Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian proses dan sumber untuk belajar. (Barbara Seels, 1994:11).
Pendidikan adalah proses transformasi nilai budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya secara bertanggungjawab untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.
Sebagai sebuah proses maka memerlukan penataan yang benar, tepat dan memerlukan praktik baik. Inilah salah satu yang dijadikan dasar bagi Barbara Seels dalam mendefinisikan pembelajaran.
Langkah pertama penataan yang benar dalam pembelajaran adalah mengembangkan lima kawasan utama yakni mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan menilai proses dan sumber baik secara teori maupun praktik.
Pertama; mendesain pembelajaran adalah merancang agar materi yang disampaikan sesuai dengan siapa yang menerima baik secara psikologis, biologis, maupun sosiologis.
Kedua; mengembangkan pembelajaran adalah mengaktualisasikan agar materi pembelajaran ada di dunia nyata dalam pengalaman murid, bukan sekadar teori apalagi gaib yang tidak terbukti.
Ketiga; memanfaatkan pembelajaran dalam hal ini proses yang dilakukan harus mengidentifikasi seluruh sumber dan lingkungan agar menjadi bagian dari kegiatan belajar murid.
Keempat; mengelola pembelajaran dalam hal ini seorang pendidik harus membuat keseimbangan, skala prioritas dari mana dimulai membangun pengalaman belajar murid. Pengelolaan ini terkait dengan penanganan kondisi murid apakah dari motivasi, sugesti, sampai ambisi semuanya harus dijadikan bagian dari proses belajar.
Dan kelima; evaluasi pembelajaran dalam hal ini bukan hanya hasil akhir yang menjadi tujuan, tetapi proses mendapatkan pengetahuan adalah pengalaman belajar murid yang juga penting.
Barbara Seels menyadari, kelima kawasan teknologi pembelajaran menunjukkan keragaman dari bidang. Ini artinya pembelajaran yang mampu mentransformasi nilai tidak hanya dimonopoli oleh disiplin ilmu paedagogik, tetapi banyak ilmu lain yang mendukung.
Namun demikian catatan penting kita adalah kawasan-kawasan itu sendiri merupakan kesatuan yang kompleks dan memiliki taksonomi dari struktur kawasan.
Ketika budaya terus berkembang, psikologi anak terus berubah, bahkan transformasi nilai terus progresif, maka pemahaman kita terhadap pembelajaran pun tidak dapat dibatasi.
Dalam hal ini maka boleh jadi setiap orang dapat meneruskan proses perumusan definisi dan mengembangkan tingkat taksonomi yang lebih rinci. Inilah salah satu ciri dari definisi yang opensif di mana pembelajaran terus mengalami banyak perubahan, apakah itu mengadaptasi atau juga menyempurnakan.
Dalam pandangan lain kita juga harus diingatkan, bahkan tidak semua pekerjaan itu dapat diselesaikan dalam waktu singkat, untuk murid yang lebih banyak. Pada kasus-kasus tertentu, kearifan lokal semua harus mendapat perhatian tersendiri.
Barbara Seels mengingatkan hal ini, bahwa pekerjaan teknologi pembelajaran untuk masa datang adalah membuat definisi yang lebih sempit dari subkateogri maupun cakupan yang ada didalamnya.
Ini dimaksudkan bahwa boleh jadi banyak masalah dalam pembelajaran tetapi menetapkan fokus penyelesaian dalam hal tertentu itu juga penting.
Akhirnya pembelajaran itu akan terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman, maka tidak ada pembelajaran yang tepat kecuali perubahan dalam pembelajaran terus beradaptasi secara berkelanjutan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















