Al-Qur’an mengisyaratkan, bahwa belajar bagi orang dewasa dapat diperoleh dengan mencari pengalaman baru dan membandingkannya terhadap pengalaman lama (QS. al-Ahqaaf [46]: 35 dan al-Kahfi [18]: 70-79), belajar dari pengalaman masa lalu merupakan upaya untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk (QS. an-Nuur [24]: 30-31 dan al-Baqarah [2]:58), dan belajar dari pengalaman lama sebagai cerminan untuk mengambil “tindakan baru” yang lebih baik (QS. al-Ahzab [33]: 59). Ketiga konsep Al-Qur’an inilah yang dapat mendukung terwujudnya praktik pendidikan mampu melahirkan pembelajar dewasa yang berkepribadian unggul (berakhlakul karimah). (Al Farabi, 2018:324).
Belajar sepanjang hayat, tidak ada istilah berhenti belajar, kapan belajar berhenti adalah ketika kita sudah mati. Artinya bila kita berhenti, atau merencanakan untuk berhenti belajar, maka kita sudah mati alias tidak ada lagi riwayat hayat kita. Itulah betapa pentingnya belajar, sehingga manusia selalu identik dengan kata belajar dari buaian sampai liang lahat.
Belajar dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja bahkan belajar itu ada yang disadari atau tidak disadari. Secara sengaja peserta didik belajar dengan aturan, masuk sekolah jam 8 pagi pulang jam 13 siang.
Di tengah perjalanan orang tua yang menghantarkan anaknya ke sekolah berhenti karena lampu merah, sesungguhnya anak-anak sedang belajar tanpa disadari. Tetapi mereka juga ketika pulang sepakat untuk saling berkunjung ke rumah teman, mengerjakan tugas P5 terkait Proyek Pelajar Pancasila, kesepakatan itu dilakukan tanpa disadari. Di rumah, di sekolah di lingkungan atau bahkan di rumah ibadah belajar dapat berlangsung dengan sendirinya.
Bagi orang dewasa belajar tidak akan berhenti, untuk menambah pengalaman, menyempurnakan pengetahuan serta mengasah keterampilan dalam rangka mengendalikan akhlakul karimah. Inilah cita-cita dan idealnya pendidikan bagi orang dewasa.
Oleh Al Farabi menjelaskan, sedikitnya ada tiga konsep Al-Qur’an yang dapat mendukung terwujudnya praktik pendidikan untuk mampu melahirkan pembelajar dewasa yang berkepribadian unggul (berakhlakul karimah).
Menurut Farabi, ada hal penting tentang belajar orang dewasa yakni;
Pertama, orang dewasa yang telah banyak menjalani hidup dari berbagai tempat, bahkan berselang waktu maka menjadi bagian dari pertimbangannya untuk menentukan apa yang harus dilakukan hari ini. Benarlah bahwa belajar bagi orang dewasa itu mendapatkan sumber yang sangat kaya, terlebih dari pengalaman yang ia miliki uniknya berbeda antara satu dengan lainnya.
Kedua, pengalaman memang meninggalkan dua hal yakni yang baik dan yang tidak baik. Keduanya menjadi pertimbangan yang baik untuk dilanjutkan, sementara yang tidak baik, agar ditinggalkan atau jangan terulang. Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda satu dengan lainnya, tetapi justru pengalaman satu orang dapat dijadikan pertimbangan pada orang yang berbeda pula. Di sini kita mendapat makna bahwa belajar dari pengalaman masa lampau adalah hal penting bagi orang dewasa untuk melakukan pendidikan dari pengalaman.
Ketiga, bagi orang dewasa belajar bukan saja untuk mengingat kekuatan dan kemampuan masa lalu, tetapi ia lebih kedepan mengarahkan diri bagaimana menghadapi dan mengatasi hal dihadapannya. Apa yang harus dilakukan sebagai sebuah keputusan untuk hari ini dan masa depan, maka pengalaman masa lalu itu penting, tetapi tidak perlu berlarut untuk menikmatinya. Hari ini adalah penting, hari esok itu yang utama, maka hari yang lalu ada pertimbangan atau cerminan agar ke depan lebih baik lagi.
Dengan ketiga hal di atas, kita boleh saja menyempurnakan pepatah lama; belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar setelah dewasa bagai menguji di atas air.
Dan sekarang adalah; belajar sejak kecil untuk persiapan hidupmu, belajar terus sampai dewasa agar sempurna akhlak kemanusiaanmu. Hmmm… saya tak mau belajar lagi berarti saya sudah mati.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















