Manusia merupakan satu hakikat yang mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi material dan dimensi immaterial. Ungkapan al-Qur’an untuk menunjukkan konsep manusia terdiri atas tiga kategori, yaitu: (1) al-insan, al-ins, dan al-nas, atau unas, (2) al-basyar dan (3) bany Adam.(Muaz Tanjung, 2020).
Sampai sekarang tidak ada habis-habisnya kita membahas tentang manusia, padahal itu adalah diri kita sendiri, setiap hari kita lihat, kita alami dan kita catat keinginan dan harapannya.
Itulah manusia dari asal muasal, sampai hari ini apa yang dilakukan, bahkan akan kemana ia menuju arah, semuanya menjadi pembahasan yang tidak ada ujungnya. Pembahasan tentang manusia seperti di atas selalu memberikan ruang untuk terus didiskusikan, apalagi dengan dasar pengalaman dan harapan masing-masing.
Agama Islam memberi tuntutan yang berbeda, ketetapan tentang hakikat manusia harus dijadikan dasar dari mana, sedang di mana dan akan ke mana. Ini semua menjadi lebih nyata ketika kita memaknai nilai-nilai pada diri manusia lewat dasar utama yakni ajaran agama yang absolut.
Di sinilah Dr Muaz memberi perspektif yang berbeda tentang manusia, menurut beliau bahwa meskipun ketiga kata tersebut menunjukkan pada makna manusia, namun secara khusus memiliki penekanan pengertian yang berbeda. Namun demikian perlu dipahami lebih jauh tentang hakikat ini yakni sebagai berikut:
Pertama, Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, dan memulai menciptakan manusia dari segumpal tanah, dan Dia ciptakan keturunannya dari jenis saripati berupa air yang hina, lalu Dia sempurnakan penciptaannya. Inilah awal ajaran mutlak yang harus dijadikan dasar darimana kita harus membahas tentang hakikat manusia.
Kedua, unsur jasad akan hancur dengan kematian, sedangkan unsur jiwa akan tetap dan bangkit kembali pada hari kiamat. Arah dan tujuan manusia jelas, kemanapun kita membahas maka akhir nya adalah kematian pada jasad.
Ketiga, dia tersusun dari perpaduan dua unsur; segenggam tanah bumi, dan ruh Allah, maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia. Perspektif yang parsial atau sepihak bahkan mengkaji yang tampak, inilah awal dari kekeliruan dalam pengambilan keputusan tentang hakikat manusia.
Keempat, terminologi manusia yang digambarkan dengan istilah al-basyar, al-insan dan al-nas merupakan kausa prima yang secara fitrah sebagai potensi dasar manusia sekaligus menjadi karakter personalitas dari eksistensi manusia. Potensi ini menjadi penting karena dengan pemahaman kita yang lebih lengkap, akan memberikan gambaran utuh tentang hakikat manusia.
Kelima, konsep kausa material ini sepenuhnya menjadi keistimewaan manusia yang membedakannya dari makhluk lain di muka bumi serta berimplikasi kepada adanya peran dan tugas kekhalifahan. Ternyata kita harus memahami beda manusia dari makhluk lain, bahkan beda diri kita dengan diri orang lain yakni tingkat kekhalifahan.
Keenam, manusia sebagai kausa material terdiri atas dua substansi, yaitu (1) Substansi jasad/materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang meru-pakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah Swt. dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunnatullah (aturan, ketentuan hukum Allah yang berlaku di alam semesta); (2) Substansi immateri non jasadi yaitu penghembusan/ peniupan ruh (ciptaan-Nya) ke dalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakikat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah. Ini menjadi penting ketika kita menguraikan hakikat potensi maupun eksistensi yang mungkin kita lakukan.
Ketujuh, pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan umat Islam menerjemahkan dan merealisasikan konsep filsafat penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya dalam alam semesta ini. Untuk menjawab hal itu, maka pendidikan Islam dijadikan sebagai sarana yang kondusif bagi proses transformasi ilmu pengetahuan dan budaya Islami dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dari ketujuh hal di atas, kita bukan berhenti membahas tentang manusia, tetapi paling tidak telah mengawali diskusi lanjutan. Begitulah manusia sampai sekarang terus menjadi pembahasan yang unik dan kompleks tetapi tetap menarik, mungkin saja justru karena diskusi seperti itulah maka ia disebut dengan manusia yang siap menjadi khalifah di muka bumi ini.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















