Masalah dalam berumahtangga ada bermacam-macam, mulai dari masalah keuangan, kerukunan, dan masalah yang paling vital, yakni keharmonisan. Mengapa keharmonisan menjadi masalah paling vital. Sebab dengan keharmonisan rumah tangga yang didamba-dambakan oleh manusia orang akan muncul kepermukaan. Dengan keharmonisan pula suami dan istri mengalami ketenangan, ketentraman, dan kenyamanan dalam hidup berumah tangga. (Nur Rokhim, 2012:12).
Tidak ada perceraian tanpa pernikahan, tidak ada keributan tanpa ketenangan, tidak ada perwalian tanpa keturunan, tidak ada permasalahan tanpa keharmonisan. Mengapa kita mesti menikah salah satu jawabannya adalah mengikuti sunah rasul, namun apakah sunah tersebut hanya memerintah untuk menikah?
Jawabannya tidak, karena menikah itu ada dasarnya, proses yang dilalui dan kemudian merawat sampai akhir hayat. Justru apakah semua itu dijalani sesuai dengan sunnah rasul? Pertanyaan kedua ini menjadi jawaban untuk pertanyaan pertama.
Pernikahan diawali dari adanya saling mengenal lawan jenis, pengenalan dari sisi kebaikan itu sangat penting, tetapi memberikan apresiasi tentang hal yang lebih baik itu adalah hal utama.
Siapa saja yang disibukkan dengan hal-hal kebaikan, sesungguhnya dia akan terhindar dari cerita tentang ketidak baikan. Namun kenyataannya masih banyak saudara kita yang justru membalikkan keadaan, dimana awal pernikahan dengan kebaikan, tetapi justru menjauh setelahnya.
Nur Rokhim mencoba memahami tentang pernikahan dalam perspektif suami, dimana keburukan boleh jadi muncul akibat hal-hal kecil, tetapi justru dari sini kita harus belajar cara mengatasinya.
Menurut beliau bahwa sikap-sikap buruk suami yang dapat memperburuk keharmonisan rumah tangga antara lain:
Pertama, tidak pernah bercanda atau bergurau. Bercanda itu adalah melakukan hal yang diluar logika, tetapi selingan yang dilakukan sangat penting untuk memberikan relaksasi dalam berinteraksi. Sama halnya dengan bergurau, melakukan sesuatu tanpa alasan apalagi tujuan, namun semuanya terkendali dalam koridor hukum perkawinan.
Kedua, menjadikan istri sebagai kepala rumah tangga. Pernikahan adalah ikatan seorang suami dan istri dalam satu sistem nilai. Suami menjadi kepala rumah tangga begitu juga istri berperan memberikan dukungan bukan sekedar pendamping tetapi pelaksana kebijakan. Tidak ada istri yang besar kepala bebas mengendalikan rumah tangga, bila suaminya memberikan peran sesuai sunnah. Hal di atas dapat dilakukan bila keduanya mengerti, memahami dan mau melakukan bersama.
Ketiga, memukul dan menghina istri.
Memukul kesannya adalah memberi sentuhan fisik dengan kekerasan. Padahal istri membutuhkan sentuhan dengan kasih sayang atau psikis yang penuh makna. Walaupun kata-kata itu kadang melukai hati lebih sakit dari cubitan, tetapi memukul dan menghina berarti mengingkari kesepakatan perjanjian.
Keempat, tertutup dan tidak jujur.
Ketika sudah bersama maka hanya satu tujuannya yakni hidup bahagia. Logika fisik membenarkan satu tambah satu adalah dua, tetapi dalam rumah tangga seorang ayah ditambah dengan seorang ibu maka menjadi keluarga yakni ayah, ibu dan anak. Bila jujur dilakukan sejak awal maka semua terbuka tanpa ada rasa bersalah.
Kelima, selalu mengeluh di depan istri.
Suami adalah kepala rumah tangga, tanggungjawab ada dipundaknya, dimana dia menghadapkan diri kepada Tuhan bukan kepada sesama manusia. Apapun yang dialami sampaikan kepada Tuhan bukan kepada manusia, bila keyakinan ini dipupuk sejak awal, maka tidak ada istilah mengadu apalagi mengeluh kepada istri.
Keenam, mencela keluarga istri dan lain sebagainya. Menikahi seorang istri berarti siap dengan berbagai konsekuensi diantaranya keluarga yang menjadi latar belakangnya. Jangan sekali-kali membedakan disana keluarga istri dan disini keluarga suami padahal keduanya adalah keluarga besar karena pernikahan kita sendiri. Konon mencela diantara mereka justru sesungguhnya adalah menyampaikan kelemahan atau keburukan diri sendiri.
Kita jadi ingat ketenangan, ketenteraman dan kenyamanan ternyata bukan dibangun atas dasar mencela, apalagi mengeluh, terlebih lagi tidak jujur dan tertutup dengan pasangan.
Tetapi bila seorang suami memahami makna pernikahan dan merawatnya dengan baik, salah satu kuncinya jalankan sunnah secara istiqomah.
Serahkan pada Tuhan, karena dia memiliki kekuatan dan memberkahi siapa saja yang menjadikan rumah tangga adalah sarana untuk meningkatkan nilai ibadah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















