Baik agama maupun ilmu pengetahuan atau sains, keduanya merupakan kunci pembuka kebenaran. Masing-masing membuktikan kebenaran dengan caranya sendiri. Dasar pemikiran ilmu pengetahuan ialah keragu-raguan atau tidak percaya. Dimulai tidak percaya, sains melalui metode yang sistematis berdasarkan fakta empiris mencari pembuktian kebenaran ilmiah. Kebenaran yang dicapai oleh sains selalu bersifat relatif, tidak pernah mencapai kebenaran mutlak. (Abdul Aziz Ahyadi, 1995:1).
Kebenaran itu penting, karena dengan kebenaran kita dapat melangkah dengan pasti, kemudian lewat keyakinan kita akan menuju satu hal yang haq. Sungguh empat kata penting yakni benar, pasti, yakin dan haq selalu menjadi bahan diskusi ketika diskusi tentang agama, ilmu dan pengetahuan termasuk sains. Tetapi bila dipahami dengan sistematis, terarah serta sungguh-sungguh maka justru dari sinilah kita mendapatkan pengetahuan yang sangat bermanfaat.
Kebenaran yang dicapai oleh sains selalu bersifat relatif, artinya sains itu tidak pernah menemukan kebenaran mutlak. Sains menyadari bahwa sejak metodologi sampai pengambilan kesimpulan semuanya didasarkan pada kemampuan nisbi yakni relativitas yang dimiliki manusia.
Sains memulai metodologi dari ketidak percayaan atau keraguan. Semua hal yang ada di muka bumi harus dipertanyakan, bahkan diragukan, karena dengan cara seperti ini kita akan memulai dengan sungguh-sungguh bagaimana untuk menemukannya secara pasti. Keragu-raguan itu memang tempat yang membahayakan, tetapi justru jembatan emas menuju kepastian.
Ilmu pengetahuan itu sendiri dibangun dari logika dan empirisme. Interaksi logika dengan kebenaran selalu didasarkan pada asumsi sejauh pengetahuan manusia memahami satu hal.
Sementara empirisme berinteraksi dengan dunia nyata yang kadang menyajikan ketidakpastian. Ketika logika dan empirisme disatukan dengan metodologi, disinilah keraguan menjadi hipotesis, dan dibuktikan dilapangan menjadi tesis. Jadi jelas keraguan tetap mengiringi kebenaran ilmu pengetahuan.
Dari sini kita baru berangkat bahwa ada pengetahuan lain yang diawali dari keyakinan yakni agama. Agama menawarkan dari keyakinan menuju kebenaran.
Artinya kebenaran itu hanya berlaku pada situasi, kondisi, kurun waktu, dan tempat tertentu saja serta selalu masih dapat diuji kembali dengan pengalaman baru yang derajat kebenarannya lebih pasti.
Dan pengetahuan agama, pengetahuan ilmu serta sains memang ketiganya harus ditempatkan pada porsi yang tepat.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















