Ada pemandangan menarik, ketika Presiden Prabowo Subianto mengumumkan nama-nama menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih pada 21 Oktober 2034 yang lalu.
Kala itu, Presiden Prabowo tidak hadir berdua dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, melainkan juga turut serta didampingi Sufmi Dasco Ahmad, yang notabene bukan merupakan pejabat pemerintah.
Begitu pun saat Presiden Prabowo pulang acara pembekalan dari Magelang, Sufmi Dasco juga menjadi satu di antara tiga tokoh yang menyambut dan menemani putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo itu, bincang-bincang di ruang VIP Bandara Halim Perdanakusuma.
Tentu, kehadiran Sufmi Dasco mendampingi Presiden Prabowo, dipastikan bukan atas kemauannya sendiri, melainkan karena diminta oleh bapak presiden, dalam kapasitasnya sebagai salah satu figur kepercayaan mantan Danjen Kopassus tersebut.
Karena berstatus sebagai orang yang sangat diandalkan sekaligus dipercaya pak Prabowo itu pula, tidak berlebihan jika banyak kalangan menyebut, Sufmi Dasco menjadi salah satu key factor dan atau ‘pintu masuk’ untuk bisa meraih posisi di pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sebagai orang kepercayaan Presiden Prabowo, sebenarnya akan dengan sangat mudah bagi Sufmi Dasco, jika dirinya berkeinginan dan memiliki ambisi pribadi untuk duduk di kabinet (seperti tipikal para politisi lain pada umumnya).
Dengan kata lain, hampir dipastikan Presiden Prabowo Subianto akan meluluskan permintaannya, jika dia ngotot menjadi menteri di Kabinet Merah Putih.
TIDAK AJI MUMPUNG
Dalam konteks inilah kiprah dan sikap politik Sufmi Dasco tersebut layak dijadikan pelajaran bagi para politisi khususnya dan generasi muda pada umumnya, agar memiliki kesabaran dan kepribadian dalam berpolitik, yaitu tidak rakus, ambisius mengejar jabatan serta tidak bersikap aji mumpung.
Kendati sangat kompeten menjadi menteri, Sufmi Dasco tidak mengambil peluang itu dan tetap terlihat sangat enjoy, hepi dan selalu berupaya mengoptimalkan peran serta tupoksinya, walau ‘hanya’ menyandang jabatan sebagai Wakil Ketua DPR-RI.
Sejauh ini, Rektor Universitas Kebangsaan itu juga tidak memanfaatkan situasi yang ada untuk cawe-cawe membangun dinasti baru, dengan melibatkan (mencari kedudukan) untuk istri, anak atau kaum kerabatnya.
Dalam hal ini, Sufmi Dasco seperti tengah mengimplementasikan mindset sekaligus keteladanan, bahwa kredibilitas serta optimalisasi kontribusi seseorang untuk kepentingan bangsa dan negara, tidak selalu ditentukan oleh posisi dan jabatan yang tinggi di pemerintahan.
Seseorang, sejatinya juga bisa menjalankan peran yang tidak kalah penting, yakni sebagai mentor, problem solver, king maker dan peran di balik layar lainnya, untuk membantu (membuka jalan) kepada orang lain dalam meraih kesuksesan, tanpa harus menyandang jabatan formal di pemerintahan.
Profesor Sufmi Dasco Ahmad telah banyak memberikan bukti, bahwa keberadaannya sebagai Ketua Harian DPP Partai Gerindra dan Wakil Ketua DPR-RI, selalu sangat bisa diandalkan, dalam menyukseskan tugas-tugas yang diembankan kepadanya.
Menarik, untuk menunggu dan menyimak kiprah politisi yang cool and humble ini. Sebab, geliatnya diyakini akan terus memberi warna sekaligus pengaruh signifikan terhadap dinamika dan stabilitas politik di negara kita, hari-hari ini serta beberapa tahun mendatang.(**)



















Analisis yang smart bang