Harta dunia memang nikmat besar yang diberikan Allâh kepada para hamba, tetapi nikmat al-Qur`an jauh lebih baik, agung, dan mulia. (Nor Kandir, 2016:5).
Bentangan alam semesta ada di hadapan kita, kedalaman hati ada di dalam diri sendiri, jutaan ummat manusia ada di sekitar kita, dan anggota keluarga ini selalu menjadi bagian yang tidak ternilai.
Kita percaya apa yang kita lihat dihadapan kita bukan sekadar alam semesta tidak berarti, tetapi memiliki awal kini berproses dan satu saat nanti pasti akan berakhir. Diperlukan ilmu pengetahuan untuk mengerti dan memahami bagaimana semua bentangan alam dapat hadir di depan kita.
Dari sini kita menginginkan semua memiliki makna dan dapat dijadikan bagian dari kehidupan yang berarti. Kita menyadari bahwa hasrat hati selalu ingin menguasai, apakah lingkungan kecil, sekitar bahkan seluruh dunia ini.
Namun di saat itu pula kita memiliki keterbatasan diri sendiri, tidak semua harus dirasakan pada saat yang sama, dan kita tidak mungkin berada di mana-mana, intinya harus memilih. Ternyata hati ini bila didengarkan dengan kejujuran kita hanya butuh suara dari dalam diri hanya untuk sekedar hidup lebih baik.
Setiap saat kita berinteraksi dengan manusia lain, dari bangun tidur kita telah berjumpa anggota keluarga, keluar rumah ada teman bekerja, sampai sore hari kita bertetangga.
Banyak berhubungan, banyak pula masalah, apakah saling membutuhkan tetapi juga saling menyaingi bahkan konflik berkepanjangan. Tetapi kita menyadari semua terjadi karena kita memang membutuhkan orang lain dalam hidup ini.
Sehebat apapun pengalaman kita di dunia ini, kita akan lebih senang pulang ke kampung halaman, senyaman apapun kita di pekarangan tentu puang ke rumah adalah tetap jadi tujuan. Mengapa mesti di rumah karena di sana ada anggota keluarga yang memberikan kehangatan untuk saling berbagi, menyayangi dan merasa semua adalah sama.
Nor Kandir menelusuri bahwa semua yang pernah kita pikirkan adalah hal luar biasa, namun di balik itu akan menjadi bermakna ketika kita mengerti bagaimana memahami, mengelola dan menjadikannya sebagai sebuah tujuan.
Tuntunan untuk hal ini adalah dengan Al Qur`an, menurut beliau yang menarik di sini, Allâh mendahulukan penyebutan al-Qur`an sebelum manusia, padahal semestinya kebalikannya karena manusia yang membaca al-Qur`an.
Penyebutan objek (al-Qur`an) sebelum subjek (manusia) merupakan susunan yang tidak lazim. Tetapi dengan ini, Allâh mengisyaratkan bahwa al-Qur`an merupakan pedoman manusia dan sia-sialah penciptaan mereka jika berpaling dari al-Qur`an. Lantas apakah kita tetap berburu dunia, padahal yang paling utama adalah Al Qur`an.
Boleh jadi dunia yang diarahkan oleh nilai-nilai Al Qur`an tentang pengertian, pemahaman, pengelolaan sampai pengendalian akan mengarahkan kita menuju kebahagiaan. Nikmat al-Qur`an jauh lebih baik, agung, dan mulia bukan hanya di dunia tetapi sampai melewati batas semua yang ada.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















