Sewaktu anda memasuki koridor sekolah, anda mendapatkan para guru yang sedang berkomunikasi secara terbuka dan jujur, dan mereka mendukung proses yang senantiasa berkembang di sekolah-sekolah yang giat dan bergairah, yakni sekolah yang kebutuhan dan keinginannya selalu berubah. Yang paling penting lagi, anda mendengar dialog di antara para siswa dan di antara guru dan siswa mereka saling mendengarkan dengan cara tersendiri yang membuat si pembicara merasa kata-katanya dihargai. (Andi Stix & Frank Hrbek, 2007:3).
Aturan dapat menjadi peraturan bila diawali dari kebutuhan, diformalkan kemudian dilaksanakan oleh semua orang yang terlibat. Sebuah sekolah membuat aturan harus melibatkan berbagai pihak yang paling utama adalah pendidik, peserta didik, pihak adminstrasi (pimpinan lembaga) dan juga orang tua pengguna layanan pendidikan. Bila ini berjalan dengan baik, maka pencapaian tujuan pendidikan akan mudah diraih.
Sebuah sekolah yang baik memiliki sistem yang kuat, dijalankan dan dikontrol serta terukur setiap langkah dan keberhasilan. Taat pada pertaturan bagi semua orang didalamnya adalah kunci utama, tentu bagaimana cara mendapatkan hal tersebut. Pandangan bahwa sekolah adalah kegiatan yang harus direncanakan, dikelola, dikembangkan dan dipertanggungjawabkan adalah pilihan.
Pandangan lain memberi porsi pada peran seorang pendidik yang utama, bila pendidik dengan tulus dan ikhlas maka semua proses akan mendapat kebaikan, dan tujuan pendidikan yakni anak akan mendapat keberhasilan dengan keberkahan.
Pandangan pertama memang sangat administratif, hal ini memberi gambaran bahwa pendidikan harus dimulai dari visi, misi, tujuan, ketentuan yang penuh dengan pengelolaan berbagai sumber.
Sebagai sebuah unit, organisasi, manajemen bahkan bisnis, maka pendidikan sarat dengan nilai mutu bahkan persaingan, dalam kacamata manajemen pendidikan ini salah satu indikator keberhasilan.
Kelemahannya kita akan dapatkan, semua harus patuh pada aturan, bahkan nilai seorang pendidik sekalipun akan dihargai dengan waktu, biaya, bahkan ukuran keberhasilan.
Pada pandangan kedua lebih mengutamakan pendidikan adalah proses pemberdayaan anak manusia yang membutuhkan perhatian, bimbingan, pengarahan bahkan tanggung jawab.
Pendidikan dilaksanakan dengan maksud dan tujuan untuk hal yang lebih besar, pendidik boleh jadi mengajar karena kewajiban, diringi niat yang baik, suri tauladan yang tercipta ia lebih mengharapkan keberkahan daripada nominal gaji yang jadi imbalan.
Kelemahannya adalah dalam berpikir sistem satuan pendidikan yang menaungi pandangan ini kesulitan untuk memenuhi tuntutan mutu atau administrasi yang terukur.
Bila kita mengerti dan mendengarkan bagaimana orang tua, siswa dan semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan sesungguhnya dari sanalah kita berangkat apa yang harus dilakukan.
Tuntutan mutu itu memang penting, tetapi nilai pendidikan itu bukan hanya soal administrasi di atas kertas, akan tetapi makna dari pendidikan juga keberkahan. Dan ini yang akan berkelanjutan sampai anak tamat, bahkan hidup dalam dunia di luar setelah belajar dari satuan pendidikan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















