Abdul Halim Hasan merupakan ulama tafsir Melayu yang berasal dari Indonesia. Pengaruh tafsirnya melangkaui sempadan ke seluruh Nusantara terutamanya Malaysia. Nilai akademik bagi karya tafsirnya ini tidak dapat disangkal lagi sebagai sebuah tafsir berpengaruh awal kurun ke dua puluh. Artikel ini bertujuan untuk melihat latarbelakang bagi pengarang tafsir ini, Haji Abdul Halim Hassan, dan karya akademiknya, TafsÊr al-Quran al-Karim. Fokus utama akan diberikan terhadap biografi penulis sumbangannya dari sudut metodologi dalam penafsiran al-Quran. Kajian ini adalah suatu kajian kualitatif yang akan menggunapakai kaedah deduksi dan induksi, bagi mengkaji dan menyususun metodologi yang dipraktik oleh beliau dalam penulisan tafsirnya. Kajian mendapati beliau menggunakan kaedah khusus didalam penafsirannya yang diambil dari kefahamannya ke atas penulisan tafsir oleh ulama-ulama terdahulunya. (Nadzrah Ahmad dkk, 2018).
Seorang Abdul Halim Hasan yang hidup (1901-1969) mungkin sebagian kita hari ini belum lahir di saat beliau telah menorehkan karya besar ilmu agama khususnya Tafsir Al Qur`an. Ulama Indonesia dari Sumatera Utara ini memiliki banyak karya.
Namun yang paling monumental adalah tafsir yang menjadi referensi bahkan menjadi kitab wajib khususnya untuk belajar agama di Sumatera bahkan Malaysia. Mungkin kalau zaman literasi hari ini beliau memiliki sitasi tertinggi di aplikasi repositori perguruan tinggi.
Pendidikan beliau bermula dari belajar dengan para ulama terkemuka dari sejak Faqih Saidi Haris seorang ulama Binjai, Jamaluddin Adinegoro di Medan tahun 1930, bahkan ia juga pernah berguru dengan Muhammad Ridwan di Langkat.
Dari belajar tersebut Abdul Halim Hasan menorehkan tinta untuk memaknai ayat Al Qur`an, sampailah 13 karya terkenal hingga sekarang tetap menjadi rujukan. Beberapa kitab tentu yang pertama adalah Kitab Tafsir al Qur`an al Karim yang kemudian ditulis bersama Zainal Arifin Abbas dan Abdul Rahim Haitami.
Buku-buku yang lebih popular mudah diterapkan sebagai tuntunan diantaranya; Bingkisan Adab dan Hikmah, Sejarah Fikih, Wanita dan Islam, Hikmah Puasa, Lailatur Qadar juga Cara Memandikan Mayat.
Yang tidak kalah menariknya terdapat buku seperti Tarikh Tamadun Islam, Sejarah Literatur Islam, Sejarah Kejadian Syara`, Tarikh Abi Hasan Ash`ary, Poligami dalam Islam, dan akhirnya Tafsir al Ahkam yang diterbitkan pertama kali tahun 2006.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nadzrah Ahmad dkk ditemukan, metodologi penafsiran kitab yang dilakukan oleh Abdul Halim memberikan perhatian khusus pada uraian istilah yang sukar.
Di sinilah kita diajak mengerti dan memahami maksud ayat secara tuntas dengan penjelasan beserta contoh nyata. Salah satu yang ditulis oleh beliau sebagaimana terjemahan Al Baqarah: 2 (Kitab ini, tiada keraguan padanya, adalah petunjuk bagi mereka yang bertakwa daripada kejahatan).
Penjelasan beliau tentang taqwa merujuk pada perkataan `al-muttaqin`. Perkataan taqwa dimaksudkan adalah takut, yakni takut kepada pembalasan Allah dengan mengerjakan seluruh perintahNya, dan meninggalkan seluruh larangannya. (sungguh tulisan tahun 1952) ini masih relevan hingga saat ini.
Lanjutan dari metodologi tafsir Abdul Halim Hasan secara garis besar meliputi:
– Menerangkan istilah yang sukar.
– Ikhtisar surah
– Hubungan antar ayat
– Nasakh dalam taafsir al Qur`an al Karim
o Tafsir dengan riwayat (naqli) dan argumentasi akal (ra`y)
o Tafsir dengan riwayat melalui hadis Rasulullah SAW
o Tafsir dengan riwayat melalui pandangan para sahabat
o Tafsir dengan riwayat melalui pandangan tabi`in
– Manhaj tematik
– Makki dan Madni
– Asbab al Nuzul dalam tafsir al Quran al Karim
– Penjelasan ayat hukum dalam tafsir al Qur`an al Karim
Tidak ada yang dapat kita temukan lagi celah untuk mengurangi makna dari karya Abdul Halim Hasan, yang pada masa tersebut negeri ini dalam kondisi perang dan baru berjuang untuk kemerdekaan.
Di dusun kecil sebelah barat kota Medan, nama Abdul Halim Hasan turut membawa Binjai dari dulu hingga kini, dan akan menghantarkan generasi untuk masa depan penuh dengan harapan. Abdul Halim Hasan telah mencatat semua pemikiran, perasaan dan harapannya lewat buku dengan kerja karya tulis, itulah fakta sejarah.
Generasi muda hari ini bukanlah untuk sekadar mengarsip apalagi sekadar mencantumkan di papan nama, tetapi semangat berkarya untuk Indonesia yang lebih baik itulah cara kita meneruskan perjuangan beliau.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















