Teknologi pendidikan merupakan bidang garapan yang tidak digarap oleh bidang atau disiplin lain. Penggarapan ditopang oleh sejumlah teori, model, konsep dan prinsip dari bidang dan disiplin lain seperti ilmu perilaku, ilmu komunikasi, ilmu kerekayasaan, teori/konsep sistem, dan lain-lain yang tidak dapat diperinci satu persatu. (Yusufhadi Miarso, 2004:121).
Belajar itu sulit karena ingin mendapatkan hal baru yang sebelumnya tidak ada sama sekali, belajar itu mudah karena kita telah memiliki pengalaman sebelumnya untuk dikaitkan dengan apa yang akan kita pelajari.
Belajar itu menyenangkan karena kita dibantu oleh orang lain atau pihak lain yang memberi bimbingan, arahan atau bantuan agar kita melakukannya dengan senang menggembirakan. Ketiga hal di atas semua pernah kita alami, namun mana yang lebih dominan tergantung dari perjalanan pembelajaran selama ini.
Belajar itu memang gejala kompleks, dibutuhkan langkah rinci untuk menguraikannya agar menjadi sederhana dan sistematis. Untuk itu lahir apa yang disebut dengan Teknologi Pendidikan dengan visi utama adalah mempermudah orang belajar.
Menurut Yusuf Hadimiarso; teknologi pendidikan berusaha menjelaskan, meringkaskan, memberikan orientasi, dan mensistematiskan gejala, konsep, teori yang saling berkaitan dan menggabungkannya menjadi satu, yang merupakan pendekatan isomeristik. Pendekatan ini juga menekankan perlunya ada daya lipat atau sinergi.
Sampai saat ini kita masih mendengar atau bahkan menyaksikan bagaimana sulitnya orang belajar, jenuhnya anak mengikuti pelajaran di sekolah, atau kurangnya hasrat mengikuti program belajar. Ini adalah gejala yang lumrah, namun tidak dapat disalahkan pada satu pihak apalagi kepada mereka yang belajar.
Mengikuti kegiatan belajar itu sudah merupakan langkah penting sebagai awal dari kesadaran betapa pentingnya belajar dalam kehidupan seseorang. Jelas belajar itu walaupun sulit tetapi tetap menarik dan harus diberi perhatian agar menjadi menyenangkan.
Sebagai seorang pendidik, maka harus mengerti memahami dan mengeksplorasi berbagai hal terkait dengan belajar, apalagi persoalan sulitnya seseorang untuk belajar.
Guru yang baik adalah yang memberikan kenyamanan anak dalam belajar, sehingga mereka merasa senang untuk mengikuti pembelajaran secara berkelanjutan. Guru dimaksud harus memahami berbagai alat atau instrumen pembelajaran diantaranya adalah teknologi pendidikan.
Yusufhadi Miarso sebagai seorang pionir Teknologi Pendidikan Indonesia telah lama memberikan perhatian serius tentang bantuan belajar bagi seluruh anak negeri.
Tidak ada yang sulit, apalagi kurangnya kesempatan untuk belajar dimanapun kapanpun oleh siapapun. Belajar kini dapat dengan mudah diakses, diikuti bahkan dijadikan gaya hidup bagi generasi milenial seperti kuliah di kampus online.
Belajar dan masa depan menjadi sebuah kausalitas yang pasti, memberikan kemudahan untuk belajar dengan akses seluas-luasnya adalah sebuah keniscayaan.
Maka dengan dasar inilah; teknologi pendidikan berusaha mengidentifikasi hal-hal yang belum jelas/belum terpecahkan, dan mencari cara-cara baru yang inovatif sesuai dengan perkembangan budaya dan hasrat manusia untuk memperbaiki dirinya. Tak ada yang sulit dalam hidup ini, teknologi memberikan satu solusi untuk setiap apa yang kita inginkan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















tulisan ini dipersembahkan untuk sdr kami Prof.Dr.Lukman Laliyo,M.Pd atas pengukuhan guru besar teknologi pendidikan dari Universitas Negeri Gorontalo untuk Indonesia yang lebih baik.