Etnografi adalah upaya untuk memperhatikan maknamakna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna tersebut terekspresikan secara langsung dalam bahasa; dan di antara makna yang diterima, banyak yang disampaikan hanya secara tidak langsung melalui kata-kata dan perbuatan. Sekalipun demikian di dalam setiap masyarakat orang tetap menggunakan sistem makna yang kompleks ini untuk mengatur tingkah laku mereka, untuk memahami diri mereka sendiri dan orang lain, serta untuk memahami dunia tempat mereka hidup. Sistem makna ini merupakan kebudayaan mereka; dan etnografi selalu mengimplikasikan teori kebudayaan. (James P Spradley, 2007:5).
Diamnya seseorang kadang menjadi tanda tanya, bicara nya seseorang menggambarkan pola pikir yang dianutnya, pola interaksi suatu masyarakat mengirimkan pesan bagaimana mereka berbahasa.
Sekecil apapun yang terjadi pada seseorang, dan masyarakat dapat menjadi nilai yang sangat berharga bagi orang lain atau kelompok lain, atau bahkan untuk mereka sendiri pada saat yang lain.
Bagaimana memahami kejadian dari setiap peristiwa tersebut, disinilah ilmu sosial menjadi penting, baik untuk mengerti, mendeskripsikan, mengontrol dan mungkin saja mengendalikan boleh jadi untuk merekayasa.
Etnografi secara sederhana mencatat dengan teliti semua kejadian yang ada di tengah-tengah kehidupan kita. Beberapa langkah penting adalah sebagai berikut;
Pertama, mengerti setiap kejadian adalah penting, tidak ada yang tidak penting, semua apapun dimanapun siapapun adalah kejadian yang akan berhubungan dengan kejadian lain. Maka catatan terhadap kejadian tersebut menjadi kunci dalam menelaah lebih jauh apa yang akan kita cari yakni makna setiap saat. Mengerti tentang kejadian ini adalah memiliki catatan sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya semua hal yang terkait. Kita dapat membayangkan kejadian seorang tua merokok di teras rumahnya, dapat kita catat siapa saja yang ada di sekelilingnya, darimana dia mendapatkan uang untuk membeli rokok, bagaimana kesehatan keluarganya, bahkan sirkulasi pedagang rokok dari pabrik sampai distributor sekalipun.
Kedua, mendeskripsikan setiap peristiwa yakni mengangkat setiap kejadian menjadi moment yang sangat berharga. Kita mulai diajak untuk memberi hubungan satu dengan lainnya, dan kemudian menemukan sentral atau penyebab antar hubungan sementara. Deskripsi yang baik adalah mengabstraksikan apa yang terjadi secara sederhana sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh orang lain.
Boleh saja kita melihat seorang yang merokok di teras sendirian, sementara orang lain ada di dalam rumah, maka deskripsinya; perokok kadangkala menjadikan orang lain tidak nyaman bersamanya. Deskrispi ini akan menjadi acuan untuk kegiatan berikutnya terlebih dalam melakukan tindakan lanjutan baik kepada orang sebagai subyek maupun orang lain.
Ketiga, mengontrol berbagai tindakan, bila kita telah mengerti satu gejala dengan logika deduktif dan induktif sebagai alas dalam membuat narasi kesimpulan, maka layak untuk diterapkan dalah satu tindakan. Walaupun disadari ada peluang untuk salah dengan batas toleransi, tetapi percobaan lapangan adalah pilihan agar tidak berhenti hanya di laboratorium atau sekadar teori. Tulisan amar atau warming bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan sampai sekarang dianggap efektif itu adalah logika kebijakan, padahal sudah jelas ada gambar resiko para perokok, namun logikanya seperti tidak nyambung. Tindakan menutup pabrik rokok walaupun penuh dengan resiko adalah pilihan, atau paling tidak pergi atau keluar dari zona para perokok adalah tindakan nyata yang mungkin akan berhasil. Kontrol terhadap tindakan itu lebih personal terkendali dan sangat mungkin dilakukan karena tidak tergantung pada tindakan yang lebih luas atau lebih besar.
Keempat, merekayasa sistem kehidupan, atau merencanakan hal yang menjadi alternatif untuk memecahkan masalah, atau meneruskan kebaikan. Kita harus sadar atau ingat, ada nilai dari hasil tindakan yang akan dipertaruhkan, maka sebelum membuat keputusan tentang tindakan lanjutan atau rekayasa adalah perhitungan untung rugi, terlebih untuk jangka panjang adalah penting.
Mengapa para perokok tetap menikmati, apa yang terjadi dengan korban lingkungan dari asap rokok, atau justru budaya perokok sebagai gaya hidup sampai pajak dari cukai adalah pendapatan negara, ini adalah pertimbangan untuk tindakan yang lebih makro. Jangka panjang, masif, gerakan atau revolusi adalah kata kunci, tetapi dalam teori etnografi ada kesimpulan lain, yakni; jalan tak ada ujung dalam lingkaran setan.
Hati-hati dengan individu yang ada di sekeliling kita, boleh jadi diam mereka adalah sikap untuk berfikir yang lebih sistematis. Budaya diam tidak selamanya dimaknai interpretasi tunggal, apalagi para akademisi, mungkin saja sedang merencanakan sesuatu, atau juga menikmati disana ada pesan hidup yang lebih baik dan berkah. Untuk apa ribu-ribut, doa dalam diam, bicara dengan fikiran satu saat kita tulis menjadi pesan kebudayaan, berarti kita sudah punya bakat menjadi ahli etnografi.
Kita setuju: “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















