Dinamika pemikiran dalam dunia Islam tetap berkembang sampai sekarang. Kenyataan ini dimungkinkan terjadi berkat doktrin yang menghargai akal setinggi mungkin sebagai salah satu sumber pengetahuan dan kebenaran. Bahkan, Al Qur`an dan hadis tidak jarang menyuarakan urgensi penalaran, penelitian, dan pemikiran. (Amroeni Drajat, 2006:1).
Dunia ini terbentang untuk dipikirkan, manusia dilahirkan untuk berpikir, dan isi dunia ini begitu teratur tetapi untuk dicurigai, dan akhirnya interaksi antara dunia manusia dan keteraturan perlu diteliti.
Itulah dunia maju terus bergerak mengikuti waktu, tanggal bulan, tahun abad dan seterusnya. Di tengah itu pula ada interaksi yang berjalan alami dikendalikan oleh Tuhan, tetapi ada yang mencoba merekayasa untuk mengendalikan.
Ilmuwan tak pernah berhenti memikirkan dunia ini, maka ia kadang bingung sendiri, mengapa ia harus memikirkan. Okelah saya tidak akan berpikir lagi, seandainya nanti saya berpikir maka saya akan pikirkan ulang lagi. Hemmm.
Ternyata ada tiga kata penting yang terselip dari kalimat di atas; yakni menalar, meneliti dan memikirkan.
Pertama; Diawali dengan menalar maksudnya adalah mengerti. Penalaran adalah pengertian Nalar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertimbangan tentang baik buruk dan sebagainya; akal budi: setiap keputusan harus didasarkan — yang sehat. Aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis; jangkauan pikir; kekuatan pikir.
Berpikirpun ternyata perlu aturan, tidak sembarangan dan terkesan formal. Jelas ternyata berfikir yang formal akan memberikan ruang mana yang pantas dipikirkan mana yang tidak. Di sinilah nalar berfungsi, artinya seseorang akan melakukan penalaran bila ia sudah faham bagaimana memulai berfikir dengan baik dan benar.
Kedua, dilanjutkan dengan penelitian. Penelitian adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.
Mengapa perlu dilakukan, karena semua yang ada di dunia ini ada yang teratur perlu dicurigai dan ada yang kompleks carut marut, perlu dipahami. Tujuannya adalah agar kita dapat berjalan di antaranya dengan baik, tidak ada gangguan. Penelitian itu memberikan solusi terhadap banyak hal tentang kehidupan, agar hidup ini lebih praktis, lebih mudah lebih baik dari sebelumnya.
Ketiga pemikiran adalah mencari upaya untuk menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan akal budi; mempertimbangkan; merenungkan. Kembali lagi rangkaian hidup ini adalah untuk melakukan penalaran, penelitian dan akhirnya membuahkan hasil yang disebut dengan pemikiran. Pemikiran akan benar-benar matang karena penuh ketelitian, pertimbangan bahkan perhitungan risiko yang akan diakibatkan. Lebih dari itu tujuan dari pemikiran adalah mencari hikmah untuk kehidupan yang lebih luas dan lebih jauh bagi kehidupan manusia.
Prof Amruni, ahli pemikiran kita tentu telah lama memberikan rambu-rambu kepada umat manusia, berpikir itu gratis, tidak bayar, bahkan dimotivasi olah ajaran agama. Ingin berpikir maka itu sudah satu nilai ibdah, menghasilkan pemikiran maka tiga keberkahan sudah menunggu di depan.
Maka marilah kita terus berpikir dengan cara menalar, meneliti dan memberi kebaikan kepada semua orang, baik yang ada didepan kita saat ini apalagi untuk mereka yang akan hidup di kemudian hari.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















