Al-Qur`an adalah kitab yang ditujukan kepada manusia di segala usia, sebuah kitab yang berisi semua subjek dasar yang dibutuhkan setiap orang sepanjang hidup mereka, lelaki atau perempuan. Bentuk-bentuk ibadah, pola pikir unik bagi setiap muslim, akhlaq terpuji, perilaku mulia yang harus tampak di wajah saat menghadapi setiap kejadian tak terduga atau pada saat-saat menghadapi kesulitan, pola hidup yang membimbing jiwa dan raga demi hidup sehat, peristiwa kematian, peristiwa di saat roh melalui hari perhitungan, lalu surga dan neraka menanti semua manusia. (Harun Yahya, 2003).
Manusia, Al Qur`an dan Tuhan adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan dalam konteks hidup beragama. Manusia dengan ilmu pengetahuan ia mengenal dirinya, kemudian dengan kemampuan memahami ia mempercayai Al Qur`an, dan akhirnya dengan kesungguhan menyadari ia meyakini ada Tuhan.
Kehadiran manusia di dalam kajian Al Qur`an kemudian kehendak Tuhan dalam Al Qur`an memberi inspirasi baru bagaimana hidup dan kehidupan ini. Satu persatu Harun Yahya mencoba memberikan makna tersebut.
Pertama; sebagai sumber yang khas bagi semua jawaban dan penjelasan yang mungkin orang pertanyakan tentang keselamatan abadi, Al-Qur`an juga mengandung banyak isyarat dan peringatan penting bagi kehidupan manusia.
Kedua, Allah menciptakan manusia dan menyampaikan—melalui Al-Qur`an—jalan keluar paling tepat serta semua bentuk informasi yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dalam kebaikan kepada semua orang. Karena itu, bila menghadapi kesulitan, sungguh penting bagi mereka yang beriman untuk merujuk pada ayat-ayatnya dan penerapan atas tinjauannya. Tak soal apa latar belakang intelektualitas yang dimiliki seseorang, pengetahuannya tetap saja terbatas, sebab hanya Allah satu-satunya yang melebihi semua makhluk.
Ketiga, manusia dapat meraih ilmu pengetahuan hanya dengan perkenan dan kehendak Sang Maha Pencipta. Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’” (al-Baqarah [2]: 32) Dengan mengacu pada ayat-ayat ini, mereka yang ingin menelusuri satu kehidupan nan indah di dunia hendaklah melekatkan diri pada prinsip-prinsip Al-Qur`an. Dengan berbuat demikian, mereka akan meraih “kearifan”, satu kualitas yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa ingat dan takut kepada Allah. Kearifan (kebijaksanaan) inilah yang memungkinkan mereka memperoleh kehidupan paling terhormat, merasakan bahagia dan damai, dan—yang paling penting—meraih tujuan mulia atas keberadaan mereka di bumi. Yang harus mereka lakukan adalah berserah diri kepada Allah dan Al-Qur`an; menekuni dan meneliti perintah-perintah dan nasihatnya, mencermati maksudnya, dan mengamalkannya
Keempat, Al-Qur`an menjelaskan kepada kita tentang latar belakang kehadiran umat manusia di muka bumi dan bagaimana seharusnya mereka hidup, sehingga kehidupan itu sesuai dengan maksud penciptaan tersebut. Al-Qur`an menjelaskan kewajiban kita kepada Allah dan bagaimana kita akan diberi pahala sesuai dengan amal perbuatan kita. Al-Qur`an—Kitab yang Allah turunkan kepada hamba-hamba-Nya yang mengabdi dengan kasih sayang—menyeru kita pada keindahan, kebenaran, kesucian, dan kebahagiaan abadi.
Kelima, kualitas kesempurnaan Al-Qur`an ini terdapat dalam banyak ayat, “Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf [12]: 111)
Harun Yahya telah lama mencoba mengembangkan kreasi dengan ilmu pengetahuan meneruskan pesan-pesan Al Qur`an lebih modern tetapi tetap manusiawi.
Kreativitas dalam mengembangkan media pemahaman apakah lewat video bernaratif maupun mengunggah kenyataan terkait firman sungguh luar biasa. Inilah bukti nyata bahwa manusia yang berkembang, Al Qur`an yang terus dibutuhkan oleh zaman, mendapat keberkahan dari Tuhan.
Harun Yahya adalah salah seorang tokoh kreasi tentang kemasan Al Qur`an, karya beliau tidak sekadar hobi untuk tontonan anak tetapi adalah warisan peradaban yang pantas kita lestarikan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















