Memahami cara kerja sesuatu akan membuat hidup lebih mudah sedangkan kurangnya pengertian dan ketidaktahuan menyebabkan rasa takut dan takhayul serta membuat kita sudah mencela orang lain. Demikian pula halnya pengetahuan dan keterampilan dalam komunikasi non-verbal yang membuat setiap perjumpaan dengan orang lain suatu pengalaman yang menyenangkan. (Allan Pease, 1991:viii).
Kita hidup tidak sendiri, bersama orang lain apakah itu anggota keluarga, atau masyarakat sekitar, boleh jadi teman sekantor atau juga komunitas yang lebih luas.
Sendiri dan bersama itu pasti berbeda, tujuan berinteraksi dengan orang lain agar kebersamaan lebih bermakna dan yang paling utama adalah tidak merugikan orang lain. Di sini kita faham bahwa interaksi dengan orang lain itu penting bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk kelanggengan hidup bersama.
Komunikasi adalah cara kita berinteraksi dengan orang lain, komunikasi dapat dilakukan secara verbal dengan kata-kata ini yang paling lumrah, tetapi ada komunikasi yang justru efektif yakni nonverbal atau dengan gestur tubuh bahkan simbol diri.
Gerakan apapun yang kita lakukan semuanya akan bermakna namun apakah positif atau tidak itu yang perlu dipelajari lebih lanjut. Di sinilah Allan Pease bertahun-tahun mempelajari bagaimana manusia dapat berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh dan lebih efektif hasilnya.
Ada tiga hal penting yang harus dilihat ketika kita berkomunikasi dengan orang lain lewat bahwa tubuh yakni sebagai berikut:
Pertama, lihat seluruh tubuhnya. Seluruh gerakan yang ada pada seseorang adalah gambaran dari apa yang ia alami, ia lakukan dan ia inginkan. Bagian kepala menengadah ke atas itu boleh jadi ia merasa lebih lebih tinggi dari lawan bicara. Tetapi tangan yang mendahului untuk berjabat kepada kita justru ada rasa hormat dan telah menerima kita lebih dari yang diinginkan. Dan banyak lagi makna dari gerakan itu semua ketika seseorang membutuhkan atau menolak hasrat dan keinginan.
Kedua, lihat wajahnya. Berani berhadapan itu membuktikan ada kejujuran yang ditampilkan pada seseorang, apapun kejadiannya ia akan menerima dari apa yang diperlakukan oleh lawan komunikasi. Namun demikian ketika gerakan mulut dan mata ditopang oleh tangan tentu ada sesuatu yang sedang disembunyikan, di sinilah letak kita untuk menebak apakah lawan bicara sedang menggoda atau justru memang tak tahu apa-apa.
Ketiga, lihat sorot matanya. Melihat secara lurus ke depan tentu akan memudahkan kita untuk mengetahui arah pandangan, namun melirik yang diketahui juga memberi makna seseorang akan melakukan dua hal yang berbeda tetapi tujuannya sama. Sorot mata menggambarkan isi kepala, apakah seseorang serius melakukan sesuatu sampai transaksi, atau justru hanya bermain di batas sekadar menyenangkan kita. Belum lagi mata yang berkaca-kaca kita tidak boleh terjebak karena emosi sesaat bisa saja pemilik ahlinya sandiwara.
Jadi mengetahui gerak tubuh, wajah dan mata itu adalah sebagian dari instrumen komunikasi nonverbal, lebih jauh dari itu kita harus mengetahui dari pengalaman, bahkan budaya bagaimana orang menyampaikan dengan tulus dan ikhlas.
Kita boleh saja berkomunikasi dengan berbagai cara, namun yang pasti bila diawali dari rasa ingin bekerjasama untuk bahagia, maka semua yang kita lakukan bukan menyimpan curiga, tetapi justru sama-sama tahu kita sedang berbuat apa.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















