Nilai-nilai yang terdapat dalam suatu paham kebangsaan atau nasionalisme, pada dasarnya adalah nilai-nilai kehidupan yang dapat membentuk sikap dan semangat solidaritas dalam pergaulan hidup bersama sebagai suatu bangsa. Semangat solidaritas itu pertama-tama diperlukan dalam upaya menghadapi tuntutan dan tantangan kehidupan bersama. Dengan semangat solidaritas itu, seorang nasionalis akan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan dirinya sendiri. (Siswono Yudo Husodo, 2004:121).
Faham kebangsaan selalu terkait dengan sejarah, perjuangan dan ideologi. Sejarah yang menjadi perjalanan satu masyarakat mengikat nilai-nilai yang sama akhirnya disepakati menjadi satu bangsa.
Perjuangan adalah kerja yang sangat berisiko, tetapi tetap dilakukan demi mempertahankan yang sudah ada, dan kemudian ingin melanjutkan sesuatu yang diinginkan, akhirnya ada harapan yang akan dicapai. Akhirnya sejarah dan perjuangan selalu terkait dengan nilai yang sama dan permanen sampai kapanpun tetap dipertahankan yakni ideologi.
Sejarah dimulai sejak manusia mengenal tulisan, tetapi sejarah memiliki kompleksitas yang sangat tinggi, bahkan penulisnya selalu terikat dengan apa yang akan disampaikan. Fakta sejarahnya sama, tetapi emosi yang mengiringi tulisannya berbeda, jadi tergantung siapa yang menulis.
Ketika satu, dua dan sekolompok orang mengalami sejarah yang sama, pasti ditengah-tengahnya ada yang lebih banyak berbeda. Autobiografi dianggap mewakili pengalaman pribadi, dari empiris, fakta sampai opini semua sah dan dibenarkan sebagai bagian dari sejarah.
Perjuangan dilakukan ketika ada satu tujuan yang harus dicapai, semakin banyak rintangan dan hambatan apalagi perlawanan maka kata perjuangan semakin bermakna. Perjuangan dapat dilakukan oleh banyak orang, sekelompok orang, tetapi juga mungkin oleh satu orang sekalipun.
Perjuangan yang sama akan membawa emosi dan akhirnya diikat oleh nilai-nilai yang disepakati yakni sama-sama berjuang untuk mendapatkan tujuan. Tetapi kadang-kadang waktu berjuang bersama-sama ketika sudah sampai tujuan interpretasinya jadi perorangan.
Ideologi dibentuk dari nilai-nilai yang disepakati secara universal oleh banyak orang, bahkan lintas komunitas, dan yang paling utama melampaui zaman. Ideologi akan terbukti ketika adanya tantangan, hambatan, perjuangan bahkan banyaknya orang yang mempermasalahkan.
Ideologi yang bertahan dari zaman ke zaman itu berarti dapat menjadi nilai untuk menghantarkan perjuangan perorangan, perjuangan sekolompok dan bahkan perjuangan banyak orang.
Solidaritas selalu hadir ketika seseorang berjumpa dengan orang lain semakin banyak orang yang dijumpai merasa senasib dan seperjuangan. Dari sana lahir bangsa yang kuat karena mereka menyatukan sejarah, kemudian memperjuangan nilai untuk menggapai masa depan.
Dan yang paling utama adalah setelah melewati satu tahapan perjuangan atau keberhasilan sementara semua orang merasakan hal yang sama, bukan untuk segelintir orang. Ingat apakah kita hari ini hanya menjadi bagian sejarah, atau ingin menjadi pejuang, atau pemimpi ideologi kebangsaan?
Jawabannya ada pada definisi keberhasilan apakah semata hasil jerih payah sendiri atau kontribusi dari banyak orang.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















