Agama merupakan hal yang fundamen dan kompleks maka tidak mengherankan jika penjabarannya terkesan terlalu dipaksakan. Menyingkirkan sebagian besar fakta sejarah dengan tujuan untuk mendukung pendapatnya tentang dikotomi agama, yang akhirnya merupakan sesuatu yang terlalu sederhana jika dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. (Indra, 2018:11).
Kadang kita diam sendiri di rumah namun pikiran bisa entah kemana-mana bahkan ingin menjangkau keluar dunia. Kadang pula berada di dalam kamar tidur tetapi perasaan kita masih ada di luar justru merasakan hal yang tidak tampak dari kejauhan.
Lalu kini apakah kita mesti keluar rumah untuk mendapatkan pikiran yang tenang, atau apakah kita harus meninggalkan tempat tidur untuk mendapatkan makna hidup. Semuanya memiliki alasan, mengapa kita mesti keluar, dan berinteraksi dengan orang lain bila untu mendapatkan ketenangan dalam pikiran untuk menjaga perasaan semua orang.
Agama memberikan rambu-rambu bagaimana kita harus berinteraksi dengan orang lain, bagaimana pula kita harus mempersepsi diri serta lingkungan sekitar.
Dengan pemahaman yang tepat dan benar maka hidup harus memiliki keseimbangan yakni antara diri sendiri, orang lain, alam semesta bahkan dengan Tuhan sekalipun. Sedikit saja salah memaknai keseimbangan ini, maka mungkin kita sulit untuk menjadi orang yang tenang dalam hidup apalagi nyaman dalam berinteraksi.
Dr Indra MA telah lama mendalami pengalaman manusia dalam menempatkan agama dalam memaknai hidup. Menurut beliau bahwa akal yang ada pada manusia dinyatakan sebagai potensi besar yang berfungsi sebagai alat untuk dapat mentransformasikan diri berpikir ke arah yang lebih maju, praktis serta berpikir modern yang menghasilkan teknologi modern.
Keberhasilan itu terlihat karena memang manusia memiliki sifat rasa ingin tahu yang besar, baik untuk memantau dan menganalisis perjalanan sejarah yang terus berkembang, sekaligus juga memantau dan memahami pelbagai hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan maupun pengetahuan tentang agama.
Kita boleh jadi beruntung karena dengan pengetahuan kita kini memperoleh kemudahan dalam hidup, ketenangan dalam bermasyarakat. Tetapi kita harus sadar ada di antara kita yang justru melebihi dari jalan yang harus dilalui, berpikir melewat batas kepatutan sampai akhirnya mengambil keputusan lari dari kenyataan.
Dr Indra mengingatkan kita, bahwa yang lebih pentingnya ketika menjelaskan konsep fundamentalis, kontribusi yang seharusnya bagaimana fundamentalisme berakar dan berkembang pesat dalam agama besar dunia disertai dengan usaha mengkritik infalibilitas kelompok fundamentalis.
Terlepas dari kekurangan yang terdapat di dalam pembahasannya, tema besar fundamentalisme yang dimaksud menunjukkan kepada penganut agama agar kelompok-kelompok fundamentalis muncul dalam kehidupan agama serta memiliki tujuan yang bersifat lebih objektif terhadap kaum fundamentalis.
Ternyata ada jalan lain yang disarankan, bahwa pemahaman kita tentang beragama yang fundamentalis tidak sekadar melihatnya sebagai gerakan ortodoksi, puritan, atau revivalis, melainkan memberikan penilaian gerakan yang kompleks, inovatif dan modern.
Dan, akhirnya kita menerima satu pernyataan penting bahwa agama merupakan hal yang fundamen dan kompleks maka tidak mengherankan jika penjabarannya terkesan terlalu dipaksakan. Semoga itu hanya kesan bukan kenyataan yang mengganggu kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari kita.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















