There is in the belief of Muslims, everyone will get a reward for the good that is done. On the other hand, sins will also be punished if they commit crimes or violations that have been stipulated in religious rules. But the interesting thing in Islam is the concept of syafa’at. With intercession, certain people can provide help to others so that they seem outside the principle of consequences that are accepted based on their own practice. (Mukhtaruddin, 2021).
Hidup itu mudah bila dianggap mudah, hidup itu sulit bila dianggap sulit, dan itulah persepsi kita terhadap apa yang kita pahami, kita percaya dan akhirnya menjadi keyakinan.
Pengetahuan, pengalaman dan sikap kita terhadap agama sebagai bagian dari kehidupan memang memberi pengaruh yang besar terhadap mudah atau sulitnya anggapan dalam beragama.Pengetahuan yang mumpuni akan diperoleh bila dipelajari dengan baik, sungguh-sungguh secara konsisten.
Begitu juga pengalaman yang sarat dengan berbagai masalah akan mendewasakan diri dalam menghadapi berbagai persoalan apapun yang ada dalam kehidupan ini. Akhirnya sikap kita terhadap agama bukan sekadar respon, tetapi terlibat bahkan dengan keyakinan kita akan bertindak.
Doktor Mukhtaruddin dalam penelitian tentang pengalaman beragama ini memberi catatan kepada kita bahwa bila kita berbuat baik, buruk atau keduanya pasti akan mendapat imbalan atau akibat. Namun demikian terdapat dalam keyakinan umat Islam, setiap orang akan mendapatkan pahala dari kebaikan yang dilakukan.
Hal inilah yang mendorong umat Islam terus menerus belajar tentang hidup beragama, walaupun tidak ada kata selesai, di tengah-tengah itu kita melakukan kekhilafan atau kesalahan. Berbuatlah dengan niat yang baik, hasil apapun yang diperoleh pasti akan memberikan kebaikan di belakang hari.
Selanjutnya kegiatan dalam kehidupan beragama bukan hanya hal-hal baik yang menjadi pembahasan, hal yang tidak baik pun menjadi cakupan darinya. Sebaliknya juga akan diganjar dosa bila melakukan kejahatan atau pelanggaran-pelanggaran yang telah ditetapkan dalam kaidah agama.
Setiap manusia itu pasti pernah salah, khilaf atau alpa dari kebaikan, disinilah ia harus menyadari ada konsekuensi lain yang menunggu mencatat. Tetapi adalah untuk pelajaran agar jangan terulang, apalagi sengaja untuk permainan.
Muktaruddin sekali lagi memberi pencerahan kepada kita bahwa ada hal-hal menarik dalam Islam adalah adanya konsep syafā’at.
Menurut beliau, dengan syafa’at, orang-orang tertentu dapat memberikan pertolongan kepada orang lain sehingga terkesan keluar dari prinsip konsekuensi yang diterima berdasarkan amalannya sendiri. Ini bukan sekedar konsep, tetapi di lapangan banyak ditemukan baik individu maupun jemaah memahami hal ini sebagai sebuah keyakinan.
Lima hal penting dari penelitian beliau yang patut kita fahami adalah; 1) makna syafa at: genap, memberikan pertolongan dan keringanan, 2) tujuan syafa’at: keluar dari neraka, keringanan azab nereka dan azab kubur, 3) batasan mendapat syafa’at: dua kalimat syahadat, tidak menyekutukan Allah dan tidak pernah melaknat, 4) sebab mendapatkan syafa’at: karena diri sendiri atau orang lain, 5) pemberi dan penerima syafa’at dan 6) waktu terjadi syafā’at, baik di dunia dan akhirat.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari didapati bahwa praktik untuk mendapatkan syafa’at adalah melalui bacaan Alquran di kuburan, mengadakan samadiah (tahlilan), membaca doa di kuburan, mengadakan perayaan maulid Nabi, menghadiahkan amal dan bersedekah.
Ini adalah kenyataan, dan ada di lingkungan kita, tentu pengetahuan, pengalaman dan sikap terhadap hal tersebut perlu secara arif dan bijaksana menempatkannya sebagai bagian dari ummat.
Memang sampai di sini kita tidak diajak untuk menyimpulkan, tetapi mengerti fenomena sebagai sebuah pengalaman yang berbeda adalah penting. Sikap terhadap pengalaman beragama orang lain adalah bagian dari dakwah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















