Kebiasaan manusia-manusia besar adalah mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja dan kesibukan mengurusi duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi. Mereka menyedikitkan waktu tidur untuk bisa bangun malam. Mereka sedikit bercanda untuk merasakan nikmatnya ibadah. Mereka tidak berlebihan dalam bergaul untuk merasakan lezatnya iman. Mereka menahan diri dari maksiat agar tubuhnya tetap sehat. (Solihin Abu Izzudin, 2006:67).
Dunia ini sangat besar, dari desa kita kenal ada kecamatan, bahkan dari kabupaten sampai provinsi, jadilah sebuah negara. Ternyata negara itu adalah tempat kecil dari bumi, padahal bumi itu satu planet dari sebuah tata surya yang hanya tampak titik kecil dari galaksi. Bayangkan bahwa galaksi andromeda adalah satu dari miliyaran galaksi yang ada. Itu semua adalah ada dalam pikiran kita dari satu otak kecil terselip di kepala kita sendiri.
Dunia ini sangat panjang, ada masa lalu yang kita sendiri tak ikut mengalami hanya dari cerita orang atau catatan yang dapat dipercaya. Hari ini ada banyak kejadian namun hanya yang ada di sekeliling kita yang diketahui, itupun karena kita mencari.
Kita tidak tahu tapi percaya bahwa esok hari masih banyak lagi waktu memberikan kejadian yang mungkin lebih dari yang kita pikirkan. Ternyata sama itu semua ada dalam pikiran dan perasaan kita saat ini dan dalam diri kita sendiri.
Dunia ini tak ada habisnya untuk diukur, dipikirkan apalagi dirasakan, dari sanalah Solihin Abu Izzudin mengajak kita untuk memulainya dari diri sendiri. Banyak pengalaman para pendahulu ternyata mengkaji dunia selalu berujung tanpa batas apalagi kepuasan, ambisi berlebihan terakhir sadar bahwa dirinya adalah bagian dari apa yang dipikirkan dan dirasakan sendiri.
Menurut beliau bagaimana cara kita memaknai dunia ini, ada empat hal penting yang harus dilakukan yakni sebagai berikut:
Pertama, sedikit tidur untuk bangun malam. Malam adalah siklus dimana satu sisi menghadap dengan cara berbeda. Bila kita memaknai siklus dengan benar maka jangan berlebihan mencari dunia di siang hari, karena ada sisi lain yakni malam lebih utama untuk memaknai.
Kedua, sedikit bercanda untuk merasakan nikmatnya ibadah.
Kenikmatan dunia memang dengan cengkerama apalagi dibumbui canda dan senda gurau. Kewajaran itu harus disadari ada batasnya, tujuannya jelas bila hati selalu sadar maka kendali ada pada diri sendiri bukan karena teman, apalagi komunitas.
Ketiga, sedikit bergaul untuk merasakan lezatnya iman. Sendiri dan bersama itu banyak senangnya, apalagi berbagi dengan sesama apakah dalam kesenangan maupun kesedihan. Tetapi iman berdiri sendiri sebagai pertanggungjawaban personal, maka menyendiri itu penting untuk muhasabah. Bukan satu seumur hidup sekali, apalagi satu tahun satu kali, tetapi setiap saat bahwa kita sadar ada konsekuensi dibalik semua yang kita lakukan.
Keempat, menahan diri dari maksiat agar tubuhnya tetap sehat. Keinginan, hasrat dan ambisi itu adalah dorongan kuat dari dalam untuk mendapatkan sesuatu. Menahan dengan cara memperhitungkan, mempertimbangkan bahkan menahan diri adalah kelengkapan yang sempurna. Maksiat adalah hasil kegiatan tanpa pengendalian, tetapi keinginan dan hasrat bila disalurkan kepada hal yang positif maka akan menjadi sehat jasmani dan rohani.
Tidak ada yang sia-sia bila kita tidur sejenak menjelang tengah hari, bangun sepertiga malam, mengurangi makan, apalagi menyendiri pada saat tertentu.
Orang tua telah membuktikannya di masa lalu, hari ini kita masih punya waktu, mungkin itulah yang pantas kita wariskan sampai anak cucu. Ingat bukan ambisi yang berlebihan, tetapi justru pengendalian diri dengan cara melakukan hal yang wajar untuk setiap kegiatan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















