Dalam kehidupan sehari-hari seseorang sering menggunakan self talk (berbicara pada diri sendiri) tanpa disadari, seperti berbicara di dalam hati, berdialog dengan diri sendiri di dalam hati, maupun berdialog secara verbal untuk mengatasi hal-hal tertentu. Self talk merupakan salah satu teknik yang sangat bermanfaat bagi manusia meskipun dinilai sebagai sebuah perilaku yang aneh bahkan dianggap gila oleh sebagian orang. (Abdul Haris, 2023:13).
Hidup sendiri, hidup bersama, kemudian hidup di tengah keramaian adalah sebuah keadaan, tetapi juga pilihan. Sebagian kita hidup sendiri itu lebih nyaman dan itu menjadi bagian dari kesehariannya, ada pula saudara kita hampir waktunya habis untuk hidup bersama apakah untuk keluarga, untuk orang lain.
Tetapi bukan tidak banyak justru di bagian lain orang-orang tertentu lebih bahagia ketika ia berada di tengah-tengah keramaian, mungkin saja dengan itu ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Lahir sendiri, hidup di tengah orang lain, kemudian mati sendiri, dan di tengah itulah kita dapat memilih mana yang lebih nyaman sendiri dalam keramaian, atau merasa meriah dalam kesendirian.
Bukan tidak banyak orang menjadikan hidup bersama sebagai tujuan, sampai-sampai jabatan tetap dipertahankan demi eksistensi diri untuk memengaruhi orang ramai. Tetapi pada titik akhir mereka justru kembali sendiri, dan di sini mereka mendapatkan kebahagiaan.
Dr Abdul Haris dan kawan-kawan melakukan penelitian yang sangat menarik untuk dibahas, bahwa sendiri itu adalah gejala boleh jadi unik, tetapi fenomena seseorang dalam perjalanan hidupnya.
Beberapa fenomena tersebut adalah berbicara sendiri atau dalam bahasa psikologi adalah self talk. Ternyata ini memiliki beberapa manfaat, antara lain;
1. Sarana untuk mengambil sebuah keputusan ketika ada dua pilihan yang bimbing. Mengapa mesti ada dua pilihan, itu karena kita belum memiliki sikap yang tegas terhadap hidup bersama apalagi dalam keramaian.
2. Menyalurkan emosi, khususnya ketika berhadapan dengan subyek yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Resiko hidup bersama adalah adanya kesamaan, keseimbangan tetapi juga perselisihan bahkan perseteruan.
3. Memengaruhi orang dengan benar, akan sangat strategis ketika akan menyampaikan ide atau gagasan. Gunakan akal sehat, intropeksi diri dulu baru lakukan untuk orang lain.
4. Mengenal dan menerima diri, di sinilah kita mulai sadar kemampuan apa yang kita miliki selama ini. Ternyata apa yang kita lihat pada orang lain tidak selamanya adalah kejujuran, tetapi jujur pada diri sendiri itulah awal dari mengenal diri dan orang lain.
5. Meningkatkan motivasi diri, apakah dengan kata-kata mutiara, quote, meme dan lainnya. Apa yang kita alami, apa yang kita ingini, jadikanlah itu kekuatan karena dari sanalah kita dapat melakukan apapun yang kita tuju dalam hidup ini.
6. Mengembangkan potensi diri dengan berbagai narasi yang positif tentunya. Kebiasan self talk itu berarti memberi tempat pada kemampuan diri bahwa seseorang terbiasa berdialog dengan batinnya dengan penuh pertimbangan baru ia membuat keputusan.
Kini kita mengetahui dengan sebenarnya, bicara sendiri bukanlah hal aneh, boleh jadi ditengah keramaian kita harus lebih hati-hati artinya bicaralah dulu dengan diri sendiri lewat pertimbangan hati.
Jangan menyakiti hati orang lain, karena itu akan menyakiti hati sendiri. Self talk adalah dialog energi positif yang tak terbantahkan untuk membuat pertimbangan dalam membuat suatu keputusan.
Dan bagi orang yang telah mengerti justru menjadi aneh ketika ia bertindak bila tidak diawali dengan `ibda binafsih`.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















