Panas terik menghiasi langit tepat di halaman sekolah, lalu lalang siswa berkurang lebih banyak berdiam di kelas, dan hanya sebagian yang keluar itupun mendinginkan diri di bawah pohon rindang.
Begitu juga dengan guru, seperti enggan keluar kelas, namun karena bel tanda batas jam pelajaran, akhirnya bergerak pindah kelas atau melipat buku mata pelajaran tetap juga dilakukan. Sungguh suasana di bulan Mei pertengahan tahun memang terasa sampai sekolah, bahkan sampai ke dalam kelas.
Setiap kali Pak Marmuj keluar kelas semua siswa sigap bergerak ke arah meja guru. Kali ini Pak Marmuj sengaja memperlambat keluar kelas sambil sedikit melirik ada apa dengan siswa.
Sambil keluar mengarah ke kantor sekolah, Pak Marmuj melirik meja dimana ia mengajar, ternyata ada sebagian murid yang mengerumuni mejanya. Pak Marmuj tanda tanya ada apa ya.
Kejadian ini sebenarnya sudah beberapa kali diketahui tak sengaja oleh Pak Marmuj, namun dengan sedikit curiga Pak Marmuj mencoba mencari tahu.
Terdengarlah suara dari dalam kelas.
Siswa pertama; saya duluan,
Siswa kedua; ok yang penting saya dapat.
Siswa ketiga; bagi sedikit pun jadi.
Dengan penuh tanda tanya curiga, jangan-jangan semua menyatu dalam pikiran Pak Marmuj menghantarkan langkahnya menuju kantor sekolah.
Sampai ke kantor Pak Marmuj duduk sedikti lemas, lunglai mungkin hawa panas di luar mengiringi suasana kantor.
Dinginnya AC tidak terasa apalagi ketika beberapa guru kumpul bersama.
Pak Marga; ada apa Pak Marmuj, sepertinya hari ini kurang semangat, karena cuaca panas ya.
Pak Marmuj; hem…..ya memang panas pak.
Pak Marga; lihat siswa kita juga jarang yang keluar kelas, memang cuaca panas menjadi mager.
Pak Marmuj; apa itu pak mager.
Pak Marga; Mager itu Malas Gerak.
Pak Marmuj; oh….berarti memang buah mangga tidak jatuh dari pohonnya.
Ini pak Marga, saya perhatian beberapa kali, siswa di kelas saya selalu menyerbu meja guru ketika saya keluar kelas. Saya jadi tanda tanda ada apa ya.
Pak Marga; buah mangga jatuh tidak jauh dari pohonnya, itu apa maksudnya pak Marmuj, kami jadi bingung ini. Tapi ini kita cerita lain dulu lah, karena cuaca panas, kadang air satu gelas selalu berbagi. Semua merasa dahaga, mungkin berbagi minuman itu lah yang paling realistis.
Pak Marmuj; oh….begitu pak.
pak Marga sebagai guru agamapun memberi penjelasan tentang meminum bekas minuman guru atau ustadz atau kyai kalau di pesantren.
Pak Marga; begini Pak Marmuj, ini lihat tapi dengarkan saja biar saya bacakan.
Di pesantren, banyak dari kalangan para santri yang berebutan minum air sisa kiainya. Bapak tahu mengapa ini mereka lakukan, tidak lain karena para santri berkeyakinan bahwa bekas dan sisa air minuman kiainya tersebut mengandung keberkahan.
Memang kalau dikaji lebih dalam apakah memang ada keutaman khusus minum sisa air orang saleh? Minum air sisa orang lain, terutama orang-orang saleh seperti kiai dan lainnya, di dalam Islam diperbolehkan. Bahkan para sahabat sering minum air sisa dari Nabi SAW.
Sebagai guru agama saya harus jelaskan ini sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Sahl bin Sa’ad Al-Sa’idi, dia berkata;
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أُتِىَ بِشَرَابٍ ، وَعَنْ يَمِينِهِ غُلاَمٌ وَعَنْ يَسَارِهِ أَشْيَاخٌ ، فَقَالَ لِلْغُلاَمِ أَتَأْذَنُ لِى أَنْ أُعْطِىَ هَؤُلاَءِ. فَقَالَ الْغُلاَمُ لاَ ، وَاللَّهِ لاَ أُوثِرُ بِنَصِيبِى مِنْكَ أَحَدًا . فَتَلَّهُ فِى يَدِهِ
Rasulullah Saw pernah disodorkan suatu minuman. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak muda dan sebelah kiri beliau terdapat para sepuh. Nabi Saw mengatakan pada anak muda tersebut, “Apakah engkau mengizinkanku memberikan minuman ini terlebih dahulu pada mereka yang lebih sepuh? Pemuda itu menjawab, “Tidak. Demi Allah aku tidak mau bekas dari minummu yang sebenarnya sebagai jatah untukku lebih dahulu diserahkan pada selainku.” Lantas minuman tersebut (bekas dari Rasulullah Saw) diserahkan ke tangan pemuda tersebut.”
Panasnya cuaca di luar kantor seakan sedikit hilang karena suasana semakin yang mencair seperti es menjadi seakan menyapa para guru yang asik mendengar cerita antara pak Marmuj dan pak Marga.
Pak Marga: bagaimana Pak Marmuj?
Pak Marmuj; wah…..lanjut….lanjutkan pak ini penting ini.
Pak Marga; ketika saya dulu belajar di Pesantren kami ada belajar kitab Biharul Anwar, di dalamnya ada penjelasan bahwa bahwa di antara keutamaan minum air sisa orang saleh adalah ia menjadi obat.
Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa air sisa minuman orang saleh bisa menyembuhkan tujuh puluh penyakit. Ini sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Sinan, dia berkata bahwa Abu Abdullah berkata;
في سؤر المؤمن شفاء من سبعين داء
Pada sisa (air dan makanan) orang mukmin itu bisa menyembuhkan tujuh puluh penyakit.
Dalam kitab Biharul Anwar disebutkan bahwa Muhammad bin Ismail berkata;
من شرب سؤر أخيه المؤمن تبركا به خلق الله منه ملكا يستغفر لهما حتى تقوم الساعة
Barangsiapa minum sisa saudaranya yang beriman karena mengambil berkah dengannya, maka Allah menciptakan malaikat darinya yang memohonkan ampun kepada keduanya hingga hari kiamat tiba. Itu saya ambil dari search ke https://bincangsyariah.com/kolom/keutamaan-minum-sisa-air-orang-saleh/
Panas terik di luar tiba-tiba menjadi dingin, mungkin mendung telah menghampiri sekolah, menjelang siang.
Pak Marmuj; wah saya curiga ini pak.
Pak Marga; curiga apa pak Marmuj. Pak Marga sedikit serius bahkan bingung.
Pak Marmuj; kecurigaan saya mungkin hari ini terjawab pak Marga, mengapa begitu saya keluar kelas, anak-anak mendatangi meja guru di kelas, jangan-jangan……..
Ya pak Marga jangan-jangan benarlah mungkin mereka meminum sisa minuman saya yang ada di kelas.
Pak Marga; jangan jangan apa maksudnya pak.
Pak Marmuj dengan gaya sedikit mengelus jenggotnya; jangan-jangan saya sudah menjadi guru mencapai level kyai ya pak.
Pak Marga; ya Pak Marmuj…..itu boleh saja…., lantas apa hubungannya dengan pernyataan bapak tadi buah mangga jatuh tidak jauh dari pohonnya?
Pak Marmuj; ya karena memang saya dulu juga waktu kuliah selalu meminum sisa minuman dosen saya pak.
Hahahahahha. Pak Marmuj….Pak Marmuj…..memanglah….
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; setiap kita adalah guru, karena guru tidak mesti mengajar di kelas, di sekolah atau di kampus tetapi dimana saja kita berada ketika berbuat kebaikan pada orang lain maka peran guru ada di sana.
Kedua; sebagai guru apapun yang kita miliki menjadi kebaikan pada orang lain, bahkan apapun yang kita lakukan menjadi tauladan bagi siapa disekitar kita, bahkan diam kita adalah kesetujuan terhadap apa yang terjadi.
Ketiga; minum berbagi dengan murid itu adalah luar biasa, sengaja memberi bagian pada murid yang dilakukan oleh seorang guru adalah sebuah hikmah yang dapat memberi berkah menyertai ilmu yang diberikan.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















