Studi sosial yang obyek dan ruang lingkup studinya demikian luas, dalam kerangka kerjanya tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus pula berhubungan dengan bidang studi lainnya yang juga erat hubungannya dengan ruang lingkup kemasyarakatan. (Nursid Sumaatmadja,1985:136).
Ketika manusia jumpa dengan manusia lain maka lahirlah apa yang disebut komunikasi, didalamnya ada interaksi fisik, mental bahkan kebutuhan atau harapan. Kajian tentang hubungan perjumpaan ini disebut dengan studi sosial.
Selagi manusia membutuhkan orang lain, maka studi sosial akan terus berlangsung, begitu juga sampai kapanpun manusia akan membutuhkan orang lain, di saat itulah studi sosial terus mencari solusi agar berjalan dengan baik.
Terdapat enam hal penting terkait dengan studi sosial dalam mengembangkan metodologi untuk mengatasi berbagai masalah di tengah-tengah masyarakat:
Pertama, studi kependudukan, studi geografi, studi lingkungan dan lain-lain sebagainya harus dapat dimanfaatkan oleh studi sosial. Studi sosial tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus memberi ruang untuk saling membutuhkan dalam mengkaji dan menganalisis masalah masyarakat. Oleh karena itu data kependudukan, fakta geografi, serta situasi lingkungan harus dapat disinkronkan memberi informasi yang akurat bagaimana memahami persoalan masyarakat yang sangat kompleks.
Kedua, antara studi sosial dengan bidang studi lain dapat dilakukan pertukaran data dan pertukaran informasi. Data dan informasi dapat diperoleh melalui metodologi penelitian, apakah dengan survey ataupun sensus. Data dan informasi tentu tidak dapat berbicara, atau hanya onggokan angka, untuk itulah dalam studi sosial dapat diberi makna dan akhirnya memberi informasi yang akurat tentang kecenderungan, peluang atau bahkan kemungkinan yang akan terjadi.
Ketiga, bahkan dalam melaksanakan fungsi dan peranan tertentu keempat bidang studi dapat bekerjasama secara terintegrasi. Empat bidang studi sosial memang harus tumbuh dan berkembang mencari berbagai data dan keterangan, namun pada titik tertentu harus saling berbagi, saling mengisi dan saling memberikan dukungan untuk melakukan analisis kebijakan.
Keempat, studi sosial berperan menyusun peta permasalahan masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan individu, kepentingan, kebutuhan bahkan harapan. Ketika individu bersatu maka lahir komunitas, namun bila kepentingan bersatu bukan tidak banyak yang mengalami konflik (konflik kepentingan), begitu juga ketika kebutuhan ingin dipenuhi maka skala prioritas selalu menjadi pertimbangan, akhirnya harapan akan lahir bagi mereka yang memiliki kekuatan. Studi sosial dengan dukungan ilmu-ilmu lain bertugas memberi informasi akurat dan analisis peta harapan dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi.
Kelima, menganalisis kesenjangan strata sosial. Kompleksitas di tengah-tengah masyarakat adalah dinamika yang tidak dapat dihindari, sekecil apapun yang terjadi pasti memberi konstribusi pada kehidupan yang lebih luas. Studi sosial akan lebih akurat memahami bagaimana strata sosial yang terjadi, level berfikir, berbuat dan berpihak pada anggota masyarakat tidak dapat dipisahkan dari apa yang sedang terjadi terlebih apa yang sedang mereka perjuangkan.
Keenam, memberi solusi terhadap kesejahteraan yang diterima dalam standar universal. Studi sosial tentu tidak sekedar menganalisis secara deskriptif apa yang terjadi, tetapi memberi solusi apa yang harus dilakukan lewat berbagai alternatif tawaran tindakan. Nilai dan prinsip umum yang terjadi di tengah masyarakat selalu menjadi pertimbangan bagaimana studi sosial mempertimbangkan alternatif tindakan agar lebih efektif dan berdampak nyata.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















