Belajar di madrasah akan mendapatkan dua kebaikan bukan hanya keterampilan di dunia, tetapi keberkahan menuju akhirat yang lebih kekal. (Harunsyah, 1983).
Sekolah sampai kuliah adalah biasa, tetapi itu masih menjadi hal yang langka bagi sebagian penduduk desa era tahun 1970-an bahkan 1980-an.
Pada era Orde Lama memang Pemerintah Republik Indonesia telah mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk membangun sebuah bangsa.
Namun era Orde Baru hal ini lebih masif dilakukan dengan disediakannya sarana seperti sekolah inpres, bahkan sampai sekolah lanjutan yang dinegerikan.
Sekolah era tahun 1980-an hampir menjamur di mana-mana tidak ada alasan untuk tidak menyekolahkan anak bagi penduduk desa sampai kota. Seiring dengan itu, kesadaran yang ditunjukkan menjadi partisipasi masyarakat mendirikan sekolah swasta adalah sebuah pilihan masyarakat.
Di sinilah inisiatif berubah menjadi satu semangat bahkan karya nyata dilakukan oleh seorang pegawai Departemen Agama saat itu, Harunsyah BA.
Karyanya mendirikan madrasah yang dikenal dengan Madrasah Menengah Pertama atau MMP. Kemudian Madrasah Menengah Atas atau MMA menjadi ciri tersendiri di masyarakat desa.
Di saat sebagian orang berlomba menyekolahkan anak ke sekolah umum, bahkan sebagian berangkat ke kota untuk melanjutkan studi yang lebih bergaya, justru kehadiran madrasah mendapat simpati dari kalangan menengah ke bawah.
Mendirikan madrasah benar bukan sekadar sadar akan program mencerdaskan anak bangsa, alih-alih menjadi madrasah elit, tetapi mengangkat kesadaran bahwa pendidikan itu perlu.
Kita masih ingat bagaimana Harunsyah, memberi semangat kepada para siswa di awal pelajaran dengan tiga kalimat penting yakni;
Sekolah agar tidak mudah ditipu orang lain.
Sekolah agar tidak menipu orang lain.
Sekolah agar mampu menolong orang lain tidak tertipu oleh mereka yang menjadi penipu di belakangmu.
Kini, Harunsyah telah tiada, tetapi karya berupa lembaga pendidikan menjadi warisan yang tiada henti mencetak sumber daya manusia.
Ratusan bahkan ribuan abituren telah memberi kontribusi terhadap pembangunan anak bangsa.
Membangun madrasah walau dari sudut desa bila niat telah ditambatkan, ternyata benar sekolah di madrasah itu mendapat dua mungkin tiga kebaikan, di dunia, di akhirat, bahkan keduanya.
Kita setuju “Dengan Kolaborasi Kita Bangun Negeri, Lewat Pendidikan Kita Bersinergi”


















