Pendidikan karakter tidak gagal karena kekurangan program, tetapi karena kekuasaan kelebihan keteladanan palsu. Anak-anak tidak kehilangan moral karena tidak diajari, tetapi karena terlalu sering melihat kebohongan dimenangkan, dirayakan dan diberi panggung. (Engran Silalahi 2025).
Pendidikan berlangsung di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja, tidak dibatasi oleh dinding kelas, terbatas oleh kalender waktu, apalagi harus tunduk pada karakteristik guru.
Itulah pendidikan karena setiap tempat dapat menjadi sekolah, sepanjang hayat menjadi proses pendidikan, dan bahkan siapapun orang di muka bumi ini memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan pendidikan.
Sungguh betapa luasnya makna pendidikan karena dapat menjangkau berbagai situasi, bahkan masa lalu, hari ini sampai masa depan semua ada dalam genggaman apa yang disebut dengan pendidikan.
Kita boleh berharap dengan guru agar siswa belajar di kelas dengan baik, sesuai jadwal dan aturan, bahkan kurikulum dipersiapkan untuk masa depan. Namun kelas adalah miniatur yang kecil, boleh jadi keterbatasannya menjadi absurd ketika kenyataan yang lebih besar tidak dapat direpresentasikan lewat kegiatan pembelajaran.
Perilaku jujur, disiplin dan semangat dengan optimisme, ternyata penuh dengan drama ketika siswa pulang sekolah berbeda dari kehidupan kelas, sekolah atau ujian yang dipelajari.
Kita saat ini boleh saja berencana bagaimana peserta didik adalah generasi yang benar-benar dipersiapkan untuk menggantikan peran dalam berbagai jabatan. Namun demikian apakah generasi masa kini telah memiliki tanggungjawab yang jujur terhadap karakteristik mereka di masa depan.
Target dan jadwal yang menjadi ukuran dalam pendidikan apalagi menjadi indikator keberhasilan pimpinan kepala daerah, justru kadang jadi bumerang merusak proses pendidikan yang sedang dijalankan. Ingat pendidikan itu proses bukan produk.
Apakah kita telah memiliki kesamaan dalam memahami pendidikan? Sungguh sulit menjadikan makna bersama, apalagi tangngung jawab berbagi terlebih peran yang dimainkan oleh semua orang tentang pendidikan.
Bayangkan guru mati-matian menjadi teladan, sementara orang tua di rumah memeragakan orkestra lain tentang keluarga, anak bukan saja bingung tetapi diambang kehilangan figur ketauladanan. Apalagi tontotan di televisi, panggung di berbagai platform media.
Engran Silalahi seorang guru peradaban menjadikan fenomena bukan sekedar fakta apalagi opini untuk dijadikan bahan politisi. Tidak sekali lagi tidak, itu adalah nyata, antara pendidikan nilai di dunia pembelajaran sangat timpang dengan apa yang dialami selama ini.
Seorang Engran wajar bertutur dengan jujur tentang kegelisahan generasi sehingga beliau berani menuliskan bahwa sejarah selalu menutup kisah seperti ini dengan satu kalimat dingin:
Bangsa tidak runtuh karena melanggar aturan, tetapi karena berhenti merasa malu saat melanggarnya. Mungkin maksudnya adalah bangsa kita sendiri.
Merasa bertanggungjawab terhadap terbitnya peradaban untuk masa depan, Engran Silalahi guru peradaban dari Sumatera Utara mengakhiri kalimatnya dengan optimisme tiada kenal lelah yakni; Jika negeri ini sungguh ingin generasi emas 2045, maka yang pertama harus diperbaiki bukan kurikulum dan buku pelajaran, melainkan kejujuran sistem dan teladan dari kekuasaan yang mengklaim sedang mendidik mereka hari ini.
Generasi emas 2045 pasti terjadi, semoga kita tidak terjebak dengan estimasi yang penuh dengan drama masing-masing mengklaim paling jitu paling solutif.
Benar secara kalkulasi 2045 itu 19 tahun lagi, tetapi diskusi tentang pendidikan tidak akan berhenti dan harus mendengar dunia yang lebih luas. Sungguh ternyata peradaban itu nyata dan sedang kita ukir lewat diskusi saat ini.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















