Hari ahad seperti biasa tampak lengang sejenak, namun lalu lalang tetap menjadi pemandangan di jalan, termasuk di kompleks perumahan. Lengang dari kesibukan kendaraan yang terburu karena ingin masuk kerja, atau menghantar anak sekolah, tetapi kali ini tampak semua berjalan santai.
Lalu lalang bukan perjalanan orang-orang pakaian seragam satpam sampai tentara, tetapi yang berbeda justru ibu-ibu membeli sarapan lontong kesukaan keluarga. Begitulah bila hari libur dimanfaatkan untuk kegiatan yang berbeda dari rutinitas hari biasa, tidak hanya suami, istripun demikian, apalagi sebagian anak ada yang aktivitas di rumah ibadah, ada pula tidur memanfaatkan waktu setelah penat sepekan.
Lalu lalang juga terjadi di tetangga Pak Marmuj, namun kali ini bukan sibuk sarapan, atau berangkat kerja, tetapi mereka membawa peralatan lengkap seperti perang dengan mobil pick up dipenuhi seragam lengkap dengan bekal seharian.
Dialah pak Sardin dan pak Dinan yang memang sejak tadi malam sudah sibuk dengan WAG untuk melakukan koordinasi keberangkatan. Keberangkatan kemana? Tiada lain adalah mau ke laut, jelas memancing ikan. Hem….cerita mancing rupanya.
Jelas pemandangan di kompleks ahad pagi itu ada yang berbeda, serombongan bapak-bapak pun berangkat memancing, entah itu liburan, berjuang, atau mencari keberuntungan. Ah…boleh jadi hanya membuang-buang waktu gumam seorang ibu.
Namanya juga beda profesi kata suaminya di teras sambil seruput kopi dan sarapan lontong yang telah tersedia. Memancing memang banyak yang dapat diinterpretasi, mungkin lebih banyak biayanya, daripada jumlah atau nilai hasil ikan yang dibawa pulang. Namanya juga memancing.
Bakda magrib di selasar masjid seperti biasa orang tua duduk santai berbincang, dari soal mogok belajar di sebuah sekolah sampai menteri keuangan dan seterusnya-dan seterusnya. Lewat di halaman masjid serombongan seragam ternyata mereka adalah saudara sekompleks baru pulang memancing. Jadilah pembicaraan yang seru bahkan interpretasi liar melebihi pengamat di televisi.
Pak Marmuj; wah sampai malam rupanya mereka mungkin banyak dapat ikan ya.
Pak Marmas; alah pak….mancing itu hanya buang banyak waktu saja. Saya dulu kan juga pernah hobi mancing, ini sudah pensiun.
Pak Marbot; tidaklah semua mancing itu buang waktu buktinya mereka kompak, ha…… ada yang tua ada pula yang lebih tua lagi, mungkin ada kelebihan duit, atau justru kelebihan waktu sibuk, hingga mereka bisa liburan sekaligus hiburan bahkan menyalurkan hobi.
Ketiga rekan akrab manggut-manggut ……benar juga ya.
Pak Marmuj; saya sedikit curiga mengapa di antara mereka yang hobi memancing itu ada yang sama profesinya. Pertama di komplek perumahan tempat tinggal ada Serikat Tolong Menolong (STM), nah yang hobi memancing pak Pak Sardin. Satu lagi di sekolah ada bendahara dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pak Dinan. Mereka sama-sama hobi memancing, sepertinya ada kesamaan.
Pak Marbot; maksudnya kesamaan apa pak?
Pak Marmuj; ya mereka keduanya sama-sama sibuk bekerja, dan sama-sama hobi memancing. Atau sama-sama apa lagi ya. Harus kita cari kesamaannya lagi, baru kita boleh membuat kesimpulan.
Pak Marmas; biasanya begitu pak, dari cerita yang nyambung, lanjut, hobi, kemudian jadi.
Begitu juga memancing yang pasti sama-sama keluar rumah, mungkin mereka cari kesibukan lain yang asyik. (timpal pak Marmas yang memang sudah lama menjadi bendahara BKM).
Pak Marmuj; oh…ya kita berbaik sangka sajalah. Memang memancing itu ada sisi baiknya tetapi juga ada sisi yang mungkin lebih baik dari yang kita sangka selama ini.
Pak Marbot; ha….ini pak (sambil menunjukkan telepon selulernya) ada rupanya tujuh manfaat memancing. Ayo kita bahas pak.
1.Meningkatkan kesehatan jantung, mungkin dengan memancing orang sabar, maksudnya sabar kapan pancingannya disambar ikan. Hahahahha…..
Pak Marmuj; Ok lanjut kedua. ‘
2.Melatih kekuatan dan fleksibilitas otot. Benar, jorang pancing itu lentur, makanya jaman dulu menggunakan bambu, kini sudah banyak pakai fiber dengan teknologi yang lebih baik kuat lagi. Tetapi yang utama menyesuaikan dengan otot tangan si pemancing.
3.Sumber vitamin D alami. Wah yang ini agak bingung, ternyata ada kaitannya dengan memancing itu biasanya di tengah laut maka sinar matahari melimpah di sanalah vitamin D alami dapat dinikmati.
Pak Marmuj; hahahh…ini dia pantas…
Pak Marmas; pantas apa maksudnya Pak Marmuj?
Pak Marbot; ok….saya lanjutkan lagi ya….
4.Mengurangi stres dan kecemasan. Stres, kalau tidak dapat ikan, tetapi semua terbayar hilang stress karena keluar dari zona pekerjaan selama sepekan yang penat dengan risiko atau kemarahan. Kecemasan menjadi hilang, ternyata memancing bukan sekedar dapat ikan atau tidak, yang penting tarikan nya.
5.Meningkatkan konsentrasi dan kesehatan. Jelas memancing perlu konsentrasi melihat ujung jorang bahkan semut yang ada di sanapun tahu. Tak tahulah yang penting bisa pergi memancing berarti sehat.
6.Membangun hubungan sosial. Biasanya setiap hobi selalu jumpa dengan sesama, walaupun di ujung dunia bila sudah sama menjadi komunitas inklusif. Kita tidak tahu persis, hobi sama, sepakat dan jalan.
Wah banyak juga rupanya hal kebaikan para pemancing, dari cerita kesehatan, komunitas sampai menghilangkan steress dari pekerjaan rutin.
Pak Marmut; ingat baru enam mana yang ketujuh tadi?
Pak Marmuj mencurigai mengapa mereka selau pergi bersama, ternyata pergi memancing di hari-hari libur.
Pak Marmuj; Saya curiga sekali lagi curiga sambil melihat wajah pak Marmas. Maaf pak saya curiga memancing memang bukan persoalan membuang-buang waktu, tak perduli lingkungan, tetapi….
Pak Marmas; tetapi apa pak.
Pak Marmuj; benar ini mungkin yang ketujuh, para pemancing ada kesamaan yakni; pertama mereka sama-sama bendahara buktinya tadi Pak Sardin kan bendahara di STM kita, pak Dinan kan dia bendahara dana BOS di sekolah, dan ini dia bapak Marmas kan bendahara BKM.
Hahahahhaha tertawa bersama, iyaiya,
Pak Marmuj; eh ada yang yang sama lagi, apa itu tahu…..mereka sama-sama tampak gelap……alias badan sedikit gosong…..hahahahhahha. Semua tertawa. Mungking kebanyakan vitamin D di atas laut kali ya.
Hem….inilah cerita memancing dari selasar Masjid yang berada di daerah pinggir kota tepatnya jalan William Iskandar atau jalan…..”Pancing”.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; setiap manusia memiliki pekerjaan dan hobi yang keduanya harus mendapat tempat dan waktu untuk berkesempatan dijalani dalam hidup.
Kedua; hobi memancing adalah pilihan, tidak saja menyalurkan kemampuan tetapi justru hobi yang boleh jadi sesekali menghasilkan perolehan ikan untuk dinikmati bersama anggota keluarga di rumah.
Ketiga; hobi memancing ternyata mendatangkan irisan yang lebih luas, apakah itu persoalan pertemanan, kesehatan, sampai pada mengurangi kepenatan dalam pekerjaan. Teruslah menyalurkan hobi selagi itu menjadi bagian dari kesehatan dan dari sana kita dapat berniat semua kegiatan semoga menjadi nilai ibadah.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita mencari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















