Menjelang akhir tahun ajaran semua tenaga pendidik disibukkan dengan rekap nilai, rekap prestasi sampai rekap seluruh kegiatan terkait dengan kinerja. Baik untuk pengisian rapor, maupun untuk persiapan pembelajaran tahun depan kadang sampai menyita waktu di luar jam tugas.
Beberapa guru terlebih guru dengan tugas tambahan seperti wali kelas menguras waktu, bahkan lembur agar target pekerjaan dapat diselesaikan. Sungguh inilah suasana yang selalu terulang setiap tahunnya, tidak dapat dihindari, bahkan tidak dapat diprediksi apalagi dialihkan dengan pekerjaan lain.
Pembicaraan kerja lembur tidak terhindarkan di hari-hari sekolah, bahkan perbincangan ini mengisi ruang guru ketika istirahat antar jam pelajaran. Itulah guru termasuk di dalamnya adalah Pak Marmuj yang selalu menjadi bagian dari cerita guru dan jam kerja.
Hemmm…..guru-guru junior selalu menjadikan Pak Marmuj untuk memberi petuahnya.
Pak Rahmat; Pak Marmuj bagaimana kita ini, lembur terus setiap akhir tahun ajaran, kira-kira tahun ini ada uang lembur atau tidak ya? Kita semua hal selalu efisiensi.
Pak Marmuj; sabar Pak Rahmat, kita ini kan guru, setahu saya guru itu bekerja minimal 24 jam sepekan, dan maksimal 40 jam, itu sudah diperhitungkan untuk profesi, meningkatkan kompetensi dan lainnya. Coba hitung apakah kita memang sudah lebih dari 40 jam sepekan.
Pak Rahmat; tapi pak.
Pak Marmuj; tidak ada tapi-tapi, mari kita kerja sebisanya, kita sebagai guru sudah ditakdirkan adalah memberi layanan kepada masyarakat khususnya anak didik untuk dididik di sekolah.
Pak Rahmat; ia benar pak, tapi kadang kita harus kerja sampai di rumah, membawa pekerjaan ke rumah.
Pak Marmuj; bekerja sampai ke rumah pun itu harus disyukiri, itu ada tetangga kita rumahnya jadi tempat kerja pun ada. Bahkan kerja 24 jam sepanjang hari pun ada.
Pak Rahmat; memang benar ada pak, ah….macam betul saja.
Pak Marmuj; perhatikan.
Pertama petugas keamanan, seperti polisi, petugas bea cukai, satuan pengaman, bahkan pemadam kebakaran. Mereka adalah profesi yang siap siaga selama 24 jam bekerja sepanjang waktu, bahkan untuk kejadian apapun.
Kedua petugas transportasi, seperti sopir angkutan kendaraan antar provinsi, pilot pesawat, nakhoda kapal, juga masinis kereta api. Semua profesi yang terkait dengan transportasi ini siaga 24 jam yang secara terus menerus menyatu dengan pekerjaannya, kapanpun dan di manapun.
Ketiga petugas kesehatan, seperti dokter, bidan, perawat di rumah sakit atau klinik, bahkan tabib juga dukun bayi di kampung. Mereka selalu siaga kerja kapanpun, yang dibutuhkan oleh siapapun.
Perhatikan ini ada saya searching dari internet;
Dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP-233/MEN/2003 Tahun 2003 Tentang Jenis dan Sifat Pekerjaan yang Dijalankan Secara Terus Menerus. Pasal 3 Ayat (1) menyebutkan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksud antara lain:
• Pekerjaan yang bergerak di pelayanan jasa kesehatan;
• Pekerjaan yang bergerak di pelayanan jasa transportasi;
• Pekerjaan yang bergerak di pelayanan perbaikan alat transportasi;
• Pekerjaan yang bergerak di bidang usaha pariwisata;
• Pekerjaan di bidang jasa pos dan telekomunikasi;
• Pekerjaan yang bergerak di bidang penyediaan tenaga listrik, pelayanan air bersih, dan penyediaan bahan bakar minyak dan gas bumi;
• Pekerjaan di bidang usaha swalayan, perbelanjaan, dan sejenisnya;
• Pekerjaan yang bergerak di bidang media massa;
• Pekerjaan yang bergerak di bidang pengamanan;
• Lembaga konservasi;
• Pekerjaan-pekerjaan yang jika dihentikan akan mengganggu proses produksi, merusak bahan, dan juga pemeliharaan/perbaikan alat produksi.
Pak Marmuj; jadi kalau kita para guru bekerja lembur hanya menjelang akhir ujian semester, atau akhir tahun ajaran itu tak sebanding dengan saudara kita yang bekerja 24 jam seperti di atas.
Semua guru yang ada di ruang istirahat saling melihat, memandang dan terdiam sejenak.
Pak Guru Rahmat; Pak Marmuj, tapi ada satu pekerjaan yang bekerja lebih dari 24 jam non stop, bahkan bahkan melewati hari.
Pak Marmuj; oh….ada ya….siapa itu?
Pak Guru Rahmat; pilot pesawat terbang yang menerbangkan pesawatnya dari bandara Detroit di Amerika ke bandara Narita di Jepang. Pesawat itu selalu berangkat hari jumat tiba langsung hari ahad.
Pak Marmuj; nah…itu benar sekali saya paham itu.
Semua guru bingung kok bisa bekerja dengan kehilangan satu hari di dunia ini.
Pak Marmuj; semua waktu, hari selalu terikat dengan dimana kita berada, bayangkan kalau kita tinggal di daerah lain, apakah di bumi lain, maka waktu bekerjapun jadi berbeda.
Pak Guru Rahmat; kok ceritanya jadi ke yang lain pak.
Pak Marmuj; ya bekerja di alam gaib maksudnya.
Pak Marmuj…Pak Marmuj…..memanglah……Pak Marmuj.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; memiliki satu pekerjaan adalah pilihan hidup, dengan bekerja kita dapat melakukan pilihan apakah menjadi beban atau justru bersyukur.
Kedua; mensyukuri pekerjaan yang sedang dimiliki, akan memberi kemudahan untuk meningkatkan kompetensi, disinilah kita akan mengetahui makna sebuah profesi dan pekerjaan kita.
Ketiga; tidak ada pekerjaan yang tidak memiliki resiko, termasuk waktu, kesempatan dan tuntutan siaga, namun mengenal dan mengalami dengan baik hukum pekerjaan yang kita jalani akan memberikan makna bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah, semoga barokah.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















