Setiap kali kegiatan, banyak acara disiapkan, dari undangan sampai makanan semua direncanakan dengan baik, bahkan melibatkan berbagai pihak, namun kadang lupa dan memang sengaja tidak ada evaluasi.
Perencanaan berhari-hari memakan waktu banyak padahal kegiatan hanya beberapa saat, apakah berjalan sesuai rencana, atau tidak sebagian diluar dugaan, hal ini akan diketahui bila memiliki kebiasaan dievaluasi untuk perbaikan masa selanjutnya.
Salah satu Kegiatan atau seremoni yang dilakukan oleh banyak orang adalah kata sambutan selalu menjadi pembuka acara. Kemudian sederet kegiatan formal ditandai dari datangnya pejabat stuktural dilengkapi dengan maksud acara.
Dalam merencanakan kemasan acara biasanya ada standar protokoler seperti pembawa acara, pembacaan ayat suci Al Qur`an, doa, laporan panitia, menyanyikan lagu kebangsaan, hymne organisasi, laporan panitia, sambutan-sambutan, dari kepala desa, camat sampai bupati, mungkin juga gubernur sampai menteri, bahkan kepala negara. Setelah belasan orang bicara, barulah inti kegiatan disampaikan, sungguh itulah acara di negeri kita.
Bayangkan semakin banyak pejabat yang diundang, maka semakin lama acara dikarenakan semua harus disebut, tanpa pengecualian, satu persatu tak boleh ada yang kelewatan.
Pak Marmuj kadang bosan melihat seremoni karena banyak kali penghormatan, sementara inti acara kadang sampai lupa disampaikan.
Perbincangan antara tiga besti selalu to the point langsung-langsung saja tanpa ada protokoler apalagi penghormatan.
Pak Marsam; saya lihat wajah pak Marmuj kalau kegiatan seremoni selalu tidak nyaman, memangnya ada apa ya pak.
Pak Marmuj; hem….kadang kegiatan, acara, seremoni itu hanya soal hormat menghormati, atau gila-gila hormat.
Pak Marsam; ha……gila hormat maksudnya pak.
Pak Marmuj; bayangkan setiap kali ada acara, ya….acara apa saja, terlebih acara di gedung, di hotel, di mana-manalah….sebenarnya paling banyak di kantor.
Ini contohnya, yang saya hormati, bapak ini, bapak itu, ibu ini ibu itu, lengkap dengan pejabat bahkan pangkat sampai titel, dan gelar yang panjang.
Yang saya hormati kadang dikomentari, sampai pengalaman pernah jumpa, atau permintaan yang diharapkan.
Yang saya hormati kadang sekaligus mengabsen siapa saja yang datang, bayangkan yang tidak datang lagsung dikomentari, mencari sebab alasan dan seterusnya.
Pak Marca; ah….Pak Marmuj ini sepertinya baper, wajarlah kita kan budaya timur, kalau tidak dihormati nanti dikira kita tidak sopan.
Pak Marmuj; ya…boleh saja ucapan menghormati, tetapi bapak bayangkan selalu berulang, dan yang disebut itu-itu saja, apakah memang lomba saling menghormati.
Bayangkan dalam satu kegiatan, lima orang pejabat yang disampaikan hanya mereka saling menghormati satu dengan lainnya, hampir empat perlima waktu habis untuk acara hormat menghormati saja. Seperti yang saya sampaikan tadi gila hormat.
Pak Marsam; nah…memangnya Pak Marmuj ada usulan?
Pak Marmuj; ya….ini maksud saja, acara kadang singkat, waktu terbatas, maka saya mengusulkan agar kegiatan efektif dan efisien.
Acara hanya pada tiga bagian saja yakni;
Pembawa acara, tanpa penghormatan,
Laporan panitia mengenalkan sekaligus penghormatan,
Penghormatan hanya sekali sebut tanpa diulang.
Pak Marca; menarik juga itu pak, tapi apa mungkin ya kepala desa memberi sambutan tidak menyebut atasannya, boleh jadi nanti dia dianggap tidak sopan, atau kurang ajar, hahahahahahaha.
Pak Marmuj; bila ini sudah biasa, maka efektif, efisien akan tercapai, dan sebenarnya semua orang setuju, hanya tidak ada yang memulainya.
Pak Marmuj, Pak Marsam, dan Pak Marca terdiam…..sepertinya mengerti, dan saling memahami, benar juga ya……
Pak Marsam; okelah pak, acara memang benar harus mempertimbangkan efektif dan efisien, tetapi menghilangkan saling menghormati juga itu juga tidak eloklah, dinegeri kita ini. Seandainya lah bapak diberi kesempatan untuk pembawa acara, bagaimana cara bapak memberi penghormatan.
Pak Marmuj; Kalau saya yang penting dua kali saja caranya,
Yang saya hormati dan yang menghormati saya.
Yang saya sayangi dan yang menyayangi saja.
Pak Marsam; hem……ada-ada saja Pak Marmuj…..Pak Marmuj….memang lah.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; waktu adalah masa yang dapat kita nikmati dengan cara melakukan kegiatan memanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya.
Kedua; membuat kegiatan dalam bentuk acara seremonial diperlukan perencanaan yang mempertimbangkan efektifitas, efisiensi, dengan tujuan yang tepat sasaran.
Ketiga; menghargai banyak orang itu penting, tetapi pada saat yang tepat ditempat yang tepat itu lebih utama hal ini akan menjadi praktik baik demi waktu yang terbatas dalam hidup manusia.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















