Masyarakat Islam adalah masyarakat yang dibentuk berdasarkan etika Ketuhanan Yang Maha Esa yang bertolak pada; a.cinta pada Tuhan yang dicerminkan pada kecintaan pada sesama anggota masyarakat itu, b.syukur pada rahmat dan nikmat Tuhan, puji pada-Nya semata, yang dicerminkan pada upaya mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat material dan spritual berlandaskan kaidah-kaidah moral yang mulia, dan c. Rasa takut pada Tuhan yang dicerminkan dalam perasaan takut pada Pengadilan Tuhan yang akan membentuk sikap dan jiwa perilaku yang adil dan bertanggungjawab. (Saefuddin, 1988:105).
Tahun 1980-an sebuah judul film drama “Mahkamah” karya Asrul Sani sungguh memberikan pesan spritual bagi kita yang masih hidup di dunia ini. Ketika pengadilan dibuka, ketua hakim belum datang, anggota hakim lainnya juga bertanya-tanya, terlebih terdakwah.
Namun apa yang terjadi ternyata yang datang dan menjadi hakim ketua adalah si terdakwah sendiri atau kembarannya yang duduk di depan.
Salah satu kalimat terucap dari hakim ketua adalah; Hakim tertinggi di atas dunia ini adalah hati sanubari manusia itu sendiri”, begitu kira-kira cuplikan drama singkat.
Setiap kita memiliki hati, dan paling dalam dari pertimbangan hati adalah sanubari sebagai hakim untuk memberi pertimbangan apakah sesuatu dapat dilakukan atau tidak.
Bagaimana cerminan hati yang paling dalam dimunculkan dalam kehidupan sehari-hari di antaranya adalah sebagai berikut;
a. Mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Dari hati yang paling dalam seseorang akan senang dan bahagia ketika semua orang di sekelilingnya terlebih keluarganya tampak ceria dan turut bahagia. Inilah yang disebut dengan cinta pada Tuhan yang dicerminkan pada kecintaan pada sesama anggota masyarakat itu.
b. Melihat pada diri sendiri memang memiliki kekurangan namun ketika dibandingkan dengan kelebihan yang tampak maupun yang tak tampak ternyata tak ada kurangnya. Untuk melihat hal ini maka bersyukur adalah jalan paling jujur bagi orang yang menyadari bahwa dia telah diberi segala-galanya oleh yang maha pemberi. Inilah yang disebut dengan syukur pada rahmat dan nikmat Tuhan, puji pada-Nya semata, yang dicerminkan pada upaya mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat material dan spritual berlandaskan kaidah-kaidah moral yang mulia.
c. Menyadari bahwa setiap saat perasaan selalu fluktuasi, kadang bahagia, kadang sedih, kadang sadar kadang justru pasrah. Ini memerlukan bimbingan dan pengarahan yang dilakukan secara kontiniu tak terhenti pada titik tertentu. Untuk itulah maka rasa takut pada Tuhan yang dicerminkan dalam perasaan takut pada Pengadilan Tuhan yang akan membentuk sikap dan jiwa perilaku yang adil dan bertanggungjawab.
Apabila setiap individu menyadari keadaan dirinya dengan cara mengerti, memahami dan memerankan diri dalam hubungan interaksi sosial, maka semua akan berjalan dengan baik.
Kesadaran akan muncul bukan karena sekadar mematuhi peraturan apalagi paksaan terhadap kepatuhan dalam pemerintahan atau hukum masyarakat, tetapi muncul karena memang itu kebutuhan.
Sadar diri, mensyukuri apa yang dimiliki, boleh berharap namun siap untuk tidak mendapat, mungkin selalu ditanamkan dalam diri kita sebagai bentuk cinta pada Tuhan.
Bangunan masyarakat Islam memang dimulai dari membangun individu yang kuat, dari sejak kejujuran, rasa syukur dan akhirnya saling berbagi, saling menasihati untuk sebuah kebenaran dan kebaikan.
Bila ada individu yang memiliki rasa lebih dari yang lain maka niatkan untuk berbagi, tetapi bila niatnya ingin menjadi pangkat dan kebanggaan maka inilah yang harus kita tegur ingatkan.



















