Sebagai media lomba, MTQ seharusnya lebih besar dari sekadar perkara kalah-menang. Lebih dari sekedar arena adu pintar, adu cepat, adu cerdik, atau adu suara, MTQ adalah mozaik tempat berbagai warna meminta haknya untuk muncul ke permukaan. Dan, menerima semuanya dengan tangan-tangan keikhlasan adalah keindahan suci (sacred beauty) yang menakjubkan.(Agus Ahmed Safei, 2016:109).
Kalau hidup ini ingin mudah gunakanlah teknologi, namun bila hidup ini ingin terarah gunakanlah agama, akhirnya bila hidup ini ingin indah maka nikmatilah seni.
Kolaborasi antara ilmu dan teknologi, budaya dan agama serta tampilan dan seni kini selalu hadir di tengah kehidupan kita salah satunya pada Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ). Dari sekadar unjuk kemampuan tentang membaca makhraz kini lahir dalam berbagai tampilan yang mempresentasekan luasnya kajian dari satu buah kata Al Qur`an.
MTQ kini bukan sekadar acara seremonial semata, tetapi di dalamnya terdapat berbagai hal apakah itu dari sisi ilmu pengetahuan, agama maupun seni.
Menurut Prof Agus Ahmad Safei, MTQ saat ini boleh jadi dapat dipahami sebagai satu gejala dalam empat hal yakni;
Pertama, kemunculan cabang Musabaqah Makalah Alquran merupakan bentuk transformasi kultural dalam dunia dakwah. Ia adalah jawaban kultural atas tradisi dakwah lisan yang selama ini berkembang di tubuh umat Islam. Transformasi selalu terjadi pada masyarakat yang progresif terus berubah dan mengadaptasi semua bentuk keadaan, tuntutan dan kebutuhan termasuk ilmu pengetahuan tentang Al Qur`an.
Kedua, dakwah yang diusung adalah dakwah dalam bentuk tulisan. Melalui cabang ini, peserta dituntut untuk mampu mengeksplorasi ayat demi ayat dalam Al Qur’an sehingga ayat-ayat tersebut menjadi ada dan hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat Muslim. Tradisi lisan kini dilengkapi dengan tradisi tulisan yang saling memberikan makna bahwa nilai-nilai Al Qur`an terus hadir sesuai dengan tradisi literasi yang berkembang.
Ketiga, keberadaan cabang Musabaqah Makalah Alquran merupakan penyeimbang di antara cabang-cabang lain di even MTQ. Boleh jadi hari ini terdapat puluhan cabang yang dilombakan, esok hari akan lebih dari itu semua dengan maksud memberikan ruang kreasi baru turunan dari ilmu Al Qur`an yang luas tak terbatas. Tidak dapat diidentifikasi cabang mana dari MTQ yang sudah tidak relevan dengan zaman, tetapi justru tambah dan terus lahir kreasi baru setiap even berikutnya.
Keempat, bila dipahami output dari kegiatan MTQ, kita akan menyaksikan masyarakat Muslim yang tidak hanya pandai mengalunkan ayat-ayat Al Qur`an dengan merdu, tetapi mereka juga akan mendapatkan informasi penting makna ayat-ayat Al Qur`an yang notabene sebagai panduan hidup dan kehidupan masyarakat Muslim.
Bila kita niatkan dengan ikhlas untuk berpartisipasi pada kegiatan MTQ, maka tangan kita akan menjadi bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan pencipta teknologi yang memudahkan hidup manusia.
Begitu juga apabila kita memberikan panduan dan pedoman yang konsisten dari Al Qur`an, maka kehidupan bukan hanya jauh dari kecurangan apalagi saling merugikan dari sana kita akan selalu mendapat hidup penuh dengan keberkahan.
Benarlah bila disebutkan bahwa sebagai media lomba, MTQ lebih besar dari sekedar perkara kalah-menang tetapi mozaik tempat berbagai warna meminta haknya untuk muncul ke permukaan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















