Komunikasi disebut efektif apabila penerima menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim. Kenyataannya sering kita gagal saling memahami. Sumber utama kesalahpahaman dalam komunikasi adalah cara si penerima menangkap makna suatu pesan berbeda dari yang dimaksud oleh pengirim, karena pengirim gagal mengkomunikasikan maksudnya dengan tepat. (Ritonga, 2019).
Penyakit bahasa paling mudah menular adalah bisu, bayangkan begitu kita jumpa saudara kita yang bisu maka kitapun spontan seperti mereka.
Ada juga hal lain, bahasa paling kaya adalah politik, mari kita ingat seorang calon anggota legislatif, ketika ia ingin menyampaikan gagasan atau keinginannya tentang sesuatu, maka ia menggunakan media kampanye, orasi, player, spanduk, uang, bisik-bisik, serangan fajar, ancaman dan lain sebagainya. Itulah fenomena komunikasi di sekeliling kita, dari hari ke hari, tahun ke tahun tidak ada yang berubah apalagi mengalah.
Komunikasi dilakukan diawali dari ontologi kehidupan, bahwa kita hidup tidak akan efektif bila sendiri, di rumah sendiri, tidak berhubungan atau interaksi dengan orang lain. Maka komunikasi adalah kebutuhan dasar manusia, dari lahir sampai ia mati semua membutuhkan komunikasi.
Banyak instrumen komunikasi yang melekat di badan kita, mata adalah jendela komunikasi untuk mengerti apa yang ada di luar, telinga adalah jendela kita untuk mengetahui suara apa yang sedang terjadi di alam, dan mulut sebagai alat komunikasi menyampaikan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan.
Dari tiga alat komunikasi yang paling penting dalam diri kita, ternyata semua menjadi penting, satu saja di antaranya menjadi disabilitas, maka akan mengganggu yang lain.
Dari sini kita baru menyadari sebelum lahir alat komunikasi yang pertama berfungsi adalah pendengaran, dan mungkin saja sampai mati yang terakhir difungsikan adalah pendengaran.
Buktinya bayi pranatal sebelum dilahirkan selalu di senandung kan suara indah oleh calon ibu dengan harapan ada hal yang terbaik ketika ia lahir ke dunia ini.
Bukti lain ketika saudara kita telah meninggalkan dunia, masuk ke alam kubur, sebagian kita masih membacakan doa bahkan memberi pengajaran agar didengarkan oleh mayit. Sungguh pendengaran adalah komunikasi wal awalau ilal akhiru.
Bagaimana komunikasi dibangun, dalam epistimologi kehidupan, kesehatan seseorang sangat tergantung pada apa yang dimakan, juga apa yang dirasakan.
Lingkungan keluarga yang baik, maka akan melakukan komunikasi yang baik pula pada anaknya, bayangkan bila bahasa orang tua dengan anak dilakukan dengan sopan santun, maka itulah sesungguhnya pewarisan paling efektif.
Di sinilah Dr.Muhammad Husni Ritonga sebagai pakar komunikasi menegaskan bahwa; komunikasi disebut efektif apabila penerima menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim.
Sudah pasti orang tua tidak akan menyalahkan anaknya, sebelum ia sendiri mengerti apa yang akan disampaikan, paling tidak itulah orang tua yang telah melakukan sesuatu sebelum ia menyuruh anaknya melakukan. Maka benarlah bila sekali lagi ia menegaskan bahwa; kenyataannya sering kita gagal saling memahami.
Dalam perkembangan yang lebih luas, ilmu komunikasi terus berkembang, kontribusi teknologi memberikan peran yang sangat luas, bahkan kadang hampir mendominasi sampai-sampai bisa saja menjerumuskan.
Satu pesan untuk dikomunikasikan maka tawaran media atau saluran begitu banyak, bahkan saling berebut mengambil peran. Di sinilah letak masalahnya, apakah sipenerima akan melakukan seleksi terhadap saluran tersebut atau tidak.
Sekali lagi Dr.Ritonga memperingatkan kita, untuk itulah maka sumber utama kesalahpahaman dalam komunikasi adalah cara si penerima menangkap makna suatu pesan berbeda dari yang dimaksud oleh pengirim, karena pengirim gagal mengkomunikasikan maksudnya dengan tepat.
Kembali ke awal, aksiologi komunikasi itu intinya adalah apa yang kita sampaikan, sampai kepada siapa yang akan kita inginkan. Tidak mesti 100 % sama, karena pasti ada noice walaupun dengan saluran atau media secanggih apapun. Jumpa dengan orang bisu, bukan sekedar persoalan tunawicara, tetapi ternyata komunikasi itu ada aspek psikologis yang mengiringinya.
Hem…semakin canggih alat komunikasi ternyata membawa efek yang semakin kompleks, dan terus terjadi setiap kita bangun sampai tidur lagi. Maka nikmati apa saja yang kita dengarkan, tetapi pertimbangkan dengan matang sebelum sesuatu yang akan kita sampaikan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















