Jabatan profesor yang menghuni jenjang fungsional tertinggi akan menambah jarak sosial dalam berinteraksi. Ujungnya adalah budaya feodalisme gaya baru yang mewujud dalam beragam bentuk di lapangan. (Fathul Wahid, 2025:34).
Akhir dari kehidupan adalah kematian, walaupun penuh dengan perjuangan, drama, bahkan berbagai persoalan selalu menjadi halaman dari sebuah riwayat siapa saja di muka bumi ini. Setiap perjalanan ada ujungnya, walau diperbanyak stasiun tetapi akhir pasti ditemui.
Begitu juga dengan jabatan atau jenjang kepangkatan ada awal mulai meniti karier, ada pula sedang dalam perjuangan agar terhindar dari bahayanya persimpangan, namun yang pasti berujung pada batas kemampuan.
Guru besar adalah satu stasiun bahwa seorang pendidik dapat melampaui beberapa stasiun yang dilalui lewat berbagai persyaratan. Karena sibuk dengan kriteria kadang kala lupa bahkan tak ada waktu untuk memikirkan ada jalan yang harus dilalui, diluruskan, dan bahkan dirawat sebagai bagian dari perjalanan.
Gambaran seorang guru besar yang telah mendapatkan gelar profesor, seakan menjadi hambar bila dilihat dari semangat perjalanan normalnya para pendidik.
Fathul Wahid mencermati bahwa guru besar adalah jabatan tertinggi, namun ketinggiannya kadang justru jadi masalah. Masalah selalu berakar dari proses bagaimana perjalanan yang dilalui untuk mendapatkannya.
Dalam hal ini beliau memberi catatan bahwa dengan menghidupkan kembali semangat kolegialitas, jarak kuasa sesama kolega akan semakin dekat. Kampus akhirnya dapat menjadi salah satu tempat yang paling demokratis. Para dosen menempatkan diri sebagai kolega intelektual yang mempunyai kedaulatan dalam berpikir dan menyatakan pendapatnya.
Dari persoalan guru besar, kampus dan semangat keilmuan sebagai sebuah perjalanan dapat kita catat empat hal penting yakni sebagai berikut:
Pertama, semangat meneliti. Penelitian adalah aras keilmuan mengetahui menangkap fenomena disekitar kehidupan adalah penting, bukan saja menjadi peneliti utama, tetapi berpartisipasi terhadap penelitian orang lain itu adalah penting. Bayangkan seorang guru besar yang tidak mau mengisi google form penelitian orang lain, mungkin sepele tetapi itulah bayangan dirinya tentang dunia penelitian. Satu lagi penelitian tidak mesti menggunakan paltform bantuan atau hibah, tetapi penelitian mandiri itu mungkin lebih utama karena didasarkan kebutuhan dan semangat mencari pemecahan masalah, dan bermakna.
Kedua, semangat publikasi. Pemikiran boleh jadi adalah konsumsi untuk kalangan tertentu, tetapi pada bagian lain adalah untuk solusi bagi masyarakat yang lebih luas. Kemampuan berkomunikasi seorang guru besar sangat diharapkan apakah dengan lisan, tulisan maupun lewat forum yang legal. Menulis itu bisa saja di media sosial, jurnal, buku, majalah atau apapun, tanda bahwa menyampaikan sesuatu kepada publik menjadi bagian dari tanggung jawab.
Ketiga, semangat komunitas. Bicara tanpa panggung, menulis tanpa media, sama halnya dengan guru besar tanpa komunitas. Bukan tidak mungkin guru besar berhenti berkarya tanpa ide, gagasan apalagi inovasi untuk solusi bagi negeri, alasannya sederhana sibuk mengajar, atau bahkan terjebak dengan jabatan struktural. Perlindungan administrasi kampus justru kadang mengebiri makna guru besar yang harus lebih dari sekadar jabatan fungsional. Intinya guru besar yang memiliki komunitas apakah dari sisi keilmuan lewat asosiasi, atau organisasi kemasyarakatan bahkan media sosial itu penting.
Keempat, semangat parental. Aras utama ilmuan itu ada dua yakni bersandar pada spritual secara vertikal, dan beraktivitas pada masyarakat secara horizontal. Guru besar adalah ilmuan yang memiliki kekuatan ilmu lewat sanad yang tercatat, absah bahkan legal. Tetapi bila dipelihara dan diteruskan lewat semangat menjujung tinggi tatih atau petuah gurunya, kemudian menurunkan kepada murid-muridnya. Begitu juga guru besar adalah ilmuan yang memberi solutif terhadap masalah kehidupan nyata. Tetapi kadang karena terlalu teoretik apalagi terjebak dengan standar penelitian dan publikasi akhirnya masalah di kelas tidak dipedulikan.
Kita berharap guru besar bukan hanya sekedar jabatan untuk disebut-sebut dalam setiap awal pertemuan, tetapi berkarya dalam berbagai skala. Meneliti, mendengar, menulis, menyampaikan kapan saja, dimana saja dan bila perlu untuk siapa saja. Guru besar itu di kelas, di kampus dan di masyarakat, tidak ada yang feodal bila kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari masalah tentang dunia pendidikan yang terus membutuhkan. Jangan malu untuk bertanya, apalagi bergabung dengan komunitas, diskusi dan sadar akan tanggung jawab adalah praktik baik yang dapat dilakukan oleh siapa saja.
Hem….guru besar, profesor lebih ramai cerita perjalanan mendapatkannya diberbagai media dari pada karya dan pengabdian yang ada di kampus apalagi untuk negara.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















