Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan cabang dari ilmu komputer yang konsern dengan pengautomatisasi tingkah laku cerdas. Empat kategori peting dari AI adalah; Sistem yang dapat berpikir seperti manusia “Thinking humanly”. Sistem yang dapat bertingkah laku seperti manusia “Acting humanly”, Sistem yang dapat berpikir secara rasional “Thingking rationally”, Sistem yang dapat bertingkah laku secara rasional “Acting rationally”. (2006:3).
Hubungan manusia dengan manusia itu adalah hal istimewa, apakah dengan suami atau istri, hubungan dengan anak atau hubungan dengan orang lain. Penuh aturan, tetapi pernah dilanggar walaupun inginnya harus dipatuhi, di sinilah manusia selalu membuat pertimbangan lewat fikiran diimbangi perasaan dan akhirnya interaksi dapat terjadi.
Jelas bahwa hubungan antar manusia itu sangat kompleks bahkan dramatis, tidak ada yang persis sama, bahkan rumus hubungan suami istri selalu lahir varian baru ketika terjadi peristiwa pernikahan.
Hubungan manusia dengan benda sedikit berbeda, boleh sama di satu sisi yakni benda tetap diam dan berhenti tergantung kita bagaimana membuat, membangun bahkan mengembangkan persepsi.
Di sinilah para ilmuwan mencoba mengalahkan dirinya sendiri bahwa kompleksitas interaksi harus dapat dipecahkan, dan diulang-ulang lewat pengkodean (coding), sebagai dasar ilmu komputer dalam bahasa kita adalah swaatur.
Mempelajari benda dari yang paling besar sampai kecil, bahkan maya dari setengah nyata sampai simbol semuanya dapat diselesaikan dalam satu kesepakatan yakni pengkodean atau coding.
Inilah ilmu dari matematika yang bertransformasi secara fungsional menjadi Artificial Intelligence (AI) dimana kini banyak dibutuhkan untuk membantu berbagai pengalaman manusia yang semakin kompleks.
Puncak dari kemampuan manusia dalam hal hubungan dengan benda terdapat dalam empat tingkatan yakni;
Pertama; manusia dapat berpikir dan akhirnya membuat sebuah sistem yang mampu berfikir. Bayangkan satu tombol diperintah dapat memberi respon seperti yang kita harapkan dan dapat dilakukan berkali-kali, lebih seru tidak akan berbeda atau salah apalagi membohongi. Dalam ilmu AI ini disebut dengan Sistem yang dapat berpikir seperti manusia “Thinking humanly”.
Kedua; manusia dapat bertingkah laku kemudian ia membuat sesuatu yang mampu melakukan seperti dirinya. Dari satu tombol di kombinasi dengan tombol lain lahirlah sebuah kalimat, bahkan dari dua titik menemukan empat varian, tiga titik sembilan varian dan seterusnya. Sedikit merambah pada tingkah laku manusia yang terbatas, apakah itu kegiatan belajar, kehidupan di rumah semua direkam dan dijadikan dasar, akhirnya manusia mampu membuat sistem yang dapat bertingkah laku seperti manusia “Acting humanly”,
Ketiga; manusia dapat berfikir dan membangun rasional, kemudian ia menyusun alur logika yang dapat diterapkan pada sistem yang memiliki rasional. Lebih akurat lagi, sebuah sistem yang direncanakan sedemikian rupa, dirancang lewat platform, diperintah untuk menjalani setiap langkah, dan menyelesaikan sebuah program. Di sinilah luar biasa terjadi, ketika ada masalah disetiap langkah, justru program dapat menyelesaikan sendiri apa yang dihadapi, ini dilangkah ini maka hasilnya sistem yang dapat berpikir secara rasional “Thinking rationally”
Keempat; manusia dapat menciptakan sistem yang bergerak dan bertingkah laku secara rasional dan tetap dalam kendalinya. Bayangkan sebuah benda dapat bertingkah laku semperti manusia penciptanya, tetapi kendali bukan pada benda, dan tidak sepenuhnya pada manusia. Hubungan yang semakin kompleks, bahasa kontrol, keselarasan semua terus berkembang. Inilah akhir dari hubungan yang disebut dengan sistem yang dapat bertingkah laku secara rasional “acting rationally”.
Secara historis, keempat pendekatan tersebut telah dilakukan. Pendekatan manusia haruslah merupakan suatu ilmu empiris, termasuk hipotesa dan konfirmasi percobaan dan pendekatan rasional meliputi kombinasi dari matematika dan rekayasa.
Jadi kini kita boleh jadi adalah rekayasa dari matematika dan kemudian interaksi antara manusia dan benda akhirnya tergantung untuk apa ilmu itu kita gunakan dan manfaatkan.
Tulisan ini memang sedikit rumit memahami Artificial Intellegence dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang pasti adalah; bila hidup ini ingin mudah maka gunakan ilmu, bila hidup ini ingin indah gunakan seni, dan bila hidup ini ingin terarah maka gunakanlah agama.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















