Media merupakan alat mengajar dan belajar. Peralatan ini harus tersedia ketika dan dimana ia dibutuhkan untuk memenuhi keperluan siswa dan guru yang harus menggunakannya. Agar kebutuhan yang beragam dari kurikulum dan siswa secara individual dapat dipenuhi, maka suatu variasi yang luas dan jumlah yang besar dari media memang diperlukan. (Wilkinson,1984:58).
Bayangkan seorang guru mengajar dengan membawa tiga buah kapur tulis, satu batang rotan, ia pun masuk kelas duduk. Semua siswa diam, siap menerima pelajaran, tidak ada yang berani menyapa apalagi berbasa-basi, semua berjalan normal dan guru pun mengakhiri kegiatan mengajar dengan memberi salam. Semua anak diam dan keluar satu-persatu pulang dan besok siap untuk belajar lagi.
Itulah gambaran suasana kelas era 1960-an sampai 1970-an, guru adalah satu satunya sumber pembelajaran, sebelum ia hadir, semua murid telah siap di kelas, sampai ia keluar kelas, murid tak satupun berani keluar.
Namun generasi yang dihasilkannya adalah mereka yang sekarang memimpin negeri ini, memimpin institusi pendidikan, lembaga pemerintah, nonpemerintah dan seterusnya.
Jauh dari kata media, apalagi teknologi pendidikan, yang dikenal guru adalah alat-alat pelajaran, seperti kapur tulis dan rotan serta diri guru itu sendiri. Kapur tulis adalah simbol pelajaran zaman dulu setelah era batu tulis.
Kapur tulis dapat menuliskan apa saja yang ada dalam pikiran guru, baik itu perintah, larangan maupun materi yang ada di dunia ini dapat diciptakan atau dihadirkan di kelas.
Rotan adalah alat yang memberikan kesan untuk pendidikan, setiap perintah terlebih larangan biasanya diiringi dengan hentakan satu kali pukul rotan apakah itu ke meja, kadang juga ke ujung kuku jari murid.
Mengapa mesti menggunakan rotan, sesungguhnya lebih terkesan pada upaya guru memberikan perhatian yang lebih dimana sesuatu boleh dilakukan, tetapi murid harus menjaga banyak hal harus tidak dilakukan.
Belajar itu perlu, tetapi menganggu orang belajar itu sangat tabu, belajar dengan tenang itu penting, tetapi menganggu ketenangan orang belajar itu sangat tidak baik.
Satu kali hafal terhadap apa yang dipelajari itu perintah dan harus dilakukan serta dikuasai, kesalahan sedikit pun tidak termaafkan. Rotan adalah media untuk menghantarkan seluruh proses belajar yang dialami oleh murid.
Guru hadir ke kelas, tanpa buku, tanpa notebook, apalagi jaringan internet, ia bukan tipe orang yang percaya diri, tetapi pada dirinyalah pendidik, pengajar dan pembina.
Ia melakukan pendidikan lewat tingkah laku yang diperagakan dalam kehidupan sehari-hari, dengan menyampaikan ilmu lewat kapur tulis ia tumpahkan seluruh isi kepalanya tanpa ragu dan tak perlu disangsikan sumbernya, dan akhirnya ia membina seluruh murid baik yang pintar, sedang maupun lemah.
Pada diri guru itu sendirilah media, karena ia adalah prototipe manusia yang pintar, baik dan terampil.
Sesungguhnya makna pendidikan dan pembelajaran sebagai sebuah proses transfer of value membutuhkan media untuk melakukannya. Media dimaksud adalah untuk membantu agar pelaksanaan transfer dapat berjalan efektif, efisien tentu untuk mencapai tujuan.
Bila pendidikan diperagakan oleh orang terdidik maka hasilnya beda dengan tanpa pendidik, bila pengajaran dilakukan oleh sembarangan orang, maka murid akan kehilangan teladan.
Untuk itu, kekuatan pendidik sebagai media pembelajaran itu sangat penting bila nilai serta keterampilan yang akan dituju dalam pendidikan.
Hari ini peralatan pendidikan telah berubah lebih dari yang kita bayangkan, bahkan kehadiran guru kadang sudah tidak dibutuhkan, tetapi murid tetap dianggap belajar karena didampingi oleh alat, media dan teknologi.
Kita sesungguhnya khawatir, bila ini terus berlangsung, karena mengejar efektif dan efisien tetapi justru kita akan kehilangan nilai dari arti sesungguhnya apa itu pendidikan.
Peralatan memang harus disiapkan dalam pendidikan, peralatan dalam hal ini tentu jangan hanya diartikan benda atau media saja, tetapi sesuatu yang memberikan bantuan kepada murid bagaimana ia dapat memperoleh pengetahuan secara utuh.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















