Q~CARE Model (Qana’ah, Cognitive, and Affective for Academic Resilience Education). This model asserts that Academic Resilience in the madrasah environment is optimally developed when spiritual values (Qana’ah) and cognitive identity (Self-Concept) are activated through Emotional Intelligence mechanisms (Affective) within an adaptive curriculum ecosystem. This study recommends restructuring Islamic values pedagogy from passive doctrine into active coping strategies to strengthen students’ mental health in the contemporary era. (Syatria Adymas Pranajaya, 2026)
Pendidikan adalah proses transformasi yang terjadi dalam satu keadaan menuju hal yang lebih baik. Dalam transformasi diperlukan pemahaman lebih dalam bagaimana peserta didik dalam mengikuti dengan baik.
Hal ini mengusik pikiran seorang akademisi dari sekadar pemikiran akhirnya dilakukanlah penelitian dengan tujuan untuk mengonstruksi model resiliensi akademik peserta didik melalui integrasi variabel psikospiritual dan kompetensi emosional. Di tengah tingginya beban akademik, kemampuan untuk bangkit dari kesulitan (bounce back capability) menjadi krusial.
Penelitian yang dilakukan menggunakan mixed methods dengan desain sequential explanatory, tahap kuantitatif.
populasi 2.512 dan 268 sample siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) se-Kota
Banda Aceh yang dipilih melalui teknik multi-stage sampling.
Data kuantitatif dianalisis menggunakan Path Analysis. Tahap kedua merupakan pendalaman kualitatif melalui wawancara dengan Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum dan bidang Kesiswaan di 3 MAN Banda Aceh, serta analisis dokumentasi kebijakan kurikulum dan praktik pengajaran.
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan yang luar biasa bila dipahami lebih jauh bahwa secara esensial sebagai berikut:
Pertama, Qana’ah (β = 0,446) dan Self-Concept (β = 0,441) berpengaruh positif
dan signifikan terhadap Emotional Intelligence, namun tidak memiliki pengaruh langsung terhadap Academic Resilience;
Kedua, Emotional Intelligence terbukti sebagai mediator sempurna (full mediation) yang bertindak sebagai jembatan wajib bagi nilai spiritual dan identitas diri untuk bertransformasi menjadi ketangguhan akademik.
Ketiga, Emotional Intelligence ditemukan sebagai prediktor tunggal paling dominan (β =0,814).
Keempat, Tawakal ditemukan tidak signifikan, yang secara kualitatif
teridentifikasi sebagai akibat dari pemahaman fatalisme pasif. Sintesis integratif dari penelitian ini menghasilkan sebuah novelty berupa Q~CARE Model (Qana’ah, Cognitive, and Affective for Academic Resilience Education).
Doktor muda Pendidikan Agama Islam ini sekali lagi membuktikan bahwa model Resiliensi akademik di lingkungan madrasah terbangun secara optimal apabila nilai spiritual (Qana’ah) dan identitas kognitif (Self-Concept) diaktivasi melalui mekanisme kecerdasan emosional (Affective) dalam ekosistem kurikulum yang adaptif.
Akhirnya kita menyetujui bahwa bila peserta didik ingin lebih baik di masa depan maka restrukturisasi pedagogi nilai Islam dari doktrin pasif menjadi strategi koping aktif guna memperkuat kesehatan mental harus dilakukan di era kontemporer.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















