From these words of the Quran we learn that a principle, as regards the discovery of God, has been described here. There are many verses in the Quran, where we find mention of the phenomena of nature. But these descriptions being only hints are not given in detail. To understand the content of God-realization in the phenomena of nature, it is essential to find what these hints specify. These details, not being available in the Quran, we have to discover them by pursuing a scientific study of externalities. That is to say, the science or knowledge of nature gives us an explanation of what is merely adumbrated in the Quran. (Maulana Wahiduddin Khan, 2020: 4).
Pengetahuan itu adalah mengetahui dari hal kecil sampai besar, dari masa lalu sampai kini dan bahkan masa depan, dari dalam diri sendiri sampai keluar angkasa. Ukuran, waktu sampai tempat semuanya membutuhkan cara dari mana kita mendapatkannya, bagaimana upaya yang dilakukan sampai akhirnya ke mana semua itu akan ditujukan.
Itulah pengetahuan manusia yang sampai saat ini terus berkembang baik ukuran yang tak terhingga, waktu yang tak terhitung sampai tempat yang tak terjangkau.
Mempelajari pengetahuan salah satunya dengan berfilsafat dengan membuat sistematika atau taksonomi yakni pengetahuan ilmu, pengetahuan agama dan pengetahuan seni. Tapi harus diingat ketiganya dipisah namun dalam satu kesatuan.
Dalam hal inilah Maulana mencoba memberikan hubungan antar ketiganya di mana menurut beliau; dari firman-firman Al-Qur’an, kita belajar bahwa sebuah prinsip, mengenai penemuan Tuhan juga banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan fenomena alam.
Luasnya ilmu pengetahuan tentu memerlukan metodologi agar kita dapat mengerti dan memahami. Dalam hal ini pengetahuan agama memberi bimbingan bahwa deskripsi-deskripsi ini hanya berupa petunjuk, deskripsi ini tidak diberikan secara rinci.
Untuk memahami konten realisasi Tuhan dalam fenomena alam, penting untuk menemukan apa yang dispesifikasikan oleh petunjuk-petunjuk. Ini memberikan gambaran bahwa agama juga memberi ruang bagaimana kita harus melakukan ekplorasi terhadap alam semesta, bahkan kitab suci juga membimbing kita untuk menelusurinya. Bila kitab suci hanya memberi gambaran umum, maka rincian ini adalah ranah kita mendalaminya.
Maulana sekali lagi menegaskan bahwa karena tidak tersedia dalam Al-Qur’an, kita harus menemukannya dengan melakukan studi ilmiah tentang eksternalitas. Dengan kata lain, sains atau pengetahuan tentang alam memberi kita penjelasan tentang apa yang hanya digambarkan dalam Al-Qur’an.
Tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika menjadikan kitab suci untuk mengeksplorasi pengetahuan yakni;
Pertama, what man has to do here is to understand the creation plan of the creator and prepare himself accordingly. Yang harus dilakukan manusia di sini adalah memahami rencana penciptaan Sang Pencipta dan mempersiapkan diri sesuai dengannya. Tuhan itu maha pencipta, dan kita yang diciptakan harus mampu mengerti, memahami serta menangkap pesan dari posisi kita sebagai makhluk ciptaan.
Kedua, god is the creator of man but determining one’s future is totally in the hands of man. Tuhan adalah pencipta manusia, tetapi menentukan masa depan sepenuhnya berada ditangan manusia. Boleh jadi ada campur tangan Tuhan dalam awal penciptaan, mungkin saja tujuan akhir telah diberi pilihan oleh Tuhan, namun yang menarik ditengah-tengahnya kita justru diberi leluasa untuk beraktivitas dan bertanggungjawab.
Ketiga, what man has to do is to develop such a personality as will make him a deserving candidate for Paradise in the next world. Yang harus dilakukan manusia adalah mengembangkan kepribadian yang akan menjadikannya calon yang layak untuk surga di akhirat.
Sekali lagi tujuan akhir telah diberikan Tuhan dengan pilihan-pilihan, maka kita dapat memilih atau tidak memilih, setuju atau tidak setuju, semuanya tergantung pada pengetahuan yang kita bangun. Kepribadian akan muncul ketika kita secara totalitas mengetahui dari mana kita berasal, sedang di mana kita hari ini, dan akan ke mana kita berakhir.
Bolehlah kita mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya tergantung apakah itu besar atau kecil, kita sendiri yang menentukan untuk hari ini atau esok yang lebih penting, mungkin juga di sekeliling kita atau harus berhijrah.
Pelajarilah ilmu pengetahuan untuk memudahkan hidup, patuhilah pesan agama agar semau menjadi terarah, dan nikmatilah seni sehingga kapanpun kita dapat merasakan makna hidup. Mungkin saja kepribadian seseorang akan lahir dari mereka yang seimbang dalam mempelajari ketiga hal di atas.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















