Terdapat banyak pendekatan untuk mengkaji dialog agama dalam berbagai perspektif. Sedikitnya ada tiga hal yang berbeda untuk memberikan makna yang lebih luas yakni; dialog agama dalam perspektif normatif, dialog agama dalam perspektif filosofis dan dialog agama dalam perspektif sosiologis. (Ja`far, 2013).
Lahirnya agama pada dasarnya adalah untuk memberikan tuntunan bagi ummat manusia bagaimana ia hidup di dunia ini, kemudian hidup untuk alam akhirat sesuai dengan keyakinannya. Hidup di akhirat adalah tujuan, namun jalan menuju kesana perlu dipelajari, dipahami, kemudian dijalankan agar pencapaian dapat dilalui dengan baik dan benar.
Lahirnya berbagai agama, adalah memiliki latar belakang apakah itu teologis, sosiologis terlebih kronologis. Dari aspek teologis diakui bahwa agama mengusung pengakuan terhadap supranatural yang hanya dimengerti dan dapat diamalkan oleh penganutnya, jadi tidak perlu diperbincangkan sampai lintas penganut.
Dari aspek sosiologis agama memberikan nilai bagiamana hidup sendiri, bersama maupun bertetangga, maka perlu membicarakan batas-batas toleran atau kerjasama.
Dan akhirnya aspek kronologis adalah satu catatan dimana semua agama memiliki keterkaitan kehadiaran baik dari sisi waktu, tempat maupun ketokohan yang membawanya. Ini fakta maka perlu dikaji secara proporsional dan bukan untuk diperdebatkan.
Interaksi antar pemeluk agama selalu membawa pada kajian yang tidak proporsional, oleh ini Ja`far memberi tiga hal utama untuk menjadi acuan dalam interaksi antar agama yakni sebagai berikut:
Pertama, dialog agama dalam perspektif normatif, mencakup tafsir tematik dari sejarah dan metode, pendekatan sastra dalam studi al qur`an, konsep khalifah menurut al quran, kedudukan akal dalam hadis, hadis-hadis tasawur, keummian nabi muhammad saw menurut teologi syiah, dan argumen Islam untuk perdamaian. Studi formal sangat penting untuk memberikan dasar-dasar dialog agama ini, tidak sembarangan orang boleh bicara tentang agama itu sama, atau mana sisi yang berbeda. Formal dalam arti lembaga atau identitas yang terlegitimasi sangat penting sehingga dialog antar ummatnya menjadi produktif.
Kedua, dialog agama dalam perspektif filosofis, terdiri atas Islam dan perdamaian dalam kitab, dialog filsafat agama, pancasila dan perdamaian, sampai pemikiran pendidikan organisasi. Agama bukan hanya persoalan ibadah atau hubungan dengan Tuhan. Tetapi agama juga dapat difungsikan untuk menjadi solusi terlebih ketika kita menghadapi masalah sosial. Kajian tentang dialog antar agama harus didukung oleh berbagai peneltian, juga fakta bahkan persepsi penganutnya khususnya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, dialog agama dalam perspektif sosiologis, teori-teori sosiologi tentang asal usul agama, persembahan agama-agama besar dan agama-agama lokal dan gerakan spiritualisme dalam Islam. Lahirnya pemikiran tentang dialog agama boleh jadi dari adanya kesadaran ada yang alpha ketika melihat dunia nyata.
Tafsir sosiologis yang sangat dinamis membutuhkan tokoh agama untuk memberikan panduan praktis bagaimana hidup rukun walau berbeda agama, hidup damai walau tujuannya personal.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















