Differentiation suggests it is feasible to develop classrooms where realities of student variance can be addressed along with curricular realities. The idea is compelling. It challenges us to draw on our best knowledge of teaching and learning. It suggests that there is room for both equity and excellence in our classrooms.(Carol Ann Tomlinson,20021:6).
Ketika kita hadir di kelas, banyak barang, orang dan aturan yang kita hadapi, boleh jadi itu adalah masalah karena kita dituntut untuk sesuatu yang seragam dalam sebuah tujuan. Tetapi boleh juga menjadi modal kita untuk meramu agar semua hal dapat dihantarkan pada satu tujuan yakni kurikulum.
Di sinilah beberapa barang seperti standar kelas apakah itu sarana, fasilitas atau juga media harus dimanfaatkan dengan baik, begitu juga siswa mereka itu dari berbagai latar belakang, gaya, serta kebutuhan bahkan keinginan. Dari sana kita harus mengikuti berbagai aturan apakah itu tata tertib sekolah, kedisiplinan kelas, sampai pada sangsi apabila melanggar satu darinya.
Kelas memang menjadi menantang bagi siapa saja yang akan masuk, namun bukan tidak banyak justru bagi para guru itu adalah hal biasa, bahkan ia menikmati situasi kelas yang selalu berbeda cara mengelolanya.
Tomlinson memberi perhatian serius tentang kelas sebagai sebuah kondisi yang harus dipahami dengan baik. Konsep perbedaan menjadi sebuah kekuatan adalah hal penting, menurut beliau dari sini kita memahami bahwa ada perbedaan yang disadari tetapi bukan untuk dijadikan alasan saling menguasai. Konsep ini disebut kelas berdiferensiasi.
Menurut Tomlinson diferensiasi menunjukkan bahwa pengembangan ruang kelas di mana realitas keragaman siswa dapat diatasi bersama dengan realitas kurikulum merupakan hal yang memungkinkan.
Inilah yang harus dipahamkan kepada siapa saja yang akan masuk kelas, apakah guru, tenaga kependidikan atau orang tua yang percaya anaknya masuk kelas. Hal ini menantang kita untuk memanfaatkan pengetahuan terbaik kita tentang pengajaran dan pembelajaran.
Terdapat tiga hal penting tentang diferensiasi siswa di kelas yakni;
a. Dibedakan berdasarkan kesiapan, artinya setiap siswa harus didiagnosis tingkat kesiapannya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Tes awal itu penting walaupun sepele tetapi justru sangat membantu guru bagaimana harus memulai, apalagi memberi penanganan ketika ada masalah.
b. Dibedakan berdasarkan minat, walaupun anak kembar sekalipun pasti memiliki minat yang berbeda, kesamaan kadang hanya ketika ada sajian yang bersifat instan. Minat itu ada tes maka bagi para psikolog dapat membantunya, tetapi guru boleh jadi memiliki keterampilan bagaimana mengarahkan minat yang positif pada siswa karena pengalamannya selama ini.
c. Dibedakan berdasarkan profil pembelajaran, apakah setiap materi itu berbeda, jawabannya jelas beda. Lain materi umum lain pula khusus, beda agama beda pula fisika. Semua memiliki karakteristik yang spesifik sehingga cara mengajarkannya pun perlu metodik khusus, apalagi evaluasi yang akan diterapkan.
Lebih lanjut Tomlinson memberikan penjelasan bahwa bila kita mengerti dan memahami kelas itu sangat ragam dan berdiferensiasi, maka hal ini menunjukkan bahwa terdapat ruang untuk kesetaraan dan keunggulan di ruang kelas kita.
Sekali lagi dia menganjurkan agar semua guru harus faham membedakan konten pembelajaran untuk perbedaan siswa, membedakan proses untuk gaya belajar siswa, dan akhirnya membedakan produk ketika evaluasi diberikan pada siswa yang berbeda pula.
Idenya menarik, ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila kita masuk kelas. Keragaman yang ada apakah itu barang yang warna warni, siswa yang macam-macam tingkah lakunya, semua dapat diatasi dengan aturan yang fleksibel.
Nikmati kelas, seni mengajar pasti lahir dari guru yang senang hadir di kelas, karena diferensiasi menjadikan kita semua saling menghargai.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















