraksi dengan pihak lain, di luar anggota keluarga yakni orang lain atau keluarga lain. Dari sini lahirlah apa yang disebut dengan masyarakat.
Masyarakat adalah kumpulan keluarga, tetapi interaksi di antara anggotanya justru inilah yang menjadi ciri dan dinamikanya sebuah masyarakat. Hari ini kita tidak dapat membayangkan lagi bahwa sebuah keluarga di tengah-tengah masyarakat tidak melakukan interaksi.
Bahkan mereka justru keluarga dari lingkup memberanikan diri menjadi bagian dari komunitas yang lebih luas. Dan di sanalah terjadi masalah, jalan keluar serta kajian yang begitu kompleks.
M Amin Nurdin dalam kajian sosiologi mencoba memaknai sebuah masyarakat sebagai sebuah sistem kehidupan yang kompleks memiliki masalah–masalah yang kompleks pula. Sosiologi melihat segi orientasi masalah, maka sebagiannya dapat dipaparkan sebagai berikut:
Pertama, organisasi sosial: Terdiri atas komunitas, stratifikasi sosial, institusi, struktur sosial, industri, tenaga kerja, militer. Interaksi antar individu,antar keluarga, masyarakat, kelompok baik formal maupun non formal semua mencoba membuat satu komunitas dengan maksud ingin bersama berbagi. Tentang berbagi inilah yang banyak tanda tanya, apakah berbagi perasaan, senasib sepenanggungan, atau untuk mencari keuntungan bersama.
Kedua, relasi antar kelompok: Terdiri ras dan etnik, pengelolaan antar tenaga kerja, antar bangsa dan kepercayaan. Relasi itu terjadi karena memang saling membutuhkan, namun bila tidak seimbang maka relasi kadang kala rentang untuk putus ditengah perjalanan, bahkan ketika akan dimulai hubungan. Ikatan ras juga etnik boleh jadi kuat pada moment tertentu tetapi tidak menjadi pada bagian ikatan yang lain. Contoh boleh sama sukunya tetapi justru beda partai atau idola mereka.
Ketiga, disorganisasi sosial: Terdiri atas tindak kriminal, kenakalan remaja, penyalahgunaan obat bius, prostitusi, mabuk minuman keras dan kemiskinan. Boleh jadi kita adalah bagian dari masalah dalam organisasi, bahkan sebagian masalah itu selalu tidak disadari oleh mereka yang ada di dalamnya. Sudah menjadi hukum sosial bahwa ketika terjadi interaksi maka akan ada gesekan termasuk kepentingan tertentu didalamnya. Kebijakan untuk menerima dan mengatasi hal inilah yang dibutuhkan dalam organisasi.
Keempat, perubahan sosial: Terdiri dari atas gerakan sosial, perubahan
teknologi dan mobilitas sosial. Semua berjalan dengan baik, tidak ada yang mundur ke belakang itulah masyarakat. Nilai akan terus berubah, walaupun ada yang dipertahankan atau dijaga sebagai warisan, sikap kita terhadap perubahan itulah selalu mewarnai apa yang disebut dengan perubahan teknologi dan mobilitas sosial.
Akhirnya bila kita sudah menyatakan diri sebagai keluarga, maka kita siap dengan perubahan apakah itu di dalam rumah tangga maupun di masyarakat. Kesiapan kita akan ditunjukkan pada sikap terhadap tetangga, masyarakat dan komunitas yang lebih besar bahkan yang lebih utama ketika menghadapi masalah hubungan antar warga.
Tidak ada yang bermakna dalam hidup sendiri maupun berkeluarga, sampai akhirnya kita menerima apapun yang terjadi di masyarakat sekeliling kita.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















