Praktisi Accelerate Learning menginginkan agar pembelajar mengalami kegembiraan belajar, bukan berarti suasana ribut dan hura-hura, tetapi bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri sipembelajar. Dengan kegembiraan akan melahirkan sesuatu yang baru, dan itu lebih penting dari teknik dan metode apapun yang kita gunakan. (Deve Meirer,2002:36).
Belajar adalah sebuah aktivitas, dilakukan oleh siapa, dimana, kapan, sangat menentukan bagaimana belajar itu dilakukan. Belajar yang dilakukan oleh anak tentu berbeda dengan belajar yang dilakukan oleh orang dewasa, maka siapa yang belajar sangat penting bagi pertimbangan bagaimana belajar itu dilakukan.
Begitu juga belajar dilakukan dimana, apakah di rumah, di taman, atau di sekolah, ditempat kerja, semuanya memiliki implikasi terhadap suasana yang memberi kemudahan untuk memperoleh hasil belajar.
Sampai akhirnya belajar itu kapan harus dilakukan, apakah sejak anak seusia dini, ketika remaja, dewasa, ini akan berbeda pula dengan makna belajar terkait dengan waktu, apakah belajar di pagi hari, siang, sore atau malam hari.
Betapa pentingnya pertimbangan ketika kita akan menetapkan bagaimana belajar itu dilakukan, dikembangkan dan diberikan kepada seseorang. Apabila kita putuskan bahwa seorang anak yang belajar dengan pilihan belajar di taman, kemudian ia belajar pada saat pagi hari, mungkin ini adalah pilihan yang tepat.
Tetapi sebagian dari kita ada yang belajar ketika ia sudah dewasa bahkan setelah atau sambil bekerja, belajarnya pun di kantor atau di bengkel workshop, sampai malam hari. Itupun tidak menjadi alasan orang untuk mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan yang memang diperlukan.
Belajar dengan pertimbangan tiga hal di atas memang begitu penting, siapa, dimana dan kapan semua diharapkan menjadi tolok ukur cara merancang pembelajaran. Kita berharap keterlibatan penuh dan terciptanya makna, pemahaman, nilai yang membahagiakan pada diri sipembelajar.
Hal ini akan terjadi bila siapa saja yang belajar dengan suka rela ia menerima tempat dimana ia harus belajar. Tidak semua orang nyaman dengan suasana yang telah ditempatkan sebagai sekolah, tetapi justru sebagian orang menjadikan semua tempat adalah sekolah.
Artinya belajar di manapun akan menjadikan kita akan mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan tidak banyak orang tidak bisa belajar ketika melewat batas jam atau waktu istirahat siang, namun sebagian saudara kita justru memulai belajar di sore dan bahkan malam hari untuk mendapatkan les tambahan.
Justru les ini yang menghantarkan anak lulus di perguruan tinggi tertentu. Suasana dari waktu yang tersedia, bila dimaknai sebagai waktu yang baik, maka akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Belajar memang tidak mengenal siapa, dimana dan kapan harus dilakukan, inilah salah satu bukti bahwa belajar itu memang bagian dari kebutuhan manusia.
Apabila kita menerimanya dengan baik, dalam persepsi kita maka belajar pun akan mendapatkan hasil yang baik. Maka benarlah bila dinyatakan dengan kegembiraan akan melahirkan sesuatu yang baru, dan itu lebih penting dari teknik dan metode apapun yang kita gunakan.
Setiap orang berbeda cara belajarnya, maka ia dapat mendapatkan sendiri formula dari persoalan dimana dan kapan ia haru belajar.
Setiap orang akan berbeda pula cara menikmati belajarnya dimana ia harus membaca, menulis atau mendapatkan pengalaman baru. Itulah belajar, kapan saja dimana saja selagi ia membutuhkan di saat itu pula belajar dapat menyertakan.
Dengan menikmati belajar tersebut, maka kita akan memperoleh kegembiraan, kenyamanan, dan kenikmatan, karena dari sinilah timbul apa yang disebut belajar bermakna.
Gonta ganti cara belajar itu biasa, menikmati perubahan cara belajar itulah sesungguhnya gaya belajar kita.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















