Newsroom adalah bagian terpenting dari sebuah stasiun televisi, karena di sinilah diproduksi berita yang menjadi andalan dari sebuah stasiun televisi. Kebutuhan penonton akan informasi yang lebih aktual, akurat, dan komprehensif dari sebuah stasiun televisi sama tingginya dengan kebutuhan hiburan. Berita menjadi komoditas yang paling penting, sehingga pertarungan dalam news organization untuk mendapatkan penonton terbanyak melalui materi produk berita sangat kompetitif. Suasana ini merangsang timbulnya budaya organisasi (organizational culture) yang berbeda di setiap newsroom, yang dipengaruhi setidaknya oleh kontekstasi profesional di newsroom dan kepentingan pemilik modal. (Ishadi SK, 2014:41).
Setiap kita ingin mengetahui banyak hal, bahkan lebih dahulu bila perlu, sampai bagaimana sesuatu hanya kita yang tahu. Apakah mengetahui sendiri, dianggap lebih baik dari orang lain, belum tentu, boleh jadi mengetahui banyak hal tapi tak berguna, atau justru semua hanya sampah.
Pengetahuan itu bukan persoalan banyak, bukan siapa lebih dulu, apalagi memiliki otoritas tentangnya, tetapi adalah bagaimana mengelola pengetahuan menjadi bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang dimuka bumi ini.
Media televisi menyadari bahwa semua pemirsa ingin mengetahui tetapi tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kemasan pengetahuan lewat berita harus didukung oleh tiga hal utama yakni aktual, akurat dan komprehensif.
Ishadi SK sebagai orang yang lama bergelut dengan pertelevisian di Indonesia menyadari betapa pentingnya manajemen pengelolaan penyiaran televisi ini.
Menurut beliau tiga hal di atas perlu diperhatikan yakni;
Pertama; aktual yakni setiap saat semua kejadian selalu berlangsung, dimanapun di seantero jagad raya ini, bahkan mungkin di sekeliling kita sendiri. Bagaimana semua kejadian itu dapat dijadikan hal yang aktual tentu terkait dengan apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Menyajikan hal biasa menjadi berita luar biasa itu perlu keterampilan khusus bagi para jurnalis.
Kedua, akurat tidak boleh sembarangan mendapatkan berita yang sedang diburu. Sumber utama harus menjadi prioritas, bahkan dari tangan pertama tentang apa yang akan kita tulis. Cek and recek selalu menjadi prinsip dalam merilis satu berita, karena sedikit saja kesalahan akibatnya akan menjadi bumerang yang berkepanjangan.
Ketiga, komprehensif, dalam hal ini mengajak kita untuk memahami sesuatu harus dari berbagai sudut pandang bahkan melalui thesa, antithesa agar memperoleh seluruh gambaran dari obyek diberitakan. Pandangan kontroversi tidak mesti kita terima dengan alergi, tetapi justru melengkapi berita agar lebih lengkap dan di sanalah yang dimaksud dengan komprehensif.
Ishadi SK dari pengalamannya mencoba memberikan catatan tentang televisi terkait dengan banyak hal. Beliau mengumpulkan berbagai hal untuk sebuah buku yang bukan saja memberikan banyak fakta historis seputar peran media dalam proses transisi politik dan ekonomi pada tahun 1998.
Buku tersebut akhirnya mampu menunjukkan bagaimana newsroom dapat menjadi sebuah fokus terjadinya tarik-menarik antara jurnalis dengan pemilik media. Inilah bagian penting dari sebuah berita, betapa tidak realitas hubungan agensi dan struktur dalam newsroom tersebut masih sangat relevan hingga saat ini.
Hari televisi yang diperingati setiap 24 Agustus tentu memberikan kilas balik kepada kita bahwa masih banyak yang perlu didiskusikan. Masyarakat tetap butuh berita yang aktual, akurat dan komprehensif, tetapi pemilik modal butuh benefit, itulah yang terjadi di dunia pertelevisian kita saat ini.
Walau teknologi mempermudah mendapatkan berita, bahkan seakan kendali pada pemirsa, bayangkan setiap orang bisa jadi penulis berita, setiap pemegang gadget boleh saja menyampaikan kepada siapa saja di muka bumi ini. Tetapi justru tantangannya pada etika, ternyata tidak semua televisi memiliki sisi kuat terhadap visinya sebagai penyampai berita.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















