Digital documents can no longer be a simple back-up of paper documents. They should be navigated with the help of internal links as well as links that are created between different documents. This technique goes further than the reference system used in paper documents. It is a philosophy that includes alternative routes and allows for the personalization of the order in which the information is read depending on reactions of the public (e.g. open lectures) or a previously established set-up. (Fabrice Papy,2008:7).
Alam adalah nyata, mata adalah alat penangkapnya, tetapi pikiran menjadi filter mana yang menjadi makna, dengan dokumen dapat kita simpan untuk kapan saja dimana saja. Bentangan alam tak terhingga, bahkan kita sendiri yang membatasi sampai mana kita harus mengeksplorasi.
Geografi dan bumi antariksa adalah salah satu disiplin ilmu untuk membimbing kita bagaimana menelusuri alam semesta secara reel bahkan google earth membantu mempermudah melihatnya.
Apakah ini disebut dengan dokumen? Jelas dari peta datar kemudian globe kini seperti nyata di aplikasi kita tinggal zoom in atau zoom out dapat melihat bumi ini sampai pulau bahkan jalan depan rumah kita pun tampak detail.
Hari ini dokumen digital tidak bisa lagi menjadi cadangan sederhana dari dokumen kertas. Mata kita semakin lihai melihat mana yang masih terjadi atau telah lama ditinggalkan, bahkan arsip yang lengkap memberikan kita ruang untuk menganalisis apa yang akan terjadi esok dan kemungkinan masa depan.
Kemampuan mata kita menangkap seluruh alam, gejala yang menjadi fakta, bahkan statistik trend sangat membantu. Bayangkan aplikasi googletrend yang reeltime memberi bandingan dari apa yang kita masukkan sebagai input data.
Jadi jelas kemajuan ilmu pengetahuan telah memberi informasi tentang alam yang sangat luas, dan kini seakan mata kita yang terbatas untuk melihat dan memanfaatkannya.
Fabrice Papy mengajak kita melakukan transformasi dokumen dengan alur yang jelas. Di mana dahulu kita hanya dapat melihat kemudian memikirkan, kemudian kita lihat kita tulis untuk dicatat sebagai warisan, kini dapat kita potret dari sudut mana saja, bahkan kapan saja.
Tetapi sekali lagi pikiran perlu menjadi pengendali dari seluruh kegiatan tersebut, maka menghubungkan antar pengetahuan lama dan kini untuk masa depan, kemudian tempat sana, tempat sini dan tempat lainnya perlu tujuan yang jelas. Tujuan itu tidak lain adalah untuk peradaban yang diawali dari pemaknaan seluruh alam dan kehidupan nyata lewat dokumen.
Maka penegasan Papy sekali lagi dokumen digital harus dinavigasi dengan bantuan tautan internal serta tautan yang dibuat di antara berbagai dokumen. Teknik ini lebih jauh dari sistem referensi yang digunakan dalam dokumen kertas.
Sampai kita pada satu era di mana abad informasi adalah segala-galanya tentang mengetahui apa saja di mana saja. Big data atau kebanjiran informasi berupa data harus dikendalikan dengan arif dan bijaksana demi kehidupan yang lebih baik. Sampai pada kegiatan belajar atau perkuliahan pun kita dapat mengambil manfaat dari era ini.
Ini adalah filosofi yang mencakup rute alternatif dan memungkinkan personalisasi urutan pembacaan informasi, tergantung pada reaksi publik (misalnya kuliah terbuka) atau pengaturan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Akhirnya kini kita menyadari kenyataannya alam itu memang ada dalam pikiran kita, dan mata kita telah memiliki alat bantu lewat teknologi salah satunya aplikasi google dengan berbagai platform.
Tetapi ingat pikiran dan kebijaksanaan adalah panglima dalam mengeksplorasi, mengidentifikasi untuk menemukan makna. Ingin tetap memaksimalkan belajar dengan kertas atau beralih ke era digital yang menjanjikan hijaunya hutan demi masa depan generasi yang lebih baik.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















