Manusia memiliki kemampuan menyusun dan menelaah kebenaran fakta untuk mengubah dan menegaskan keyakinan yang dianutnya. Pada umumnya, untuk mempertimbangkan sesuatu, kita melakukannya dengan nalar yang prosesnya disebut pemikiran atau penalaran. Sementara hampir semua manusia sehat memiliki kemampuan berpikir, sebagian kecil di antara kita tidak dapat melakukannya dengan baik. (Bo Bennett, 2015:16)
Diam itu emas, tidak diam berarti tidak mendapatkan emas, ternyata diam yang dimaksud bukan lawan dari tidak diam, tetapi proses sebelum atau sesudah melakukan aktivitas.
Mengapa ada tahapan diam, karena tidak beraktivitas seperti berbicara, berbuat, atau bertindak sangat terkait dengan apa yang dilakukan. Artinya diamlah sebelum kamu beraktivitas, dan diamlah setalah semua kamu lakukan sesuai dengan kemampuan.
Diam adalah satu keadaan kita harus berdialog dengan diri sendiri, mempelajari, mempertimbangkan, dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Tidak ada yang sia-sia. Dialog ini disandarkan pada pelajaran tentang logika, bayangkan bila kita diam tanpa pengetahuan yang cukup tentang logika itu sangat berbahaya.
Dengan menggunakan logika yang buruk dan proses berpikir yang keliru, seseorang dapat secara mudah membuat argumen sehingga seolah-olah ;menjadi satu-satunya kesimpulan yang masuk akal dengan mengandalkan “keajaiban”. padahal, kesimpulan masuk akal yang sesungguhnya adalah argumen itu keliru.
Setelah diam sejenak maka kita boleh jadi baru beraktivitas, juga berinteraksi dengan oranga lain. Dalam hal inilah kita perlu persiapan yang kuat dalam berargumentasi. Argumen adalah usaha untuk memengaruhi seseorang atau sesuatu dengan mengemukakan alasan-alasan sehingga orang atau sesuatu itu menerima kesimpulan yang diberikan.
Wah…, sungguh penting ternyata argumen, logika bahkan alasan mengapa kita mesti diam dan berbuat, lalu diam lagi. Tidak semua orang yang ada di hadapan kita sama logika, dan argumen yang disampaikan, sebagian mereka justru memiliki keterampilan logika yang mumpuni, atau bahkan terbalik.
Membawa bagian logika terkait keyakinan akan membawa hal yang bersifat emosi. Untuk itu maka menyingkapi keyakinan tak masuk akal akan menjadikan seseorang rasional dalam sehari.
Inilah permainan logika yang kadang tidak logika, tetapi ada didunia nyata, atau selalu kita hadapi. Menghadapi orang bisu maka kita juga menjadi bisu, melawan orang gila, maka kita juga dianggap gila, kira-kira begitu argumentasinya.
Setelah melakukan aktivitas, maka sebaiknya kita diam lagi, untuk merenungkan, apakah yang dilakukan akan berdampak, apakah setelah itu bila dinilai sesuai dengan apa yang kita pikirkan sebelumnya. Lingkaran ini akan terus berulang setiap kali kita diam, beraktivitas kemudian berbuat lagi.
Dalam logika ini maka menyingkap pemikiran tak masuk akal akan menjadikan seseorang rasional sepanjang hidup. Saya senang dengan diam, karena dengan diam saya mendapatkan banyak pengetahuan, boleh jadi diam adalah hanya sekadar tidak bicara, tetapi telinga, mata, bahkan otak terus bekerja membuat pertimbangan untu keputusan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















